MERBABU.COM Pendakian Gunung Merapi Merbabu Jawa Tengah
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI
 

Gunung Semeru adalah gunung suci kediaman para Dewa, merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 M dpl (puncak Mahameru). Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 M hingga akhir Nopember 1973. Gunung ini masuk dalam kawasan Taman nasional Bromo Tengger Semeru. Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gn.Tengger antara lain; Gn.Bromo (2.392m) Gn. Batok (2.470m) Gn.Kursi (2,581m) Gn.Watangan (2.662m) Gn.Widodaren (2.650m). Terdapat empat buah danau (ranu): Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, Ranu Darungan.

Diperlukan waktu sekitar empat hari untuk mendaki puncak gunung Semeru pulang- pergi. Sebaiknya membawa bekal untuk satu minggu karena kita akan betah berkemah, bisa jadi karena pemandangan dan suasana yang sangat indah, atau karena kecapaian setelah mendaki gunung semeru.

Untuk mendaki gunung semeru dapat ditempuh lewat kota malang atau lumajang. Dari terminal kota malang kita naik angkutan umum menuju desa Tumpang. Disambung lagi dengan Jip atau Truk Sayuran yang banyak terdapat di belakang pasar terminal Tumpang.

Sebelumnya kita mampir di Gubugklakah untuk memperoleh surat ijin, untuk umum dikenakan biaya Rp.6.500,- per orang, sedangkan untuk pelajar dan mahasiswa dikenakan biaya Rp.5.500,- per orang.

Dengan menggunakan Truk sayuran atau Jip perjalanan dimulai dari Tumpang menuju Ranu Pani desa terakhir di kaki semeru. Di sini terdapat Pos pemeriksaan, terdapat juga warung dan pondok penginapan. Pendaki juga dapat bermalam di Pos penjagaan. Di Pos Ranu Pani juga terdapat dua buah danau yakni danau (ranu) pani (1 ha) dan ranu regulo (0,75 ha). Terletak pada ketinggian 2.200 mdpl.

JALUR WATU REJENG

Bagi pendaki yang baru pertama kali mungkin akan bingung menemukan jalur pendakian, dan hanya berputar-putar di Ranu Pani, untuk itu setelah sampai di gapura selamat datang, perhatikan terus ke kiri ke arah bukit, jangan mengikuti jalanan yang lebar ke arah kebun penduduk. Selain jalur yang biasa dilewati para pendaki melewati Watu Rejeng, juga ada jalur pintas yang biasa dipakai para pendaki lokal, jalur ini sangat curam dengan melintasi Gunung Ayek-ayek.

Jalur awal yang kita lalui landai, menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan alang-alang. Tidak ada tanda penunjuk arah jalan, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100m, kita ikuti saja tanda ini. Banyak terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting diatas kepala, sehingga kita harus sering merundukkan kepala, tas keril yang tinggi sangat tidak nyaman.

Setelah berjalan ekitar 5 Km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi Edelweis, kita akan sampai di Watu Rejeng. Kita akan melihat batu terjal yang sangat indah. Kita saksikan pemandangan yang sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Kadang kala kita dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru. Untuk menuju Ranu Kumbolo kita masih harus menempuh jarak sekitar 4,5 Km.

Sebaiknya beristirahat dan mendirikan tenda apabila tiba di Ranu Kumbolo. Terdapat danau dengan air yang bersih dan memiliki pemandangan yang sangat indah terutama di pagi hari kita saksikan matahari terbit disela-sela bukit. Banyak terdapat ikan, kadang burung belibis liar. Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 m dengan luas 14 ha.

Dari Ranu Kumbolo sebaiknya menyiapkan air sebanyak mungkin. Meninggalkan Ranu Kumbolo kita mendaki bukit terjal, dengan pemandangan yang sangat indah dibelakang ke arah danau. Di depan bukit kita terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo. Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Dari balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru menyemburkan asap wedus gembel.

Selanjutnya kita memasuki hutan Cemara dimana kadang-kadang kita jumpai burung dan kijang. Banyak terdapat pohon tumbang sehingga kita harus melangkahi atau menaikinya. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang.

Pos Kalimati berada pada ketinggian 2.700 m, disini kita dapat mendirikan tenda untuk beristirahat dan mempersiapkan fisik. Kemudian meneruskan pendakian pada pagi-pagi sekali pukul 24.00. Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga banyak tersedia ranting untuk membuat api unggun.

Terdapat mata air Sumber Mani, ke arah barat (kanan) menelusuri pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh jarak 1 jam pulang pergi. Di Kalimati dan di Arcopodo banyak terdapat tikus gunung bila kita mendirikan tenda dan ingin tidur sebaiknya menyimpan makanan dalam satu tempat yang aman.

Untuk menuju Arcopodo kita berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Dapat juga kita berkemah di Arcopodo, tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Sebaiknya menggunakan kacamata dan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo berada pada ketinggian 2.900m, Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya kita akan melewati bukit pasir.

Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Semua barang bawaan sebaiknya kita tinggal di Arcopodo atau di Kalimati. Pendakian menuju puncak dilakukan pagi-pagi sekali sekitar pukul 02.00 pagi dari Arcopodo. Badan dalam kondisi segar, dan efektif dalam menggunakan air. Perjalanan pada siang hari medan yang dilalui terasa makin berat selain terasa panas juga pasir akan gembur bila terkena panas. Siang hari angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloka.

Di puncak Gunung Mahameru (Semeru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 - 10 derajad Celcius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajad Celcius, dan dijumpai kristal-kristal es. Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Angin bertiup kencang, pada bulan Desember - Januari sering ada badai.

Terjadi letusan Wedus Gembel setiap 15-30 menit pada puncak gunung Semeru yang masih aktif. Pada bulan Nopember 1997 Gn.Semeru meletus sebanyak 2990 kali. Siang hari arah angin menuju puncak, untuk itu hindari datang siang hari di puncak, karena gas beracun dan letusan mengarah ke puncak.

Letusan berupa asap putih, kelabu sampai hitam dengan tinggi letusan 300-800 meter. Materi yang keluar pada setiap letusan berupa abu, pasir, kerikil, bahkan batu-batu panas menyala yang sangat berbahaya apabila pendaki terlalu dekat. Pada awal tahun 1994 lahar panas mengaliri lereng selatan Gn.Semeru dan meminta beberapa korban jiwa, pemandangan sungai panas yang berkelok- kelok menuju ke laut ini menjadi tontonan yang sangat menarik.

Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau yaitu bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Sebaiknya tidak mendaki pada musim hujan karena sering terjadi badai dan tanah longsor.

JALUR GUNUNG AYEK-AYEK


Dari desa Ranu Pane perjalanan dimulai dengan melintasi kebun sayuran penduduk yang berupa tanaman bawang dan kol (kubis). Melintasi kawasan kebun sayuran di siang hari terasa panas dan berdebu sehingga akan lebih baik jika pendaki mengenakan kacamata dan masker penutup hidung. Ranu Pane adalah salah satu desa yang dihuni oleh masyarakat suku Tengger, selain desa Ngadas, Cemoro Lawang, Ngadisari, dll. Masyarakat Tengger hidup dengan menanam sayur-sayuran.

Di desa Ranu Pane ini air bersih diperoleh dari kran-kran yang di salurkan ke rumah penduduk di siang hari dengan volume air yang sangat kecil. Sehingga di pos pendakian Ranu Pane kadangkala tidak terdapat air bersih di siang hari, namun di malam hari air bersih di pos pendakian berlimpah karena aliran ke rumah penduduk di hentikan di malam hari.

Selanjutnya akan dijumpai sebuah pondok yang dipakai untuk keperluan penghijauan gunung Semeru. Jalur agak landai dan sedikit berdebu melintasi kawasan hutan yang didominasi oleh tanaman penghijauan berupa akasi dan cemara gunung. Jalur selanjutnya mulai menanjak curam menyusuri salah satu punggungan gunung Ayek-ayek. Di sepanjang jalur ini kadangkala dapat ditemukan jejak-jejak kaki dan kotoran binatang. Burung dan aneka satwa seringkali terlihat berada disekitar jalur ini.

Mendekati puncak gunung Ayek-Ayek pohon cemara tumbuh agak berjauhan sehingga pendaki dapat melihat ke bawah ke arah desa ranu pane. Desa Ngadas juga nampak sangat jelas. Pendaki dapat beristirahat di celah gunung untuk berlindung dari hembusan angin. Di tempat ini pendaki juga bisa melihat dinding gunung tengger yang mengelilingi gunung Bromo, kadang kala terlihat kepulan asap yang berasal dari gunung Bromo.

Setelah melintasi celah gunung yang agak licin dan berbatu pendaki harus menyusuri sisi gunung Ayek-ayek agak melingkar ke arah kanan. Di samping kiri adalah jurang terbuka yang menghadap ke bukit-bukit yang ditumbuhi rumput, bila pendakian dilakukan di siang akan terasa sangat panas. Di kejauhan kita dapat menyaksikan puncak mahameru yang bersembunyi di balik gunung Kepolo, sekali-kali nampak gunung Semeru menyemburkan asap wedus gembel.

Jalur mulai menurun tetapi perlu tetap waspada karena rawan longsor. Tumbuhan yang ada berupa rumput dan cemara yag diselingin Edelweis. Masih dalam posisi menyusuri tebing terjal sekitar 30 menit kita akan tiba di tempat yang agak datar, celah yang cukup luas pertemuan dua gunung. Di sini pendaki dapat beristirahat sejenak melepaskan lelah. Beberapa tanaman Edelweis tumbuh cukup tinggi sehingga dapat digunakan untuk berteduh dari sengatan matahari.

Setelah puas beristirahat perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri tebing terjal yang agak melingkar ke arah kiri. Tumbuhan yang ada berupa rumput yang agak rapat dan tebal, beberapa pohon cemara tumbuh agak berjauhan di sepanjang jalur. Di sepanjang jalur ini pendaki tidak bisa saling mendahului sehingga harus berjalan satu persatu. Sekitar 30 menit menyusuri tepian tebing terjal akan tampak di depan kita bukit dan padang rumput yang sangat luas.

Sampailah kita di padang rumput yang sangat luas yang disebut Pangonan Cilik. Pemandangan di pagi hari dan sore hari di tempat ini sangat indah luar biasa, kita tidak akan bosan memandangi bukit-bukit yang ditumbuhi rumput. Padang rumput ini dikelilingin tebing-tebing yang ditumbuhi pohon cemara dan edelweis. Sekitar 45 menit melintasi padang rumput selanjutnya berbelok ke arah kiri maka sampailah kita di sebuah danau yang sangat luas yang disebut danau Ranu Kumbolo.

Secara umum iklim di wilayah gunung Semeru termasuk type iklim B (Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan 927 mm - 5.498 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 136 hari/tahun dan musim hujan jatuh pada bulan Nopember - April. Suhu udara dipuncak Semeru berkisar antara 0 - 4 derajat celcius.

Flora yang berada di Wilayah Gunung Semeru beraneka ragam jenisnya tetapi banyak didominir oleh pohon cemara, Akasia, Pinus, dan jenis Jamuju. Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominir oleh Kirinyuh, Alang - alang, Tembelekan, Harendong dan Edelwiss putin, Edelwiss yang banyak terdapat di lereng-lereng menuju Puncak Semeru. Dan juga ditemukan beberapa jenis anggrek endernik yang hidup di sekitar Semeru Selatan.

Banyak fauna yang menghuni gunung Semeru antara lain :Macan Kumbang, Budeng, Luwak, Kijang, Kancil, dll. Sedangkan di Ranu Kumbolo terdapat Belibis yang masih hidup liar.

 

Semeru, or Mount Semeru (Indonesian: Gunung Semeru), is a volcano located in East Java, Indonesia. It is the highest mountain on the island of Java. The stratovolcano is also known as Mahameru, meaning 'The Great Mountain. The name derived from Hindu-Buddhist mythical mountain of Meru or Sumeru, the abode of gods.

Known also as Mahameru the (Great Mountain), it is very steep rising abruptly above the coastal plains of eastern Java. Maars containing crater lakes have formed along a line through the summit of the volcano. It was formed south of the overlapping Ajek-ajek and Jambagan calderas. Semeru lies at the south end of the Tengger Volcanic Complex.

Semeru is named from Sumeru, the central world-mountain in Buddhist cosmology and by extension Hinduism. As stated in legend, it was transplanted from India; the tale is recorded in the 15th-century East Javanese work Tantu Pagelaran. It was originally placed in the western part of the island, but that caused the island to tip, so it was moved eastward. On that journey, parts kept coming off the lower rim, forming the mountains Lawu, Wilis, Kelut, Kawi, Arjuno and Welirang. The damage thus caused to the foot of the mountain caused it to shake, and the top came off and created Penanggungan as well

Semeru's eruptive history is extensive. Since 1818, at least 55 eruptions have been recorded (10 of which resulted in fatalities) consisting of both lava flows and pyroclastic flows. All historical eruptions have had a VEI of 2 or 3.

Semeru has been in a state of near-constant eruption from 1967 to the present. At times, small eruptions happen every 20 minutes or so.

Semeru is regularly climbed by tourists, usually starting from the village of Ranu Pane to the north, but though non-technical it can be dangerous. Soe Hok Gie, an Indonesian political activist of the 1960s died in 1969 from inhaling poisonous gases while hiking on Mount Semeru

Mount Semeru is the highest mountain in Java 3,676 meter above sea level. Dry seasons is the best times to climb this mountain from May till September. During the wet/rainy seasons, usually there is a storm an landslide in the top of the mountain. Landslide sometimes happen in the middle track between Ranu Pane and Ranu Kumbolo.

We can start from Malang the second biggest city in East Java. From Malang the climbers can ride mini bus to Tumpang. There is a market and a Hindu’s Temple in Tumpang Village. There are two option of vehicles from Tumpang to Ranu Pane Basecamp. Rent an open Jeep, it cost 500,000 ID Rupiahs, or the cheapest ones using Truck together with vegetables and local peoples only 35,000 ID Rupiahs for one person.

We will pass Gubuk Klakah village. Here there is a National Park office and we must register first. From this Village we will pass a dusty road with sand to Ngadas village. We can see some wonderfull panoramas a long the journey on the way to Ranu Pane village.

Ranu Pane (2,100 masl) is the last village and here the basecamp and the office. The climbers can get permission here for climbing. There are two beautiful lakes, in the up side is called Ranu Pane and the other one nearby called Ranu Regulo. In the evening, it is very cold to stay here. Its population is about 600, surviving their lives from vegetable agriculture.

From Ranu Pane we start to walk through the vegetables fields, and hike into the forest a long the flat path. Some plants grow very low, high carrier/backpack is not comfortable. We walk 13 Km and spend about 4 hours to Ranu Kumbolo lake.

Ranu Kumbolo (2,400 masl) is a resting place with a lake, and has beautiful scenery especially in the morning when we look ant the sun rising through the chinks of the hills. There is a climber hut for resting and cooking. Here, we can make a tend and fishing.

There is a time went ducks live here in a big numbers in the lake. Swimming in the lake is forbidden, be carefull went we step the bank of the lake, sometimes we can sank into the mud under the water. This is the first place we can spend to relax and have a long time to rest. We can stay here during the night and continue the journey in the morning.

The next path is a wide grassland, called oro-oro ombo, long time ago there are many deers live here. Today, we are very lucky if we can see it. It is very hot to walk throw the open land. We better start from Ranu Kumbolo in the early morning.

After one hour, we will enter woodland of casuarina trees. Sometimes we can see wild birds and wild cocks. A mouse deer can be found too, in the far away. So watch the trail carefully.

Kalimati (2,700 masl) is the second place to open the tend. We must stay and wait until the morning to climb to the peak. Although there is a small spring water called Sumbermani, it is better if we bring the fresh water from Ranu Kumbolo to cook and drink. Here we wait and rest until midnight.

From Kalimati to the peak of Mahameru we spend 3-6 hours, depend on the weather, numbers of climbers and dust. a big number of climber can produce huge dust a long the journey and slow down the move because an narrow trail is difficult to the climber to pass the others.

Usually the climbers start in the mid night and reach the peak till dawn, enjoy the sunrise. One hour climbing from Kalimati, we come in Arcopodo, Now the twins statues here are missing. The trail is narrow, stepy, and dusty. The deep valley in the left and in the right side through the woodland.

The next journey is an open area with sandy, stepy and dusty. Hoping a good weather stay with us. One step we walk, a half feet we go down and burried in the sand. A cloudy night or fogs can make the sight not so clear. A storm can be so dangerous to contonue to the peak.

In the top of the mountain, called Mahameru, We can enjoy an unforgettable and fantastic panorama towards many peaks of East Java, coasts and seas, and sunrise in the east horizon. The climbers must wait an exploded crater to take a picture.

Before 9 AM the climbers must leave the peak, because the explosion toward to the peak, bring poison, sand, stone, ash, and dust.

LEGEND OF MT SEMERU

It said that in the one time , actually, Java Island floated on the sea and it’s not like today. Afterwards, Dewa (the god) give a decision to nail this island being fixed in a place.

The god move Mt Meru from India to the Java Island. The Mt Meru was heavy and high, so, Java Island fixed in a place like today Dewa Wisnu (a god of several god from Hindusm’s Mythology) changed himself to be “a turtle” and carrying of Mt Meru on his back. And, Dewa Brahma (a god) changed himself to be “a snake” and coiling safety to this mountain and turtle.

The gods put that mountain on the first island place where they found it. This area was in the west side of Java Island. But, due to the mountain was very heavy made the end of north side of this island removed on. Then, they take and removed to be in the east side. The same moment wass happened.

Finally, they decide to cut many side of this mountain and put in the north west of Java Island The rest of mountain cutting that done by the gods became a mountain, Mt Pawitra which it was known by Mt Penanggungan, and the main part of Mt Meru, lying place of Dewa Shiwa (a god) was known by Mt Semeru. When Sang Hyang Siwa (a god) visit to this island, he found so many “Jawawut Tree” and he gave this island named by “Java Island”.

The mythology is adopted from ancient book written in the 15th century Geographically, Java & Bali Island is same in the Hindusm symbols and development. According to the Hindusm’s mythology about Mt Meru, It’s assumpted this is a home for gods and being a connecting place between “earth” (human) and “khayangan” (heaven). If human are willing to hear about the “dewa sound”, he must meditated at the peak of Mt Meru.

Many Javanesse and Balinesse assumpted that Mt Semeru is the place for their gods or ghost. Finally, many people (Java & Bali) use this mountain as meditate place to get “the mysterious whispers” The Balinesse believe that Mt Mahameru (Semeru) is “father of Mt Agung” in Bali and very appreciated by them. The “Upacara Sesaji” (Presenting Ceremony for the gods) that presented by their gods is done by Balinesse each in 8 to 12 when somebody accept “the mysterious sound” from the gods who lives at Mt Mahameru. Beside of this ceremony, if it’s a urgently condition, The Balinesse visit in “Goa Widodaren” (Widodaren Cave) to get “Tirta Suci” (Holly Water).

When people want to climb until in this peak, there’s the reasons why they will. May be, somebody want to acquire of this “mysterious sound”. They wish get the “long age”, and luck. Before they climb to this peak, they provide his life supplieas as long as they meditate there, and also his mental. Many meditator is scare with mountain condition, visible or invisible.

Many people believe that mountain is as much ghost home that placed in around of mountain. That ghost is believed as “Roh Leluhur” (Dying Soul of Ancestors), live at all forest, hill, tree, lake in every route you through it This dying soul live here have much responsibility such as guiding of many place to be appreciated.

The climbers that overnight their trip at Ranu Kumbolo Lake, oftenly see the “Ranu Kumbolo” Lake. In the midnight, there’s a orange light in the center of lake and suddenly, this light is changed into a woman ghost. For a person has supranatural power, he / she will be happy with this, because he / she will spare of much time to speak with this ghost.

You may believe or not to this ghost existence, but The Javanesse believe that Bromo, Tengger and Semeru is the ghost’s home and dying soul of ancestors living here.

Flora yang berada di Wilayah Gunung Semeru beraneka ragam jenisnya tetapi banyak didominir oleh pohon cemara, Akasia, Pinus, dan jenis Jamuju. Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominir oleh Kirinyuh, Alang-alang, Tembelekan, Harendong dan Edelwiss putin, Edelwiss yang banyak terdapat di lereng-lereng menuju Puncak Semeru. Dan juga ditemukan beberapa jenis anggrek endernik yang hidup di sekitar Semeru Selatan.

Banyak fauna yang menghuni gunung Semeru antara lain : Macan Kumbang, Budeng, Luwak, Kijang, Kancil, dll. Sedangkan di Ranu Kumbolo terdapat Belibis yang masih hidup liar.

Dari kota Malang naik angkot TA turun di Pasar Tumpang. Dari Pasar Tumpang naik truk sayuran atau sewa jip menuju Ranu Pane .
  • Candi Jago
  • Gunung Bromo
  • Danau Ranu Pane
  • Danau Ranu Regulo
  • Puncak Mahameru
  • Arcopodo
  • Ranu Kumbolo

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuno abad 15, Pulau Jawa pada suatu saat mengambang di lautan luas, dipermainkan ombak kesana-kemari. Para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa.

Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu di punggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.

Dewa-Dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau tetapi masih tetap miring, sehingga Mereka memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut.

Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Pada saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa.

Lingkungan geografis pulau Jawa dan Bali memang cocok dengan lambang-lambang agama Hindu. Dalam agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai rumah para dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung diantara bumi (manusia) dan Kayangan. Kalau manusia ingin mendengar suara dewa mereka harus semedi di puncak Gunung Meru.

Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman Dewa-Dewa atau mahluk halus. Selanjutnya daerah bergunung-gunung masih dipakai oleh manusia Jawa sebagai tempat semedi untuk mendengar suara gaib.

Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Selain upacara sesaji itu orang Bali sering datang ke daerah Gua Widodaren untuk mendapat Tirta suci.

Orang naik sampai puncak Mahameru ada yang bertujuan untuk mendengar suara-suara gaib. Selain itu juga ada yang memohon agar diberi umur yang panjang. Bagaimanapun alasan orang naik ke puncak Mahameru, kebanyakan orang ditakutkan oleh Mahkluk halus yang mendiami daerah keliling gunungnya. Roh halus tersebut biasanya adalah Roh Leluhur yang mendiami tempat seperti hutan, bukit, pohon serta danau.

Roh leluhur biasanya bertujuan menjaga macam-macam tempat dan harus dihormati. Para pendaki yang menginap di danau Ranu Kumbolo sering melihat Mahkluk halus penunggu Ranu Kumbolo. Tengah malam ada cahaya berwarna orange di tengah danaunya dan tiba-tiba berubah wujud menjadi sesosok hantu wanita. Biasanya hanya orang yang punya kekuatan mistis dia akan melihat Mahkluk halus dan dapat bicara dengan Mahkluk Halus. Terserah orang percaya pada Mahkluk Halus atau tidak tetapi banyak orang Jawa yang percaya bahwa daerah Bromo, Tengger, Semeru banyak didiami oleh Mahkluk Halus.

 

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Jl. Raden Intan No. 6
Kotak Pos 54, Malang
Telp. (0341) 491828;
Fax. (0341) 490885
 
Jl. Panda No. 8, Malang
Telp. (0341) 551040
Banner Kanan
 
 
 
 
 

 
 
Banner Bawah

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU