MERBABU.COM Pendakian Gunung Merapi Merbabu Jawa Tengah
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI

Perjalanan ke Gunung Bromo dari Ranu Pani, dapat menjadi menarik dan penuh tantangan bagi seorang pendaki berpengalaman sekalipun. Terutama setelah selesai mendaki Gunung Semeru.

Dari Kota Malang menuju Tumpang dengan angkutan umum, disambung dengan mobil JIP atau Truck Sayuran menuju desa Ranu Pani. Di Ranu Pani terdapat Pos pendakian dan dua buah danau (ranu) yang sangat indah, yakni Ranu Pani dan Ranu Regulo disebelah bawah. Disini terdapat beberapa warung dan penginapan yang sangat sederhana. Desa Ranu Pani masuk dalam wilayah kabupaten Lumajang, bisa juga ditempuh dari kota Lumajang.

Perjalanan sebaiknya dilakukan pagi-pagi, dengan berjalan kaki menuju Pos jalan pintas yang berada di ujung desa Ranu Pani menuju Gunung Bromo. Setelah menginap selama satu malam di Pos Jaga Pendakian, Tim Skrekanek yang telah menyelesaikan pendakian Gunung Semeru, bergegas memulai perjalanan ke Gunung Bromo.

Perjalanan dapat dilakukan dengan menyewa JIP dari desa Ranu Pani atau desa Jemplang dengan tarip Rp.500.000,- lama perjalanan 2 jam, atau memilih berjalan kaki dengan jarak tempuh sekitar 4 Jam sejauh 12 Km.

Bila hendak melakukan perjalanan ke gunung Bromo dengan berjalan kaki , Perjalanan sangat berbahaya bila dilakukan sore atau malam hari, karena jalanan tidak terlihat dan konon terdapat anjing liar (ajag) yang dapat menyerang kita setiap saat, sebaiknya membawa tongkat.

Setelah sampai di batas akhir desa Ranu Pani terdapat Pos istirahat yang berada diatas bukit, tampak pemandangan yang sangat indah kebawah bukit, terlihat jalur yang menuju Gunung Bromo.

Perjalanan dilanjutkan dengan menuruni bukit yang sangat curam, kita perlu berhati-hati karena selain jalurnya sempit juga tertutup oleh semak-semak yang tinggi. Bukit ini sangat terjal dan memanjang mengelilingi kompleks gunung Bromo, dengan ketinggian antara 200-600 meter, dan bergaris tengah 8-10 km, membentuk kaldera.

Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera antara lain; Gn. Bromo (2.392m) Gn. Batok (2.470m) Gn.Kursi (2,581m) Gn. Watangan (2.662m) dan Gn. Widodaren (2.650m).

Sesampai di bawah bukit pendaki akan disambut oleh padang rumput yang cukup tinggi. Padang rumput ini sangat luas dan memanjang menuju ke Gunung Bromo, diapit oleh bukit dikedua sisinya, memantulkan suara angin sehingga terdengar agak menakutkan.

Perjalanan bertambah berat dengan melewati lautan pasir, matahari tepat berada diatas kepala terasa sangat membakar kulit. Berbeda dengan angin di padang rumput yang terasa panas, udara di padang pasir terasa dingin.

Jalur Jip yang semula terlihat dipadang rumput akan menghilang ketika ditiup angin, terpaksa Tim Skrekanek memperkirakan sendiri jalan yang harus ditempuh. Beruntung sekali tidak ada awan atau kabut sehingga arah jalur dapat diperkirakan.

Semakin menapak ke lautan pasir kaki terasa agak berat melangkah, jalan yang ditempuh adalah mengeliling gunung bromo dari belakang, sehingga agak membingungkan. Sewaktu-waktu bisa muncul badai yang agak besar.

Sesampainya di sisi Timur Gunung Bromo, tampak jalur menuju puncak gunung Bromo melewati jalur yang sangat sempit dan berliku-liku. Menuju puncak Gunung Bromo di tengah hari yang sangat panas cukup melelahkan. Jalurnya naik turun dan bisa longsor sehingga perlu berhati-hati. Mendekati puncak bromo sudah tercium bau belerang.

Dari puncak bromo tampak kawah Gunung Bromo yang masih aktif , di dasar kawah terlihat warna keemasan belerang dan kepulan asap putih yang menjulang ke atas, menyebarkan bau belerang.

Untuk naik atau menuruni Puncak gunung Bromo pendaki bisa memilih melewati jalan setapak yang dibangun dari semen, dan mencoba menghitung jumlah anak tangga. Di bawah anak tangga sudah menunggu beberapa kuda untuk disewakan.

Di bawah kaki Gunung Bromo terdapat sebuah pura untuk mengadakan upacara adat dan keagamaan. Di gunung Widodaren terdapat sebuah gua dengan batu besar di dalamnya sebagai tempat orang bersemedi dan sebagai tempat untuk menyimpan sesajen. Di dalam gua ini mengalir mata air yang tidak pernah kering yang dianggap sebagai "Tirta Suci".

 

Mount Bromo (Indonesian: Gunung Bromo), is an active volcano and part of the Tengger massif, in East Java, Indonesia. At 2,329 metres (7,641 ft) it is not the highest peak of the massif, but is the most well known. The massif area is one of the most visited tourist attractions in East Java, Indonesia. The volcano belongs to the Bromo Tengger Semeru National Park. The name of Bromo derived from Javanese pronunciation of Brahma, the Hindu creator god.

Mount Bromo sits in the middle of a vast plain called the "Sea of Sand" (Javanese: Segara Wedi or Indonesian: Lautan Pasir), a protected nature reserve since 1919. The typical way to visit Mount Bromo is from the nearby mountain village of Cemoro Lawang. From there it is possible to walk to the volcano in about 45 minutes, but it is also possible to take an organised jeep tour, which includes a stop at the viewpoint on Mount Penanjakan (2,770 m or 9,088 ft) (Indonesian: Gunung Penanjakan). The best views from Mount Bromo to the Sand Sea below and the surrounding volcanoes are at sunrise. The viewpoint on Mount Penanjakan can also be reached on foot in about two hours. From inside the caldera, sulfur is collected by workers.

On the fourteenth day of the Hindu festival of Yadnya Kasada, the Tenggerese people of Probolinggo, East Java, travel up the mountain in order to make offerings of fruit, rice, vegetables, flowers and sacrifices of livestock to the mountain gods by throwing them into the caldera of the volcano. The origin of the ritual lies in the 15th century legend where a princess named Roro Anteng started the principality of Tengger with her husband, Joko Seger. The couple were childless and therefore beseeched the assistance of the mountain gods. The gods granted them 24 children but stipulated that the 25th child, named Kesuma, must be thrown into the volcano as human sacrifice. The gods' request was implemented. The tradition of throwing sacrifices into the volcano to appease these ancient deities continues today and called Yadnya Kasada ceremony. Though fraught with danger, some locals risk climbing down into the crater in an attempt to recollect the sacrificed goods that believed could bring them good luck.

On the Segara Wedi sand plain sits a Hindu temple called Pura Luhur Poten. The temple holds a significant importance to the Tenggerese scatter across the mountainous villages such as Ngadisari, Wonokitri, Ngadas, Argosari, Ranu Prani, Ledok Ombo and Wonokerso. The temple organized annual Yadnya Kasada ceremony which lasts for about one month. On the 14th day, the Tenggerese will congregate at Pura Luhur Poten to ask for blessings from Ida Sang Hyang Widi Wasa and God of Mahameru (Mount Semeru). Then the mass will proceed along the crater edges of Mt Bromo where offerings will be thrown into the crater. The major difference between this temple with the Balinese ones are the type of stones and building materials. Pura Luhur Poten uses natural black stones from volcanoes nearby, while Balinese temples mostly made from red bricks. Inside this pura, there are several buildings and enclosures aligned in Mandala zone composition

 

Anjing liar asli jawa yakni anjing "Ajag" masih terdapat di pegunungan Tengger.

Di sekitar Gn. Pananjakan, tinggal seorang pertapa mempunyai seorang anak laki-laki yang dinamai Joko Seger, yang artinya Joko yang sehat dan kuat. Pada waktu itu ada seorang anak perempuan yang wajahnya cantik dan elok. Bayi itu begitu tenang, lahir tanpa menangis dari rahim ibunya. Maka oleh orang tuanya, bayi itu dinamai Rara Anteng. Ketika sudah dewasa Rara Anteng sudah terpikat hatinya kepada Joko Seger.

Suatu hari Rara Anteng dipinang oleh seorang bajak yang terkenal sakti, kuat dan sangat jahat. Rara Anteng tidak berani menolak begitu saja kepada pelamar yang sakti. Maka ia minta supaya dibuatkan lautan di tengah-tengah gunung dalam waktu 1 malam. Dengan permintaan yang aneh, dianggapnya pelamar sakti itu tidak akan memenuhi permintaannya.

Disanggupinya permintaan Rara Anteng tersebut. Pelamar sakti tadi memulai mengerjakan lautan dengan alat sebuah tempurung (batok kelapa) dan pekerjaan itu hampir selesai. Melihat kenyataan demikian, hati Rara Anteng mulai gelisah. Ia mencari cara untuk menggagalkan lautan yang sedang dikerjakan oleh Bajak itu?

Rara Anteng mulai menumbuk padi di tengah malam. Pelan-pelan suara tumbukan dan gesekan alu membangunkan ayam-ayam yang sedang tidur. Kokok ayam pun mulai bersahutan, seolah-olah fajar telah tiba.

Bajak mendengar ayam-ayam berkokok, tetapi benang putih disebelah timur belum juga nampak. Berarti fajar datang sebelum waktunya. Sesudah itu dia merenungi nasib sialnya. Tempurung (Batok kelapa) yang dipakai sebagai alat mengeruk pasir itu dilemparkannya dan jatuh tertelungkup di samping Gunung Bromo dan berubah menjadi sebuah gunung yang dinamakan Gunung Batok.

Rara Anteng pun akhirnya menikah dengan Joko Seger. Namun setelah beberapa lanma berumah tangga belum juga dikaruniai keturunan. Mereka naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi agar karuniai keturunan.

Tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo, Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya dan kemudian didapatkannya 25 orang putra-putri, namun naluri orang tua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya. Pendek kata pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger ingkar janji, Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita kawah Gunung Bromo menyemburkan api.

Kesuma anak bungsunya lenyap dari pandangan terjilat api dan masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib :"Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Hyang Widi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo. Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara Kasada di Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.

Banner Kanan
 
 
 
 
 

 
 
Banner Bawah

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU