MERBABU.COM Pendakian Gunung Merapi Merbabu Jawa Tengah
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI
 
 

Gunung Merbabu terletak di jawa tengah dengan ketinggian 3.142M dpl pada puncak Kenteng Songo. Gunung Merbabu berasal dari kata "meru" yang berarti gunung dan "babu" yang berarti wanita. Gunung ini dikenal sebagai gunung tidur meskipun sebenarnya memiliki 5 buah kawah: kawah Condrodimuko, kawah Kombang, Kendang, Rebab, dan kawah Sambernyowo.

Terdapat 2 buah puncak yakni puncak Syarif (3119m) dan puncak Kenteng Songo (3142m). Puncak Gn.Merbabu dapat ditempuh dari Cunthel, Thekelan, (Kopeng / Salatiga) Wekas (Kaponan / Magelang) atau dari selo (Boyolali). Perjalanan akan sangat menarik bila Anda berangkat dari jalur Utara (Wekas, Cunthel, Thekelan) turun kembali lewat jalur selatan (Selo).

Pemandangan yang sangat indah dapat disaksikan disepanjang perjalanan tersebut. Banyak terdapat gunung disekitar gunung Merbabu, diantaranya Gn. Merapi, Gn.Telomoyo, Gn.Ungaran. Gunung Merbabu ini membentuk garis deretan gunung berapi ke arah utara Merapi - Merbabu - Telomoyo - Ungaran.

JALUR KOPENG CUNTHEL

Untuk menuju ke desa Cuntel dapat ditempuh dari kota Salatiga menggunakan mini bus jurusan Salatiga Magelang turun di areal wisata Kopeng, tepatnya di Bumi perkemahan Umbul Songo. Perjalanan dimulai dengan berjalan kaki menyusuri Jalan setapak berbatu yang agak lebar sejauh 2,5 km, di sebelah kiri adalah Bumi Perkemahan Umbul Songo. Setelah melewati Umbul Songo berbelok ke arah kiri, di sebelah kiri adalah hutan pinus setelah berjalan kira-kira 500 meter di sebelah kiri ada jalan setapak ke arah hutan pinus, jalur ini menuju ke desa Thekelan. 

Untuk menuju ke Desa Cuntel berjalan terus mengikuti jalan berbatu hingga ujung. Banyak tanda penunjuk arah baik di sekitar desa maupun di jalur pendakian. Di Basecamp Desa Cuntel yang berada di tengah perkampungan ini, pendaki dapat beristirahat dan mengisi persediaan air. Pendaki juga dapat membeli berbagai barang-barang kenangan berupa stiker maupun kaos.

Setelah meninggalkan perkampungan, perjalanan dilanjutkan dengan melintasi perkebunan penduduk. Jalur sudah mulai menanjak mendaki perbukitan yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Jalan setapak berupa tanah kering yang berdebu terutama di musim kemarau, sehingga mengganggu mata dan pernafasan.

Untuk itu sebaiknya pendaki menggunakan masker pelindung dan kacamata.

Setelah berjalan sekitar 30 menit dengan menyusuri bukit yang berliku-liku pendaki akan sampai di pos Bayangan I. Di tempat ini pendaki dapat berteduh dari sengatan matahari maupun air hujan. Dengan melintasi jalur yang masih serupa yakni menyusuri jalan berdebu yang diselingi dengan pohon-pohon pinus, sekitar 30 menit akan sampai di Pos Bayangan II. Di pos ini juga terdapat banguanan beratap untuk beristirahat. 

Dari Pos I hingga pos Pemancar jalur mulai terbuka, di kiri kanan jalur banyak ditumbuhi alang-alang. Sementara itu beberapa pohon pinus masih tumbuh dalam jarak yang berjauhan. 

Pos Pemancar atau sering juga di sebut gunung Watu Tulis berada di ketinggian 2.896 mdpl. Di puncaknya terdapat stasiun pemancar relay. Di Pos ini banyak terdapat batu-batu besar sehingga dapat digunakan untuk berlindung dari angin kencang. Namun angin kencang kadang datang dari bawah membawa debu-debu yang beterbangan. Pendakian di siang hari akan terasa sangat panas. Dari lokasi ini pemandangan ke arah bawah sangat indah, tampak di kejauhan Gn.Sumbing dan Gn.Sundoro, tampak Gn.Ungaran di belakang Gn. Telomoyo. 

Jalur selanjutnya berupa turunan menuju Pos Helipad, suasana dan pemandangan di sekitar Pos Helipad ini sungguh sangat luar biasa. Di sebelah kanan terbentang Gn. Kukusan yang di puncaknya berwarna putih seperti muntahan belerang yang telah mengering. Di depan mata terbentang kawah yang berwarna keputihan. Di sebelah kanan di dekat kawah terdapat sebuah mata air, pendaki harus dapat membedakan antara air minum dan air belerang.

Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang disisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Prengodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng Songo) yang memanjang. 

Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gn.Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gn.Sumbing dan Sundoro yang kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk di daki. Lebih dekat lagi tampak Gn.Telomoyo dan Gn.Ungaran. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gn.Lawu dengan puncaknya yang memanjang.


Mount Merbabu is one of the most known volcano in Central Java, for its amazing and challenging hiking routes for both local and foreign hikers. Despite often used as a hiking site for many experienced hikers, Merbabu is still considered an active volcano. The term “Merbabu” is derivated from two words, “Meru” meaning “Mountain” and “Babu” meaning “female” or “lady”. The Great Volvano is located directly adjacent on the southeastern side of Mount Merapi. According to history, Merbabu’s last eruption was in 1968, and before that there was a moderate eruption in 1560 and again in 1797.

Although the mountain may seem to have many peaks, they are in fact not really the original peak (often known as shadow peak). There are only 2 original peaks of Mount Merbabu, they are named Syarif (3,120 meters high) and Kenteng Songo (3,142 meters high). These two high peaks offer a different panorama of their own. The two peaks can be reached through 2 different routes, one is through Selo/Boyolali on the northeast and the other is through Tekelan/Kopeng on the south.

The two routes offer a journey with different view of terrain. The Selo route is longer in distance but the scenary and landscape is much more beautiful than the Tekelan route. The pine trees on both sides of the road, in addition to the distinct view of Mount Merapi is a scenary one will find amusing. On the other hand, the Tekelan route is shorter in distance, but the road is a bit slopy due to a number of erosion and a high rain debit that occurred in the area. The scenary is also not as fascinating as that of the Selo route. A climb from the Tekelan route can take 8 to 10 hours.

The area on the slope of Mount Merbabu is considered a highly fertile farming land. Farmers from the nearest village plant different kinds of crops and agricultural products as their livelihood. The most famous crop in the area is tobacco. It has become the primary product where villagers earn their main income from.

Gunung Merbabu is a massive forested volcano that rises to the north above a broad 1500-m-high saddle from the renowned Merapi volcano in central Java. The volcano is elongated in a NNW-SSE direction, parallel to the trend of the long transverse volcanic chain extending from Merapi to Ungaran volcano. Three prominent U-shaped radial valleys extend from the 3145-m-high summit of Merbabu toward the NW, NE, and SE, dividing the volcano into three segments. The most recent magmatic eruptions originated from a NNW-SSE fissure system that cut across the summit and fed the large-volume Kopeng and Kajor lava flows on the northern and southern flanks, respectively. Moderate explosive eruptions have occurred from the summit crater of Merbabu in historical time.

 

Kopeng dari Solo-Semarang
1. Bus Jur.  Solo - Semarang, turun di Pasar Sapi (Salatiga)
2. Bus Kecil Jurusan Magelang - Kopeng turun di Kopeng

Kopeng Semarang-Yogya
1. Bus Jur. Yogya-Semarang turun di Magelang.
2. Bus Kecil Jurusan Magelang - Salatiga turun di Kopeng.

  • Kopeng
  • Air Terjun Umbul Songo
  • Rawapening
  • Palagan Ambarawa
  • Musium Kereta Api
  • Watu Gubug
  • Puncak Syarief
  • Kenteng Songo

Masyarakat di sekitar Kopeng di lereng Gunung Merbabu mayoritas beragama Budha sehingga akan kita temui beberapa Vihara. Penduduk sering melakukan meditasi atau bertapa dan banyak tempat-tempat menuju puncak yang dikeramatkan. Pantangan bagi pendaki untuk tidak buang air di Watu Gubug dan sekitar Kawah. Pendaki tidak diperkenan kan memakai pakaian warna merah dan hijau. 

Pada tahun baru jawa 1 suro penduduk melakukan upacara tradisional di kawah Gn. Merbabu. Pada bulan Sapar penduduk Selo (lereng Selatan Merbabu) mengadakan upacara tradisional. Dahulu Anak-anak wanita di desa tekelan dibiarkan berambut gimbal untuk melindungi diri dan agar memperoleh keselamatan.

Taman Nasional Gunung Merbabu

Jl. Merbabu no.136 Boyolali, Jawa Tengah - Indonesia

Ph : +62 276 3293341

http://merbabunationalpark.org

email : info[at]merbabunationalpark.org

Banner Kanan
 
 
 
 
 

 
 
Banner Bawah

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU