MERBABU.COM Pendakian Gunung Merapi Merbabu Jawa Tengah
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI
 

Bagi para pendaki gunung di Sumatera utara (Sumut), mendaki gunung Sibayak merupakan salah satu pilihan yang menyenangkan. Rupanya, selain namanya cukup terkenal di Sumut, Sibayak juga menjadi "gunung incaran" para pendaki. Bak seorang Bidadari, nama Sibayak harum bagaikan bunga.

Selain nama yang disandang Sibayak cukup terkenal, gunung yang dimilikinya-pun tidak kalah megah dari pengunungan api lainya. Panorama yang tersebar tiada henti disepanjang pendakian menuju puncak turut mengingatkan kita akan kebesaran sang pencipta. Setiap kali orang mendengar nama Sibayak pasti yang terpikir dalam benak mereka adalah kemegahan dan ketersohoran nama gunungnya sampai ke penjuru bumi. Bahkan nama dari salah satu "Hotel berbintang empat" di kota Berastagi, bernama 'Hotel Sibayak.' Sepertinya nama Sibayak mempunyai kebanggaan dan keindahan tersendiri bagi yang menyandangnya.
Puncak Sibayak

Siapapun akan mengakui keindahan puncak sibayak, bila berada di puncaknya yang berketinggian 2.094 Meter.dpl sambil menyaksikan Sunrise (Matahari terbit) dari sana. Bagi yang ingin menyaksikan sunrise, diupayakan agar beranjak dari kaki gunung sekitar pukul 02.00 dini. Hampir mencapai puncak, ditemui aliran air dingin nan jernih. Airnya yang jernih mengalir disela-sela bebatuan yang ditumbuhi lumut yang mengalir dari puncak Sibayak. Berada dipuncak, suasana alam begitu memukau, apalagi terpancar keindahan kerlap-kerlip lampu-lampu desa di sekitar kaki gunung, bila malam cerah. Ditambah lagi jejeran pengunungan Bukit barisan yang pesonanya begitu melengkapi kesempurnaan alam.

Pesona alam ini tidak mengaburkan kondisi puncak sibayak yang sudah porak-poranda karena letusan beberapa waktu silam. Dinginnya udara pegunungan dan gelapnya langit bertaburkan ribuan bintang di puncak malah menciptakan suasana alam yang berbeda, seakan membawa kita berhayal tentang permukaan di bulan, karena yang ditemui disana hanyalah pasir, batu-batuan dan kerikil. Berada di puncak, biasanya pendaki berupaya mencapai salah satu puncak tertinggi Sibayak yang bernama "Takal kuda," diambil dalam bahasa karo yang artinya "Kepala kuda." Puncak Sibayak berada di titik koordinat 97°30'BT dan 4°15'LS. Gunung yang masuk dalam tipe gunung berapi yang masih aktif dengan stato (berlapis) mempunyai uap panas, dari kondisi ini masyarakat menganggap puncak dan kawah gunung tersebut menyimpan sejuta misteri.

Kawah Unik

Selain puncak, daerah kawah tidak kalah uniknya. Selain disekitar kawah ditemukan batu cadas, kawah belerang yang luasnya 200 x 200 meter memiliki solfatara yang senantiasa menyemburkan uap panas. Untuk mengabadikan aktivitas kawah pendaki berlomba-lomba menuruni kawah. Dari kawah akan ditemukan sejumlah keunikan yang dimiliki oleh Sibayak yang amat jarang ditemukan di pegunungan lain. Biasanya kawasan landai di daerah pinggiran kawah dijadikan untuk mendirikan Bivak (Tenda) untuk beristirahat melepaskan lelah seusai mendaki. Biasanya, malam Minggu dan hari libur merupakan musim pendakian ke puncak, dibandingkan dengan hari-hari biasa.

Gunung Raja

Untuk itu amatlah pantas apabila gunung Sibayak dijuluki sebagai "Gunung Raja" arti kata Sibayak ialah "Raja" Konon Tanah karo diperintah oleh 4 Raja (Sibayak). Keempat dari kerajaan itu ialah Sibayak lingga, Sarinembah, Suka, Barusjahe dan Kutabuluh.

Status Sibayak

Gunung Sibayak yang berketinggian 2.094 m.dpl secara administratif masuk dalam kabupaten Karo di Sumut. Hutan gunung ini masuk dalam hutan lindung berupa hutan alam pengunungan, yang tergabung dalam Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan yang merupakan Tahura ketiga di Indonesia yang ditetapkan oleh Presiden dengan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 48 Tahun 1988 tanggal 19 Nopember 1988. Pembangunan Tahura ini sebagai upaya konservasi sumber daya alam dan pemanfaatan lingkungan melalui peningkatan fungsi dan peranan hutan. Hutan gunung yang masih alami tersebut tergabung dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang merupakan Daerah Tangkapan Air (DTA) bagi masyarakat disekitar gunung dan hutan.

Route pendakian Sibayak

Untuk mencapai puncak gunung Sibayak, pendaki dapat memasuki tiga pintu rimba dengan menelusuri jalan setapak melalui hutan belantara tropis dan tebing curam, yang ditemui disepanjang kiri-kanan pendakian. Pintu rimba sibayak melalui, Desa Raja Berneh (Semangat Gunung), Jalur 54, Penatapan jagung rebus dan Jaranguda kira-kira 500 meter dari kota berastagi. Ketiga-jalur dapat dicapai dengan angkutan umum dari kota Medan. Jalur 54 atau sering disebut jalur "Aqua" lebih dikenal dengan medan yang cukup menantang. Kalau ingin tiga jam mencapai puncak melalui jalur desa Raja Berneh, yang berlokasi sekitar 7 km dari jalan raya Medan - Brastagi. Di desa Raja Berneh ditemukan pemandian air panas Lau Sidebuk-debuk atau Hot Spring. (Rahel )

Beberapa Potensi Sibayak

Hot Spring

Lau debuk-debuk (Hot Spring), atau sering disebut pemandian air panas merupakan salah satu potensi wisata yang sangat menarik disekitar kaki gunung sibayak. Pemandian air panas merupakan hasil aktifitas alam gunung sibayak dimasa lampu. Mata airnya bersumber dari perut bumi mengandung unsur belerang, dan dapat mengobati penyakit gatal-gatal dan dapat dijadikan sebagai pengganti mandi sauna. Objek wisata ini terletak di desa Semangat gunung, dahulu, hanya beberapa meter dari jalan setapak menuju pintu rimba.

Mata air panas muncul melalui retakan dari aliran lava di daerah selatan lereng gunung api Sibayak. Mata air panas ini kemudian ditampung didalam kolam. Pemandian air panas ini dikelolah oleh Pemerintah kabupaten (Pemkab) Karo) dengan masyarakat setempat. Sebagian pendaki memanfaatkan kolam air panas ini untuk berendam membersihkan diri dan menyegarkan tubuh sekembali dari puncak. Jarak dari kota berastagi ke objek wisata kira-kira berjarak 10 km dapat ditempuh dengan bus umum atau pribadi.

Air Pengunungan AQUA

Potensi sumber air dingin didaerah gunung api dimanfaatkan untuk kebutuhan air untuk masyarakat setempat. Sumber air pengunungan yang dikenal dengan Air Minuman Dalam Kemasan (AMDK) yang dikenal dengan "AQUA" merupakan air pengunungan yang sejuk dan segar, air pengunungan yang mengalir dengan sendirinya inilah digunakan sebagai bahan baku minuman mineral Aqua. Pabrik Aqua terletak di desa Daulu, hanya berjarak beberapa meter dari penatapan jagung rebus. Minuman air sumber pengunungan (Mountain spring water) lahir pada tanggal 23 Pebruari 1973. Nama AQUA diambil dari bahasa Yunani sante par AQUA, artinya kesehatan melalui terapi air. Air mineral selain berfungsi menjaga kelembapan dan kecantikan kulit juga teruji menyegarkan tubuh.

PLTP

Objek lokasi pemboran panas bumi terletak di desa Semangat gunung, dikaki gunung Sibayak. Panas bumi dikembangkan menjadi pembangkit tenaga listrik. Saat ini, penggunaan panas bumi meningkat secara besar - besaran, karena energi panas bumi dianggap bersih lingkungan. Listrik yang dihasilkan dari uap panas bumi memberikan energi yang bebas polusi pada atmosfir ataupun pada air, bahkan tidak mengandung radioaktif. Objek wisata Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) biasanya dikunjungi oleh mahasiswa-mahasiswa dan para ilmuwan dari dalam dan luar pulau Sumatera untuk meneliti. Sumber mata air panas yang mempunya temperatur lebih tinggi dari 300°F (150°C) digunakan sebagai sumber pembangkit tenaga listrik. Untuk sumurnya yang bertemperatur rendah digunakan untuk menghangatkan rumah, mengawetkan makanan, kayu, pengembangan benih ikan dan penyediaan air untuk masak untuk mandi.

Posted by Rahel Sibayak

 

Mt. Sibayak  is a small strato volcano overlooking the town of Berastagi in northern Sumatra, Indonesia. Although its last eruption was more than a century ago, geothermal activity in the form of steam vents and hot springs remains high on and around the volcano. The vents produce crystalline sulfur, which was mined on a small scale in the past. Seepage of sulfurous gases has also caused acidic discolouration of the small crater lake.

Sibayak is a term from the Karo Batak language referring to a founding community. It is relatively easy to climb and has been a tourist attraction since colonial times.

To hike Mount Sibayak,  You do not need a guide to do the trip. Simply catch a local bemo (mini-bus converted to public transit) out to the park and your guesthouse or hotel will tell you how. Once there, walk up using the paved, good road that will stop near a trail and leave you with about half an hour's walk to go. While the road is good, the ascent is steep and there will likely be no one else out there except you (and your party), so bring water and snacks.

The whole trip should take 2 to 4 hours to the top (2,212 meters). The final approach and the crater itself are like an amateur volcano fan's dream. While there is no lava, there are fumaroles, creeks with simmering greenish water and a staggering crater sitting among the clouds. You can either go back the way you came or find the trail on the other side of the crater that will take you down through the jungle.

Once you are in Medan, you need to travel to Berastagi, the town below Mount Sibayak. The two means are by taxi or public bus, as there are very few mini-buses plying the Medan-Berastagi route. The public bus will be cheap but crowded. The hired taxi and driver will be relatively expensive, but quicker and more comfortable. Which one you take depends on your budget and sense of adventure. If you are already in Sumatra, there is a mini-bus route from a small town on the banks of Lake Toba that goes to Berastagi on back country roads. The scenery is spectacular and the trip is terrifying, but it saves you doubling back to Medan.

On the other side of Mount Sibayak is a small village featuring a pair of spas taking advantage of the local hot mineral springs. Bring your swim trunks and relax after the hike with a dip in the waters.

The main entry-point for Sumatra is its largest city, Medan. This is great for getting to Mount Sibayak, as both are located in the northern part of the island. If you are flying, then you can reach Medan either by international connection in Kuala Lumpur or Singapore, or by domestic connection via Jakarta. Another option is to take the sea ferry from Penang, Malaysia.

Don't bother with the local Karo villages. While there is some merit to them, Berastagi is poor and semi-isolated, and a visit to these villages will be more depressing because of the poverty than anything else. If you are in Sumatra at all, you will likely go to Lake Toba and the Batak peoples, and these are a better people to explore local cultures with.

The Karo, or Karonese, are a Batak people of the 'tanah Karo' (Karo lands) of North Sumatra and a small part of neighbouring Aceh. The Karo lands consist of Karo Regency, plus neighbouring areas in East Aceh Regency, Langkat Regency, Dairi Regency, Simalungun Regency and Deli Serdang Regency. In addition, the cities of Binjai and Medan, both bordered by Deli Serdang Regency, contain significant Karo populations, particularly in the Padang Bulan area of Medan. The town of Sibolangit, Deli Serdang Regency in the foothills on the road from Medan to Berastagi is also a significant Karo town.

Karoland contains two major volcanoes, Mount Sinabung, which erupted after 400 years of dormancy in 2010, and Mount Sibayak. Karoland consists of the cooler high lands, and the upper and lower lowlands.

The Karolands were conquered by the Dutch in 1906, and in 1909 roads to the highlands were constructed, ending the isolation of the highland Karo people. The road linked Medan and the lowlands to Kabanjahe and from there to both Kutacane in Aceh and Pematang siantar in Simalungun.

In 1911, an agricultural project began at Berastagi, now the major town in Karoland, to grow European vegetables in the cooler temperatures. Berastagi is today the most prosperous part of Karoland, just one hour from Medan, while towns further in the interior suffer from lower incomes and limited access to healthcare.

The Karo people speak the Batak Karo language, a language related to, but not mutually intelligible with, other Batak languages, in addition to Indonesian. Karo people belong to one of five specifically Karo marga, and have their own cultural, religious and musical traditions. The Karo for instance have a distinct ulos from other Batak people.

Karo people, as with most other Bataks, are mostly Christian, a religion brought to Sumatra in the 19th Century by missionaries, but an increasing number living away from the Karo Highlands have converted to Islam, with the influence of Muslim Javanese and Malay peoples making the traditional habits of pig farming and cooking less common. Many Muslims and Christians however still retain their traditional animist beliefs in ghosts, spirits (begu), and traditional jungle medicine.

Karo people traditionally lived in shared longhouses (see Karo Architecture), but very few now remain, and new construction is exclusively of modern designs.

It is believed that Karo people from (H)aru empire This intercourse had an influence on their religious beliefs, as well as ethnic makeup, the marga 'Sembiring', meaning 'black one', and many Sembiring sub-marga (Colia, Berahmana, Pandia, Meliala, Depari, Muham, Pelawi and Tekan) are clearly of South-Indian origin, suggesting that inter-marriage between Karo and Indian people took place

Karo tradition states that the Merga si Lima originate from five villages, each established by a Sibayak, a founding community. The Sibayak of Suka whose family name was Ginting Suka established the village of Suka. The Sibayak of Lingga called Karo-karo Sinulingga established the village of Lingga. The Sibayak of Barusjahe whose family name was Karo-karo Barus pioneered the village of Barusjahe. The Sibayak of Sarinembah, called Sembiring Meliala established the village of Sarinembah. The Sibayak of Kutabuluh named Perangin-angin established the village of Kutabuluh.

Each one of these five villages has its own satellite villages inhabited by the extended families of the main village inhabitants. The satellite villages were established for the convenience of the villagers whose fields were relatively far from the main villages. The purpose was to save them time when travelling back and forth from the village to their fields. Today, these satellite villages have developed and matured to be independent of the main villages. In the old times, these satellite villages used to ask for help from the main villages to deal with natural disasters, tribal disputes, diseases and famine.

The leaders of these satellite villages were called URUNGs. The Sibayak of Lingga administered five villages i.e., Tiganderket, Tiga Pancur, Naman, Lingga and Batukarang. The Sibayak of Suka administered four villages i.e., Suka, Seberaya, Ajinembah and Tengging. The Sibayak of Sarinembah administered four villages i.e., Sarinembah, Perbesi, Juhar and Kutabangun. The Sibayak of Barusjahe administered two villages i.e., Barusjahe and Sukanalu. The Sibayak of Kutabuluh administered two villages i.e., Kutabuluh and Marding-ding.

 

  • Lau debuk-debuk
  • Brastagi
  • Air terjun Sipisopiso
  • Danau Toba

Untuk itu amatlah pantas apabila gunung Sibayak dijuluki sebagai "Gunung Raja" arti kata Sibayak ialah "Raja" Konon Tanah karo diperintah oleh 4 Raja (Sibayak). Keempat dari kerajaan itu ialah Sibayak lingga, Sarinembah, Suka, Barusjahe dan Kutabuluh.

Banner Kanan
 
 
 
 
 

 
 
Banner Bawah

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU