NATURE WATER MOUNTAIN VOLCANO CAMP HIKE COMPUTER
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI
 

Gn.Sundoro memiliki ketinggian 3.136mdpl, puncaknya yang indah banyak ditumbuhi bunga Edelweis dan Cantigi. Bunga Edelweis di Gn.Sundoro memiliki bau yang harum yang disebut "sundoro", yang akhirnya menjadi nama gunung tersebut.


Pendakian Anda akan lebih menyenangkan jika bertepatan dengan tahun baru jawa tanggal 1 Syuro . Karena masyarakat sedang mengadakan upacara selamatan. memperingati tahun baru jawa. Upacara dan sesaji itu sangat menarik dan tidak bisa bisa Anda lihat di daerah lain. Banyak pejiarah menuju ke tempat leluhur mereka kyai Santri. Bagi pendaki dilarang untuk mendaki pada hari jawa "wage" juga pantangan mendaki juga berlaku pada hari Selasa Kliwon. Larangan mendaki bagi wanita yang sedang datang bulan dan dilarang mengenakan pakaian warna merah.

Untuk mendaki Gn. Sundoro bisa ditempuh melalui dua rute yakni lewat Kledung dan Sigedang, wilayah Temanggung dan Wonosobo, Jawa Tengah. Dari kota Yogya naik Bus ke Magelang disambung bus ke Temanggung atau Wonosobo.

RUTE KLEDUNG

Pendakian bisa dimulai dari desa Kledung masuk kecamatan Parakan, sehingga Anda pun harus turun di desa tersebut. Sebaiknya Anda turun di jalan paling tinggi di desa itu, kemudian mencari rumah kepala desa untuk mendapatkan informasi dan mempersiapkan segala perlengkapannya. Agar persiapan Anda matang, sebaiknya bermalamlah di desa tersebut. Persiapkan peralatan dan perlengkapan termasuk air bersih secukupnya. Pasalnya, sepanjang perjalanan ke puncak gunung tidak terdapat sumber air yang bersih.

Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak sekitar 8 jam dengan menempuh jarak 7 km. Untuk turun kembali hanya membutuhkan waktu 4 jam. Medan yang ditempuh tidaklah sulit, sehingga sangat baik bagi para pendaki pemula, biasanya pada hari libur banyak yang mendaki.

Pada awal perjalanan, Anda akan melewati kebun sayur yang sangat indah. Selanjutnya Anda akan menemui hutan pinus dan kebun Edelweis yang menawan. Selanjutnya kita akan tiba di Pos I Sibajing, dengan ketinggian 1.900 mdpl.

Perjalanan diteruskan ke Pos II Cawang, sebelum sampai di pos II terdapat persimpangan, kita harus belok ke kanan, jangan mengambil jalan lurus karena buntu. Pendaki yang berjalan malam hari sering kesasar mengambil jalur lurus. Pos II berada pada ketinggian 2.120 mdpl.

Kita kemudian menuju ke Pos III Seroto yang berada pada ketinggian 2.530 mdpl, di sini kita akan menyaksikan pemandangan yang sangat indah. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati kawasan hutan dan kawasan batu-batuan. Setelah melewati padang Edelweis kita akan sampai di puncak.

RUTE SIGEDANG

Dari kota Yogya naik bus ke Magelang, dilanjutkan dengan bus jurusan ke Wonosobo atau Dieng turun di Rejosari, dilanjutkan dengan mobil kecil ke Sigedang. Dari base camp di Sigedang diperlukan waktu sekitar 6 jam untuk sampai di puncak.

Perjalanan di mulai lewat kebun teh, terdapat tiga buah pos, kemudian melewati hutan sekitar 1 jam kita akan sampai di padang rumput, dilanjutkan dengan mendaki ke puncak. Rute ini lebih pendek agak menanjak dan banyak batu-batuan, namun medannya tidak begitu berat.

Di puncak gunung terdapat kawah tua yang sudah mati, di sini pada musim hujan pendaki dapat memperoleh air bersih. Puncak gunung Sundoro banyak ditumbuhi bunga Edelweis.

Dari puncak gunung kita bisa melihat Gunung Merbabu, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu di sebelah Timur. Gunung Sumbing nampak sangat dekat berada di sebelah selatan. Ke arah barat dapat disaksikan Gunung Slamet dan Gunung Ciremei.

 

Bus dari Porwokerto ke Semarang atau sebaliknya, turun di Gapura Desa Kledung.

Dari kota Yogya naik Bus ke Magelang disambung bus jurusan ke Temanggung atau Wonosobo turun di Gapura Desa Kledung.

  • Dataran tinggi Dieng
  • Candi Dieng
  • Telaga Warna
  • Makam Kyai Santri

Bagi pendaki dilarang untuk mendaki pada hari jawa "wage" juga pantangan mendaki juga berlaku pada hari Selasa Kliwon.

Larangan mendaki bagi wanita yang sedang datang bulan dan dilarang mengenakan pakaian warna merah.

Mount Sindara, Mount Sindoro or Mount Sundoro is an active stratovolcano in Central Java, Indonesia. Parasitic craters and cones are found in the northwest-southern flanks; the largest is called Kembang. A small lava dome occupies the volcano's summit. Historical eruptions mostly mild-to-moderate phreatic eruptions had occurred.

The march from Sigedang was quick, we were led by the gentle porters and the path was shiny lit by the moonlight amidst wet tea plantation.

Post 1 is actually a tea-weighing shelter. Pretty close from our start-point, it must be less than 1 hour but the stop was a little bit extended due to acclimatization need, for some of us were new to high altitude breathing. But I also believe the happiness was actually the main reason. We laughed a lot. Then the trek gradually adds its slope. The slope’s rate of change was quick, unfortunately, so our breaths were quick amidst the clear field of Mount Sundoro’s hip.

Post 2 was quickly reached in about 1 hour from Post 1 and we started to see from above, the green bushes sparse trees. I think it must be the tea-limit, where the tea plantation ends. But Post 2 is still a tea-weighing shelter like Post 1.

In the day light it must be hot and steamy walking in such an open area. That is why we were always advised to start climbing in the evening to avoid the stinging high altitude sunray.

From Post 2 we could already feel the stiffness of our leg muscles as the ascend was steep. Perhaps 60° at places but certainly not less than 45° in average. Luckily it was night when we started and the sky was so clear with only thin mist in the air.

The trek was straight, frank and open like a very honest friend. Refreshing but the steep trek was not smoothened with a turn-left-up-turn-right-up type ascend. We were just straight to the peak passing another shelter that must be Post 3.

Resting once a while was nice for a minute or two but very soon the wet backs of our aging bodies became very cold. The 12°C air was not very compromising for a sweater wrapped sweat-wet body and no gloves. The trek was steep enough by then, looking back made me a little scared. Falling down would be a matter of quick grab to a bush, otherwise the way to the bottom of the valley was quite straight.

Then a few part of vegetated strips on 2700 M – 2800 M, where we saw a tent on a very narrow plot, with some clothes hanging on a tree branch. No sound, no light and no intention to disturb, so marched we on to the peak.

In Mt. Sundoro peak there is a crater with flat area and about a soccer field wide. To the south and west it has wider plots. In the middle there is a 50 M deep dormant crater with a small pool in it. From the east rim there is a path to the crater bottom. The crater is about the half of the peak plot. Not totally barren, the peak is vegetated with 2 M tall bushes.

The north-west part of the peak was a muddy sand field, where there was a non-permanent monument of 20 cm round stones put together making a circle with a heap of some larger stones in the center. It adds the serenity feeling of the peak, which was occupied by us on that cloudy morning.

Look north, there is Dieng mountains with Mount Prahu dominating the scene. A little closer the jealous Mount Kembang is looming lonely just at the Mount Sundoro foot. Can’t really see Mount Slamet clearly for it was cloudy in the west.

 


View Larger Map


New Page 1
 
 
 
 
Lazada Indonesia

 
Toko Buku Online
 
 Secret Lighting
 
 Rekam Jejak Pendakian ke-44 Gunung di Nusantara
 
New Page 1

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU