NATURE WATER MOUNTAIN VOLCANO CAMP HIKE COMPUTER
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI

 

Gunung Arjuna dengan ketinggian 3.339 mdpl, sejak jaman Majapahit sudah dijadikan tempat pemujaan. Seperti halnya gunung penanggungan yang terletak tidak begitu jauh dari gunung arjuna ini, keduanya banyak memiliki peninggalan sejarah berupa bangunan pemujaan. Dilereng-lereng gunung Arjuna yang berketinggian 3.339 mdpl tersebut banyak terdapat arca maupun candi peninggalan kerajaan Majapahit. Situs-situs kuno dan bersejarah ini banyak berserakan mulai dari kaki gunung sampai di puncak gunung arjuna.


Situs-situs Candi dan patung pemujaan peninggalan Jaman Majapahit itu hanya dapat dijumpai di jalur pendakian Purwosari, yakni tepatnya dari desa Tambak watu kec. purwodadi, kab. pasuruan. Suasana angker dan penuh magis masih menaunginya, karena situs-situs tersebut masih sering didatangi para pejiarah untuk bermeditasi dan berdoa, terutama para penganut kejawen, sehingga situs-situs kekunaan di gunung Arjuna ini terawat dan terjaga dengan baik.
 

Untuk menuju Desa Tambak Watu, dari kota Malang kita naik mobil kecil/bus jurusan surabaya turun di pasar Purwosari. Dari pasar Purwosari kita bisa naik angkutan desa warna kuning dengan ongkos Rp. 3.000,- menuju dusun Tambak Watu. Atau bisa juga dengan naik ojeg dengan ongkos Rp.7.000,-

Dusun Tambak Watu merupakan dusun terakhir dan disinilah pendaki dan para pejiarah melakukan pendaftaran dengan membayar iuran kas desa Rp.1000,- bagi setiap pejiarah/pendaki. Di Pos Pendaftaran yang juga merangkap sebagai warung ini, pendaki maupun pejiarah dapat melengkapi segala kebutuhan logistiknya.

Bila ingin menginap atau bermeditasi di situs-situs ini disarankan untuk membawa obat nyamuk gosok, karena situs-situs ini berada di tengah hutan lebat yang banyak nyamuknya. Pendaki dan pejiarah dilarang membawa obat nyamuk bakar bila menginap di pondok-pondok yang terbuat dari alang-alang. Dari desa Tambak Watu diatas ketinggian 1.000 mdpl, inilah awal pendakian menapaki jalan setapak menuju puncak Arjuna. Pendakian akan melewati hutan pinus yang tertata rapi, sementara di sela-sela pohon pinus tersebut banyak ditanami pohon kopi dan pohon pisang. Suasana tenang, adem, ayem dan wingit mulai terasa begitu memasuki kawasan ini.

 

Sampai di ketinggian 1.300 mdpl kita bisa jumpai sebuah gua yang bernama Gua Antaboga. Goa ini berada di bawah tebing batu menghadap utara,dengan kedalaman 1,5 m, lebar 1 m, serta mempunyai ketinggian 1,25 m. Di depan gua terbapat sebuah pondokan yang bisa digunakan para peziarah untuk melepas penat setelah satu setengah jam berjalan menuju goa ini.


Setiap Jum'at Legi khususnya pada bulan Syuro, goa ini banyak di kunjungi pejiarah sebagai tempat untuk mencari ketenangan hidup. Mereka membakar hio atau dupa serta menabur bunga tiga warna yang digunakan untuk sesajen selagi para peziarah itu memohon doa.

Dengan melewati jalan setapak yang terus menanjak, sementara di kiri kanan jalan nampak semak belukar yang masih rapat dan beberapa bunga liar, sampailah di punden Eyang Madrem. Perjalanan dari Goa Antaboga, Punden Eyang Madrem bisa ditempuh sekitar satu jam dengan berjalan kaki.

Situs ini hanyalah berupa cungkup yang beratap genteng dengan luas sekitar 1,5 x 1,5 m, berdiri di atas sebuah pondasi batu bata setinggi 3 m. Diatasnya terdapat batu andezit yang disusun berjejer tiga. Sementara di dekat batu tersebut di sediakan tempat kemenyan untuk para peziarah yang ingin berdoa di situ. Dari pondasi batu bata, sebelum menuju tempat utama punden, terlihat tangga batu yang teratur rapi.

Dari Situs Eyang Madrem perjalanan bisa dilanjutkan menuju situs Eyang Abiyasa. Untuk menuju petilasan Eyang Abiyasa ini kita harus menapaki jalan setapak di tengah hutan lebat. Dengan perjalanan sekitar 1,5 jam sampailah di padepokan Eyang Abiyasa. Jalan setapak disekitar situs ini ditata rapi dengan semen dan dikiri kanan jalan dibentuk taman-taman yang sangat rapi dan bersih.

Petilasan inilah yang dijadikan pusat bagi para penganut aliran kepercayaan untuk berkumpul dan mengadakan ritual pada bulan Suro. Dalam bilik petilasan ini tidak terdapat arca maupun batu yang bisa dijadikan tanda peninggalan kerajaan. Tapi bagi yang beruntung mereka dapat melihat patung Eyang Abiyasa tersebut.

Terdapat kolam Dewi Kunti konon jika airnya diminum dapat memberikan keluhuran jiwa serta selalu ingat Hyang Kuasa. Di sini juga terdapat beberapa pondokan yang dibangun untuk pejiarah. Sekitar 50 meter agak ke bawah dari kedua petilasan ini terdapat situs Eyang Sekutrem.

Petilasan ini dinaungi oleh pohon-pohon besar sehingga dari kejauhan sudah nampak kesan wingit dan angker. Petilasan Eyang sekutrem juga berupa kamar yang tertutup tembok. Lebar bangunan tersebut sekitar 2,5m x 2m. Di dalamnya ada sebuah arca yang terbuat dari batu andezit dengan tinggi sekitar 70 cm. Di petilasan ini selalu dinyalakan hio dan dupa yang menyebarkan bau harum.


Sambil mengucapkan terima kasih ketika meninggalkan situs Eyang Sekutrem, kita berjalan melewati hutan lebat dan sekitar 30 menit sampailah di situs Eyang Sakri. Menurut cerita Eyang Sakri merupakan tokoh pertama yang menurunkan raja-raja Majapahit.

Petilasan ini berupa cungkup tertutup menghadap ke barat, terbuat dari kayu. Di dalamnya terdapat semacam makam batu yang membujur ke utara selatan. Di sampingnya berdiri sebuah pondok yang terbuat dari ilalang kering yang dapat digunakan untuk beristirahat maupun bermalam.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri punggung bukit yang agak terjal dangan menembus jalur yang membelah padang alang-alang dan hutan lebat, hingga sampai di ketinggian 2100 mdpl. Di sini bisa dilihat arca Eyang Semar yang menghadap ke Timur. Tempat ini merupakan persinggahan Eyang Semar ketika mengantar Wisnu yang akan bertapa di Makutarama.

Dengan bersemedi memohon pada Eyang Semar, ditempat ini bila Anda beruntung bisa memperoleh ajian Semar Mesem, permohonan apapun seringkali dikabulkan oleh Eyang Semar. Tempat ini terkenal paling angker, hindari menginap dilokasi ini, meskipun di sekitar situs ini terdapat tiga buah pondok dan sebuah aula yang dibangun oleh para pejiarah. Selain itu para pejiarah juga membuat bak penampungan air. Dengan selang plastik mereka mengalirkan air yang berasal dari sendang drajad.


Dari situs Eyang Semar ini kita bisa melanjutkan perjalanan ke atas bukit berbatu. Sebelum masuk areal Wahyu Makutarama ini, akan dijumpai enam patung Semar yang menggambarkan kesetiaannya mengantar Wisnu sampai di Pertapaan Makutarama.

Dengan berjalan sekitar 30 menit akan sampai di Wahyu Makutarama, yaitu tempat bertapa Dewa Wisnu. Petilasan ini berupa bangunan andesit yang berukuran 7 x 7 m dengan tinggi sekitar 3 meter. Di bangunan batu ini terdapat dua buah Mahkota raja yang berdampingan. Ini merupakan sebuah simbol kebesaran dari seorang raja jaman duhulu.


Terdapat sebuah pondok di sebelah kiri situs ini. Dengan berjalan menempuh jarak sekitar 100 meter ke arah kiri akan kita dapati sebuah sungai dengan batu-batu yang besar. Namun sungai ini kering di musim kemarau, menyisakan genangan air di celah batu. Bermeditasi di atas batu besar di sungai ini sambil memandangi puncak Mahameru, akan membawa kita menerawang ke puncak para Dewa.

Bila di musim penghujan sungai ini akan dialiri air dan membentuk air terjun yang sangat indah dan dapat digunakan untuk mandi dan tapa kungkum (berendam). Sementara itu di seberang sungai ini terdapat hutan tropis yang masih lebat, yang banyak dihuni menjangan, lutung, elang jawa dan satwa liar lainnya.

Dari Makutarama, berjalan ke atas lagi untuk mencapai puncak tertinggi yang merupakan tempat muksanya Pandawa yakni Puncak Sepilar. Candi sepilar ini dikawal oleh sembilan arca yang menggambarkan raksasa yang sedang mengawal Pandawa. Arca ini terdapat di bawah candi Sepilar tersebut. Suasana angker dan menyeramkan sangat terasa, terutama bila kita melakukan pendakian pada malam hari. Kita akan berjalan meniti jalan setapak yang dikelilingi patung-patung buto (raksasa).

Di Sepilar inilah juga terdapat Pasar Setan atau Pasar Dieng seperti halnya di Gunung Lawu atau Gunung Merbabu, Jawa Tengah. Bila dari Sepilar, menuju arah kanan menyusuri satu bukit, sampailah di Candi Wesi. Semasa Bung Karno masih muda dan belum menjadi Presiden RI, beliau sering ke Candi Wesi ini.


Di sini bisa dilihat tiga arca Pandawa, dahulunya terdapat lima buah patung namun patung Nakula dan Sadewa telah hilang dicuri. Di sebelah kiri bangunan Candi Sepilar bisa dilihat sebuah kuburan, yang menurut cerita merupakan merupakan tempat muksanya Eyang Semar.

Pada bulan Suro tempat ini banyak didatangi para penganut aliran Kejawen untuk memohon doa bagi keselamatan hidupnya. Di sebelah kanan situs ini di bangun sebuah pondokan oleh para pejiarah untuk menginap. Sekitar 100 meter ke arah kanan terdapat sumber mata air yang disebut sendang drajad.

Kalau meneruskan perjalanan mendaki lagi, sampailah di Candi Mangunggale Suci. Candi ini hanyalah sebuah batu yang ditata seperti pondasi yang di atasnya terletak sebuah marmer yang bertuliskan huruf jawa dan di bawahnya lagi tertulis Sura Dira Jaya Diningrat Lebur Dining Pangastuti ( Kejahatan pasti kalah oleh kebaikan). Dan di bawah tulisan ini tersebutlah nama Maha Resi Agung Prawira Harjana. Orang ini adalah pengikut setia Bung Karno.


Dari Candi Manunggale Suci, kita berjalan ke arah kiri mendaki bukit terjal diantara pohon-pohon pinus. Dengan menyusuri punggungan bukit, jalan setapak berada di pinggiran jurang dalam yang berbatuan, dan deru angin kencang serta kabut yang sering muncul, menambah seramnya suasana.

Mendaki di jalur ini harus ekstra hati-hati terutama bila dilakukan di malam hari. Setelah berjalan sekitar 1 jam kita berbelok ke kanan mengikuti alur punggung bukit yang semakin terjal dan berbatu-batu. Dari tempat ini kita bisa melihat jurang dalam yang sangat indah, sesekali nampak elang jawa terbang mencari makan. Puncak gunung Arjuna juga kelihatan di depan mata.

Dengan berjalan sekitar 2 jam menyusuri punggung bukit yang berbatuan kita akan sampai di pertemuan dua buah punggung bukit, kemudian kita menyusuri lereng jurang yang mengitari puncak Arjuna. 1/2 jam kemudian dengan mengitari puncak arjuna yang banyak batu besarnya kita akan tiba di pertemuan jalur purwosari dan jalur Lawang.


Selanjutnya kita harus menempuh padang rumput yang banyak ditumbuhi bunga edelweis, jalur ini sangat terjal melintasi tanah yang berdebu, sekitar 1/2 jam kita akan sampai di puncak gunung arjuna yang disebut puncak Ogal-agil atau puncak Ringgit, sebelumnya kita harus melewati batu-batuan yang berserakan.

Para pejiarah membangun undak-undakan yang tersusun dari batu-batu andesit yang ditata rapi, untuk melangkah ke puncak Gn.Arjuna.


Disekitar puncak gunung Arjuna banyak terdapat batu-batu besar yang berserakan, di sebelah utara puncak berupa jurang terjal berbatu-batu yang sangat indah. Sangat disayangkan batu-batu besar di puncak gunung Arjuna ini telah dicemari oleh coretan-coretan tangan-tangan mereka yang mengaku "Pecinta Alam".


Ke arah barat tampak di depan kita gunung Welirang yang selalu mengeluarkan asap, disamping gunung Welirang ke arah Barat Laut tampak gunung penanggungan yang runcing sempurna, dengan puncak yang menyerupai gunung semeru. Kearah timur kita dapat menyaksikan puncak gunung semeru yang sangat menawan. Di sebelah selatan kita berdiri gunung Kawi dan gunung Anjasmoro.


Di puncak gunung Arjuna terdapat sebuah batu yang berbentuk singasana (kursi) yang sering dikunjungi para pejiarah untuk membakar hio dan dupa. Pada batu ini terdapat gambar cakra dan tulisan jawa yang berarti Maha Kuasa, disinilah tempat bertahta penguasa Alam Gaib gunung Arjuna, Jangan coba-coba untuk duduk atau menginjak batu ini, agar terhindar dari celaka.

 

Mount Arjuna (East Java) has two typical ecosystems: upper and lower montane forest. It is a habitat for important flora and fauna species amongst which the endangered Javan Hawk Eagle and the Javan Grizzled Langur.

Beside this, it is an important water catchment area, providing water for around 60% of the population of East Java. The area around Mt. Arjuna suffers immense damage from illegal logging, charcoal production, agricultural encroachment and forest fires. These have led to water reliability issues and cyclical drought and flood problems as well as the destruction of various natural habitats.

The Mount Arjuna Tourism Area (MATA) project aims to develop tourism products and circuits on and around Mt. Arjuna, directed by Kaliandra with cooperation of the surrounding communities. The project will raise the profile of Grand Forest Park Reserve Soerjo through developing nature-based, cultural, and health tourism products. The products and itineraries will be used to promote responsible tourism in the area.

These activities, with the involvement and employment of the local people, are intended to reduce the illegal activities taking place and propagate conservation of this area through more income for local people because of direct and indirect involvement in tourism.

The main activities planned are product identification and development, marketing, training of local people and the creation of a central organisation to manage tourism activities

Gunung Arjuna is twinned with Mount Welirang and they are best climbed together with a night's stay on the mountain - there is a campsite between the two peaks. Climbs start in either Tretes or Sumberbrantas; the latter of which is more pleasant. Views from the top of Gunung Arjuna are breathtaking as you can see other volcanoes in the distance as well as the town of Malang.

Apart from the mountain itself, Gunung Arjuna-Lalijiwo Reserve contains the beautiful Kakek Bodo Waterfall. It is very pretty and lies on the route to the peak of Mount Arjuna. The reserve features many types of forests, including dipterokarp, montane, and ericaceous forests along with a huge amount of wildlife including monkeys.

This peak is the highest point of the enormous Arjuna-Welirang range, located just 50 kilometres south of Java’s second largest city Surabaya. The lower Welirang peak is active though Arjuna itself is dormant. The twin Kembar peaks nestle between them and a traverse of the entire range is one of the finest hikes in Java. It’s a huge area so camping for a night or two is absolutely necessary.

A guide is necessary for all routes as the navigating the paths can be very difficult indeed on the higher slopes. Unfortunately, finding good guides seems to be quite difficult for this mountain range and there have been several reports of guides with little knowledge of the range climbing totally unprepared. Therefore it is best to try to arrange guides in advance rather than just turning up at the starting point.

There are several routes – permits should be easy to arrange at all of them – the most popular and well-defined being from the mountain resort of Tretes to the north of the range. This trail leads up Welirang (3,156m) and then south to the Kembars and finally Arjuna. This route takes a minimum of 8 hours so most people stay for one night in a sulphur collector’s shelter on Welirang before continuing to Arjuna.

The range is also accessible from Selekta/Selecta in the south-west near Batu and from Sumber Brantas/Cangar to the west. This route is especially useful fort anyone wishing to climb either Welirang or Arjuna as it starts high up and leads to a pass between the Kembars. Hikers can then choose to turn left (north) towards Welirang or right (south) towards Arjuna. Sumber Brantas is 11km beyond Selekta and the hike begins at two cement pillars (1,750m) just before the road descends to Cangar air panas (hot springs) at 1,628m.

The start of the trek is a farm track leading through fields of carrots and potatoes. There are plenty of track junctions so local knowledge is essential. At 2,022m the trail enters forest and at 2,110 make sure you turn left rather than heading up to the right. There is a tiny camping area at 2,153m before a reight turn at 2,200m. There is a lot of dense vegetation here so it can be difficult navigating the correct path. The route leads under several large tree trunks before emerging at a slightly larger camping area (2,357m) marked with a large boulder. From here the Kembars are clearly visible in good weather.

The route continues through pine woodland, a right turn at 2,571m (follow the yellow and blue string). After another camping area you will encounter some hot steam emerging from beneath boulders in the middle of the pine woodland (2,644m). The forest ends at 2,900m and the truly great views begin. Soon the trail reaches the top of the pass (2,910m) between the Kembars. This is an excellent and popular place to camp.

To reach Arjuna, take a right turn (south) here. The trail is quite difficult to see at this point so simply follow the contour of the mountain ridge and you will find the correct trail. The first peak you reach is Kembar (south) and from here you can enjoy the fantastic panorama to many other mountains both near and far. There are shallow, grassy craters and lots of sulphur vents on this peak so take care not to inhale the gases. From this peak, the trail dips steeply to the col between Kembar south and Arjuna – now clearly visible as an impressive, narrow and steep mountain just ahead of you.

The trail leading down from Kembar south is very steep so take you time and be careful not to head down one of the very dangerous cliff areas. Beyond the col is a large and incredibly wild area of huge volcanic boulders scattered across a minor peak. It’s a confusing area and easy to get lost here in bad weather. To avoid this area and head straight to the climb to Arjuna, head round to the left (east) and pick up the trail up the steep pinewood slopes of Arjuna at a green sign (2,851m). It’s a long haul up the slopes but the views are incredible – Gunung Butak to the right, Gunung Penanggungan to the left and Welirang behind (north).

There are plenty of place to camp all over Arjuna mountain so finding a spot even at weekends should not be a problem here, especially above 3,100m. The first top you will reach on Arjuna is crowned with a regional boundary marker (3,315m). The trail then descends slightlyu before heading up to a wider summit area. This is a very similar height to the final top – which most people consider the true summit – and may even be a metre or two higher. From this top Semeru is visible right infront of you. The final top is a very narrow, impressive and boulder-strewn peak and there is a green sign to inform you that you have finally reached the top of Arjuna. This summit itself is known as ‘puncak ringgil’.

If not returning the same way, there are routes down to Lawang and Purwosari in the east. Both are long, long hikes which take a minimum of 6/7 hours. Just below the narrow summit with the sign is a trail heading east (in the direction of Semeru). It leads down through pine woodland to a tree with signs on it (3,100m). Here take a left for a route down to Purwosari (which eventually leads to some ancient monuments) or a right turn for Lawang.

The Lawang trail is very overgrown but if you keep the huge mountain range of Semeru infront of you it is difficult to get truly lost. Notable landmarks are Shelter 3 (‘Pos Mahapena’, 2,179m), a border stone at 1,910m, Shelter 2 (‘Pos Lincing’, 1,597m) which has an actual hut before the trail leads down through the large tea plantation at Wonosari. You finally reach a road at 925m and ojeks can easily be arranged at the security post for the 4km journey to the main Surabaya-Malang road at Lawang.

However, if you have time you can actually stay at Wisata Agro Wonosari – a popular weekend retreat at the tea plantation where there is a good range of accommodation available.

dari kota Malang kita naik mobil kecil/bus jurusan surabaya turun di pasar Purwosari. Dari pasar Purwosari kita bisa naik angkutan desa warna kuning atau dengan ojek menuju dusun Tambak Watu.

  • Kebun Raya Malang
  • Candi Singosari
  • Candi Sepilar
  • Candi Wesi
  • Gua Antaboga
  • Punden Eyang Madrem
  • Eyang Abiyasa
  • Eyang Sekutrem
  • Kolam Dewi Kunti
  • Eyang Sakri
  • Eyang Semar
  • Sepilar

Catatan penting !!
1. Pendaki harap tidak melakukan pengrusakan, memindahkan, mengambil, atau melakukan corat-coret di situs-situs purbakala. Situs-situs purbakala ini dilindungi Undang-undang. Ada baiknya pendaki mempelajari cerita wayang sebelum melewati jalur ini, agar lebih memahami arti dari situs-situs purbakala ini.

2. Jalur ini khusus digunakan oleh para pejiarah, terutama para penganut kejawen untuk bermeditasi mencari ketenangan hidup, harap para pendaki berlaku sopan tidak berbuat keributan. Hargai keyakinan dan kepercayaan orang lain. Hindari melewati jalur ini pada bulan suro dan malam jumat, terutama pada hari-hari jiarah dan pada saat ada upacara ritual.

3. Apabila sudah selesai menggunakan pondok-pondok yang ada, harap dirapikan kembali, dibersihkan, hargai para pejiarah yang telah membangun pondok - pondok ini. Kita juga harus bersyukur karena para pejiarahlah maka situs-situs ini terawat rapi.

4. Ketika melewati petilasan-petilasan yang wingit dan angker ini ucapkan kata-kata "permisi eyang" terutama bila melewati petilasan Eyang Sekutrem, harus bilang permisi dan terima kasih.

5. Hati-hati bila berada di sekitar petilasan Eyang Semar, berlakulah sopan dan jangan sekali-kali berpikiran yang jahat, hindari menginap di lokasi ini karena tempat ini paling angker dan merupakan tempat yang paling sering dikunjungi para pejiarah untuk memohon berkah Eyang Semar.

6. Getaran-getaran kekuatan gaib sangat terasa di sepanjang jalur jiarah pendakian, suasana yang benar-benar wingit dan angker sangat terasa. Hati-hati dalam berpikir dan bertindak, hilangkan semua pikiran jahat.

7. Camkan baik-baik "Sura Dira Jaya Diningrat Lebur Dining Pangastuti" (Kejahatan pasti kalah oleh kebaikan), bagi mereka yang berpikiran dan berhati tidak bersih, penuh kesombongan dan keangkuhan hindari melalui jalur ini. Sebaliknya bagi pendaki/pejiarah yang berhati tulus, cinta alam dan kehidupan, berwatak kesatria, jalur ini diyakini penuh berkah.

New Page 1
 
 
 
 

 
Toko Buku Online
 
 
New Page 1

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU