NATURE WATER MOUNTAIN VOLCANO CAMP HIKE COMPUTER
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI
 

 

Gunung Lawu terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Puncak tertinggi gunung Lawu (Puncak Argo Dumilah) berada pada ketingggian 3.265 m dpl.

Kompleks Gunung Lawu ini memiliki luas 400 KM2 dengan Kawah Candradimuka yang masih sering mengeluarkan uap air panas dan bau belerang. Terdapat dua buah Kawah tua di dekat puncak Gunung Lawu yakni Kawah Telaga Kuning and Kawah Telaga Lembung Selayur.

Banyak sekali tempat-tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat sehingga tidak hanya anak muda, tetapi banyak orang tua yang mendaki gunung Lawu untuk berjiarah. Masyarakat Jawa percaya bahwa puncak gunung Lawu dahulunya adalah merupakan kerajaan yang pertama kali di pulau Jawa. Gunung Lawu ini sangat berarti bagi Masyarakat Jawa terutama mereka yang masih percaya dengan Dunia Gaib. Terdapat banyak tempat wisata disekitar gunung Lawu seperti Telaga Sarangan, Air Terjun Grojogan Sewu, Tawangmanu, Candi Sukuh, Sangiran, Kraton Solo.

Gunung Lawu dapat didaki lewat Cemoro Kandang (Jawa Tengah) atau Cemoro Sewu (Jawa Timur), jarak kedua tempat ini tidaklah begitu jauh. Dari Tawangmangu kita bisa naik mobil Omprengan menuju Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang.

Apabila terlalu sore kita harus mencarter mobil dan bila tidak ada mobil kita harus berjalan kaki sekitar 9,5 Km menuju Cemoro Kandang atau 10 Km menuju Cemoro Sewu. Mobil terakhir omprengan biasanya sekitar pukul 17.00, namun bila sedang ramai kadangkala jam 19.00 masih ada mobil omprengan.

JALUR CEMORO SEWU

Di Cemoro Sewu terdapat pemancar TVRI yang mengarah ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Cemoro Sewu berada pada ketinggian 1.600 mdpl, sore hari udara di tempat ini sudah terasa dingin sekali.

Para pendaki biasanya beristirahat di pos Cemoro Sewu untuk menunggu malam hari tiba, karena pendakian terbaik pada malam hari ( 21.00 - 23.00 ) dan kita sampai dipuncak menjelang pagi untuk menyaksikan sunrise. Terdapat sebuah mushola dan MCK yang memiliki enam buah kamar mandi dan WC.

Kawasan Cemoro Sewu kini semakin dipercantik dan diperlebar sehingga menyerupai suasana puncak pass di Bogor - Cianjur. Kalau di sepanjang tepi jalan di Puncak Pass Bogor - Cianjur dipenuhi dengan pedagang jagung bakar maka di "Puncak Pass" Cemoro Sewu ini dipenuhi dengan para pedagang sate kelinci dan sate "jamu" yang berjajar disepanjang tepian jalan. Kawasan Cemoro Sewu sekarang sangat populer di kalangan muda-mudi di yogya, Solo, Sragen, Karanganyar dan sekitarnya, yang biasanya ditempuh dengan menggunakan sepeda motor. Tempat ini menjadi lokasi nongkrong sambil berpacaran atau sekalian berwisata ke Telaga Sarangan dan Air Terjun Grojogan Sewu. Jalan diperlebar dengan memotong tebing-tebing dan dibelah menjadi dua jalur. Di tengah jalan dibuat trotoar pembatas jalan yang dilengkapi dengan lampu-lampu cantik mirip jalan malioboro di Yogya.

Jalur Cemoro Sewu memiliki jalan setapak berbatu yang sudah tertata rapi. Awal perjalanan jalur ditumbuhi oleh pohon-pohon Cemara, karena lebatnya hutan Cemara yang tumbuh maka daerah ini dinamai Cemoro Sewu (Seribu Cemara). Pemandangan kontras segera muncul setelah melewati hutan Cemara. Di kiri kanan jalur terdapat kebun sayur hingga mencapai Pos 1. Sementara di sela-sela Kebun Sayuran pohon- pohon sisa kebakaran nampak kering, menunggu untuk roboh.

Sebelum sampai Pos 1 terdapat Sumber Air Wesanan dipuncak gunung kita menemukan tempat-tempat mata air yang dikeramatkan oleh masyarakat. Jalur mendatar dan sedikit menanjak hingga Pos Pertama. Pos pertama kami bertemu dengan pendaki lain yang sedang beristirahat, di sini juga terdapat sebuah bangunan untuk beristirahat juga ada sebuah warung makanan, yang buka pada hari Kamis-Minggu dan pada musim-musim ramai pendakian dan ramai orang berjiarah.

Menuju Pos 2 jalur melewati batu-batuan dengan kemiringan yang cukup tajam. Kita akan melewati tempat keramat yakni Watu Jago, sebuah batu besar yang bentuknya menyerupai ayam jago.

Pos 2 berupa dataran yang agak luas, banyak ditumbuhi pohon-pohon besar dan banyak batu besar, sehingga pendaki dapat membuat tenda ditempat ini dengan nyaman karena terlindung dari hempasan angin. Bila ramai di Pos 2 ini juga sering terdapat pedagang makanan. Di Pos ini terdapat bangunan beratap yang sering digunakan para pedagang untuk berjualan makanan.

Dari Pos 2 menuju Pos 3 Jalur batu-batuan semakin curam dan menanjak. Di jalur ini terdapat asap belerang sehingga pendaki disarankan untuk tidak berlama-lama beristirahat di Pos 3. Menuju Pos 4 jalur menanjak, merangkak pada batu-batuan.

Pos 4 hanya berupa tempat datar yang sempit yang berada di cerukan tebing batu, hanya cukup untuk mendirikan satu buah tenda, tempat ini sedikit terlindung dari hempasan angin.

Setelah melewati Pos 4 kami sudah berada dilereng yang curam, angin sangat kencang dan dingin sekali. Jalanan sangat sempit dan curam, Ade badannya hampir beku, kami berusaha mencari celah bukit untuk berlindung dari angin. Kami menemukan sedikit celah dan cukup luas untuk berempat beristirahat. Kami kumpulkan sisa-sisa api unggun pendaki lainnya. Lama sekali kami berusaha membuat api unggun , namun tiada kunjung nyala, sementara kami semakin kaku kedinginan. Akhirnya kami membakar kaos kaki dan celana dalam satu persatu untuk menghangatkan badan.

 

Pos 5 atau Pos Sumur Jolotundo berada di dekat Sumur Jolotundo yang sangat keramat. Pos ini berupa tempat datar terbuka yang luas dapat untuk mendirikan beberapa tenda. Namun di tempat ini kurang terlindung dari hempasan angin.

Dari Pos 5 kita sedikit turun, kemudian sedikit mendaki dan mengelilingi salah satu puncak, untuk menuju ke Sendang Drajad.

Dari Sendang Drajad dapat dilanjutkan ke Puncak Argo Dumilah, atau jalan lagi melingkari salah satu puncak menuju Hargo Dalem. Dari Hargo Dalem pendaki dapat melanjutkan perjalanan melalui Jalur Cemoro Kandang atau Jalur Candi Seto.

Puncak gunung Lawu pagi itu udaranya sangat bersih kami dapat melihat pantulan matahari di Samudera Indonesia, deburan dan riak ombak Laut Selatan sepertinya sangat dekat. Sangat jelas terlihat kota Wonogiri juga kota-kota di Jawa Timur. Tampak waduk Gajah mungkur di Wonogiri juga dapat terlihat dengan jelas sekali telaga Sarangan yang dikelilingi tempat penginapan.

TEMPAT-TEMPAT KERAMAT DI GUNUNG LAWU

Nama asli gunung Lawu adalah Wukir Mahendra. Menurut legenda, gunung Lawu merupakan kerajaan pertama di pulau Jawa yang dipimpin oleh raja yang dikirim dari Khayangan karena terpana melihat keindahan alam diseputar Gn. Lawu. Sejak jaman Prabu Brawijaya V, raja Majapahit pada abad ke 15 hingga kerajaan Mataram II banyak upacara spiritual diselenggarakan di Gunung Lawu. Hingga saat ini Gunung Lawu masih mempunyai ikatan yang erat dengan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta terutama pada bulan Suro, para kerabat Keraton sering berjiarah ke tempat-tempat keramat di puncak Gn.Lawu.

TELAGA KUNING

Terdapat padang rumput pegunungan banjaran Festuca nubigena yang mengelilingi sebuah danau gunung di kawah tua menjelang Pos terakhir menuju puncak pada ketinggian 3.200 m dpl yang biasanya kering di musim kemarau. Konon pendaki yang mandi berendam di tempat ini, segala keinginannya dapat terkabul. Namun sebaiknya jangan coba-coba untuk mandi di puncak gunung karena airnya sangat dingin.

SENDANG PANGURIPAN

Rumput yang tumbuh di dasar telaga ini berwarna kuning sehingga airnya kelihatan kuning. Telaga ini diapit oleh puncak Hargo dumilah dengan puncak lainnya. Luas dasar telaga Kuning ini sekitar 4 Ha.

SENDANG DRAJAD

Terdapat sebuah mata air yang disebut Sendang Drajad, sumber air ini berupa sumur dengan garis tengah 2 meter dan memiliki kedalaman 2 meter. Meskipun berada di puncak gunung sumur ini airnya tidak pernah habis atau kering walaupun diambil terus menerus. Air sendang ini dipercaya dapat memberikan mujijat bagi orang yang meminumnya. Juga terdapat bangunan yang berupa bilik-bilik untuk mandi, karena para pejiarah disarankan untuk menyiram badannya dengan air sendang ini dalam hitungan ganjil.

SUMUR JOLOTUNDO

Juga ada sebuah gua yang disebut Sumur Jolotundo menjelang puncak, gua ini gelap dan sangat curam turun ke bawah kurang lebih sedalam 5 meter. Gua ini dikeramatkan oleh masyarakat dan sering dipakai untuk bertapa. Sumur ini berupa lubang bergaris tengah sekitar 3 meter. Untuk turun ke dalam sumur harus menggunakan tali dan lampu senter karena gelap. Di dalam sumur terdapat pintu goa dengan garis tengah 90 cm. Konon di dalam sumur Jolotundho ini sering digunakan untuk bertapa, dan digunakan guru-guru untuk memberi wejangan/pelajaran kepada muridnya.

SENDANG WESANAN

Terdapat sebuah bangunan di sekitar puncak Argodumilah yang disebut Hargo Dalem utuk berjiarah, disinilah tempatnya Eyang Sunan Lawu. Tempat bertahta raja terakhir Majapahit memerintah kerajaan Makhluk halus. Hargo Dalem adalah makam kuno tempak mukswa Sang Prabu Brawijaya. Pejiarah wajib melakukan pisowanan (upacara ritual) sebanyak tujuh kali untuk dapat melihat penampakan Eyang Sunan Lawu. Namun tidak jarang sebelum melakukan tujuh kali pendakian, pejiarah sudah dapat berjumpa dengan Eyang Sunan Lawu.

Di sekitar Hargo Dalem ini banyak terdapat bangunan dari seng yang dapat digunakan untuk bermalam dan berlindung dari hujan dan angin. Terdapat warung makanan dan minuman yang sangat membantu bagi pendaki dan pejiarah yang kelelahan, lapar, dan kedinginan. Inilah keunikan Gunung Lawu dengan ketinggian 3.265 mdpl, terdapat warung di dekat puncaknya.

Pasar Diyeng atau Pasar Setan, berupa prasasti batu yang berblok-blok, pasar ini hanya dapat dilihat secara gaib. Pasar Diyeng akan memberikan berkah bagi para pejiarah yang percaya. Bila berada ditempat ini kemudian secara tiba-tiba kita mendengar suara "mau beli apa dik?" maka segeralah membuang uang terserah dalam jumlah berapapun, lalu petiklah daun atau rumput seolah-olah kita berbelanja, maka sekonyong-konyong kita akan memperoleh kembalian uang dalam jumlah yang sangat banyak. Pasar Diyeng/Pasar Setan ini terletak di dekat Hargo Dalem.

SENDANG INTEN

Pawom Sewu terletak di dekat pos 5 Jalur Cemoro Sewu. Tempat ini berbentuk tatanan/susunan batu yang menyerupai candi. Dulunya digunakan bertapa para abdi Raja Parabu Brawijaya V.

Gunung Lawu bersosok angker dan menyimpan misteri dengan tiga puncak utamanya : Harga Dalem, Harga Dumilah dan Harga Dumiling yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa.

Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat moksa Prabu Bhrawijaya Raja Majapahit yg terakhir. Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.

Raja Majapahit terakir Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping V memiliki salah seorang istri yang berasal dari negeri Tiongkok bernama Putri Cempo dan memiliki putera Raden Patah, Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Jinbun Fatah mendirikan Kerajaan Islam di Glagah Wangi (Demak).

Prabu Brawijaya bersemedi dan memperoleh wisik yang pesannya : sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan yang baru tumbuh serta masuknya agama baru (Islam) memang sudah takdir dan tak bisa terelakkan lagi.

Prabu Brawijaya dengan hanya disertai abdinya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton naik ke Gunung Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang umbul (bayan/ kepala dusun) yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia mukti dan mati mereka  tetap bersama Raja.

Sampailah Prabu Brawijaya bersama 3 orang abdi di puncak Hargodalem. Saat itu Prabu Brawijaya sebelum muksa bertitah kepada ke tiga abdinya. Dan mengangkat Dipa Menggala menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib (peri, jin dan sebangsanya) dengan wilayah ke barat hingga wilayah Merapi/Merbabu, ke Timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan mengangkat Wangsa Menggala menjadi patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.

Prabu Brawijaya muksa di Hargo Dalem , sedangkan Sabdo palon muksa di puncak  Harga Dumiling. Karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya Sunan Lawu dan Kyai Jalak kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.

SENDANG MACAN

Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga puncak tersebut yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan /Cakrasurya, dan Pringgodani.

-->> Gunung Lawu jalur Comoro Kandang

 

Mount Lawu, is a massive compound strato volcano straddling the border between East Java and Central Java, Indonesia. The north side is deeply eroded and the eastern side contains parasitic crater lakes and parasitic cones. A fumarolic area is located on the south flank at 2,550 m. The only reported activity of Lawu took place in 1885, when rumblings and light volcanic ash falls were reported

Many mountaineers climb this mountain to adore the green scenic view, with lovely Edelweiss flowers on its top, and the challenging beauty of the dead crater, southward of the peak, locally known as Kawah Kuning (yellow crater). The highest peak is hilly plain, known as Argo Dumilah, where a "Tri-angular Pole" is erected.

The mountaineering routes to Mt. Lawu

1. From the city of Solo or Surakarta Travel to Tawangmangu, a hilly resort (1305 m high), 40 Km East of Solo. Then continue further 1,5 Km to Cemoro Kandang (Central Java) or Cemoro Sewu (East Java) (1600 M).

2. From East Java, Madiun Travel to Lake Resort Sarangan, on the east slope of the mountain and then continue to Cemoro Sewu. Mt. Lawu stands peacefully in the South border of central and East Java.

Yellow Crater Triangular Peak

From Cemoro Kandang

1. Itís 12 Km climb, normally it should take 7 hours walk.

2. Thereís a registration station belonged to Forest Authority (Perhutani). Guide, supplies and information are available. For traditional stories of Mt. Lawu, Pak (Mr) Sumarsono can be contacted.

3. A climber shall walk thru dense wood, near the top, the vegetation are rare, then some specific mountain trees and bushes such as Santigi and Eidelweiss appear.

4. There are satisfactorily 5 huts (5 Pos), namely: * Pos 1 : Taman Sari Bawah (Lower Garden) (2300 M) The water of the river here contains sulphur. * Pos 2 : Taman Sari Atas (Upper Garden Ė 2.470 M). A fresh cool air amidst the green trees. There is an active crater, evaporating sulphur. * Pos 3 : 2760 M (Pos Penggik) Nearby a spring, by the name of Sendang Panguripan (life spring), producing a cool healthy drinking water. * Pos 4 : 3025 M This location is named Cokro Suryo, it is a large plain to enjoy the sunset and the picturesque panorama. * Pos 5 : 3150 M

5. Above these huts, there are

1. Pesanggrahan Argo Dalem (3170 M), small cottages. 2. The highest peak: Argo Dumilah

From Cemoro Sewu

1. Itís 9 Km climb, with steep stony path. 2. There are 5 huts to the top. 3. Contact Ibu (Mrs) Warno at the base camp. Guide, supplies etc are available.

The return journey to the base camp, one shall spend around 4 hours walk.

Ancient Mountain

Its old name was Wukir Mahendra, some believe the top of the mountain was the first kingdom on the island, the dwellers were Gods descending from Kahyangan (heaven), upon seeing an empty beautiful place like a paradise.

It was the retreat of King Brawijaya V, the last king of Majapahit Empire in the 15th century. It has also a strong spiritual traditional relation with the rulers of Mataram Kingdom II and the Karaton (palace) of Surakarta and Yogyakarta.

In ancient Javanese mythology, Lawu is called Mahendra and legend has it that the gods who created the first kingdom in Java descended from heaven here. In later history, Lawu was the retreat of the last king of Majapahit, Brawijaya V. On the eve of the Javanese New Year, thousands of adherents of the indigenous Javanese belief--kebatinan--climb to the summit to meditate.

As in other sacred places in Java, names that dot the landscape often echo the ancient Indian epic, Mahabharata. The crater, for instance, is called Candradimuka, believed to be the place where the gods boiled Bhima's son Gatotkaca in molten metal to make him invincible. Bhima is the second of the five Pandawa brothers, who are the main protagonists in the Mahabharata.

A cave called Sigolo-golo recalls the name of the cave that the Pandawa brothers, led by the brave Bhima, escaped through when their palace apartment was burned down by their evil cousins the Kurawa.

Brawijaya V had a fascination with honest Bhima, for in the Karanganyar regency (in Central Java), on the Surakarta side of Lawu, he built two fascinating temples dedicated to him; Candi Sukuh which looks almost Mayan and Candi Cetho.

Candi Cetho was "developed" on the orders of the late president Suharto without any archaeological considerations. Irresponsible and inappropriate development is still irreversibly changing the spiritual sites of Lawu. The current building of a Javanese pendapa pavilion with marble flooring, over a sacred stone in the area near the summit called the keputren--the princesses' quarters--by a wealthy businessman, is but one example.

The shortest route to the summit of Lawu begins in the Cemara Sewu village, between the resorts of Tawangmangu and Sarangan. You can also begin from Cemara Kandang, but the trek is longer and the path is not paved. The distance between Cemara Sewu and the summit called Hargo Dumilah is 7 kilometres. The average time needed to climb to the summit is 7 to 9 hours, but if you are fit, you can do it in 4 to 5 hours. Super fit mountaineers fly up in 3 hours.

For the first 2km or so you walk through agricultural land, where the locals plant vegetables amongst charred skeletons of trees that stand as a reminder that this area is prone to forest fires. As you go higher the vegetation changes and if you are climbing in daylight, you will begin to notice that inquisitive, orange beaked, brown birds are following you. These are Jalak Gading (Acridotheres javanicus) and are endemic to Lawu. Unlike other wild birds in Java, these guardians of Lawu are protected by the belief that whoever attempts to harm them will get lost and perish. The birds do not have the fear of humans that animals in Java have (except for city rats).

To reach the summit for sunrise, begin climbing in evening. The advantage of hiking in the night is that the sight of the dauntingly steep hills will not deflate your spirits. It is best to chose a time close to full moon in the dry season. You will enjoy the millions of stars in the sky, twinkling, falling, and shooting. There are five resting places on the way to the summit where you can light a campfire if you need to keep warm while you rest but be sure to extinguish the fire properly before you leave and remember that the best way to stay warm is to keep moving. It is dangerous to wander off the track looking for firewood.

At the fifth resting post, you will find a shack by a shallow well that has a tiny spring at the bottom of it. This is the sacred Sendang Drajat and the freezing cold water from this spring is believed to have the power to make the person who bathes in it attain high achievements in life.

Mr and Mrs Parto live in the shack and they sell food and hot drinks at very reasonable prices considering that they have to carry everything up the path that you have just climbed. Next door to their shack is a cave where you can take a nap if you do not have a tent.

Alternatively, you can walk a little further to the site called Hargo Dalem, where Brawijaya V used to meditate. Mbok Yem and her son Muis also have a warung here, and space to rest.

These two places are good places to rest because the worst is over and the summit, Hargo Dumilah is a mere 0.8km away.

Down the other way from the summit, there is a flat plain called Selo Pundutan with many Edelweiss blooms. The followers of Brawijaya V used to practice martial arts here.

If you arrive at the summit early, take time to explore the sites around it but conserve enough energy for the hike down.

Bring your litter down because the whole track is filthy with energy drink bottles and various items of plastic waste. It is in everyone's interest to make Lawu clean once more.

 

Cemara gunung adalah tumbuhan yang mendominasi kawasan gunung Lawu. Edelweis Ungu adalah bunga unik yang hanya bisa ditemukan di lereng dan sekitar puncak gunung Lawu. Burung Ciung sebesar jempol bersarang diantara cabang-cabang tanaman Edelweis. Harimau Jawa yang dianggap punah juga pernah dilihat dan diburu di hutan kawasan Gunung Lawu.

1. Bus Jur.  Solo - Tawangmangu
2. Angkot Jur.  Tawangmangu  - Cemoro Kandang / Sewu

Dari Tawangmangu bisa menyewa kuda hingga puncak Hargo dalem lewat jalur Cemoro Kandang.

  • Tawangmangu
  • Air terjun Grojogan Sewu
  • Candi Seto
  • Candi Sukuh
  • Telaga Sarangan
  • Argodalem
  • Sendang Drajad
  • Sumur Jolotundo
  • Sendang Inten
  • Sendang Panguripan
  • Pasar Dieng
  • Air Terjun Pringgodani
 
Sarangan lake which is also known as lake sand is a natural lake situated at the foot of Mount Lawu, in District Plaosan, ofMagetan, East Java. Located approximately 16 kilometers west of the city Magetan. This vast lake of about 30 hectares and 28 meters berkedalaman. With temperatures between 18 and 25 degrees Celsius, Telaga Sarangan able to attract hundreds of thousands of visitors every year.

Telaga Sarangan a mainstay attractions Magetan. Around the lake there are two hotels, 43 first class hotels jasmine, and 18 cottage beside the tens wisata.Di souvenir kiosk, visitors can also enjoy the beautiful ride around the lake Sarangan with, or cann cepat.Fasilitas other attractions is also available, such as home eat, play area, tourist market, parking, public telephone facilities, places of worship, and parks.

The presence of 19 restaurants around the lake makes the visitors have many alternative options menu. Similarly, the presence of street vendors who offer a variety of souvenirs has made it easier for visitors to purchase souvenirs. The specialty is peddled around the lake is a rabbit satay.

Magetan also helped with the potential for local small industries which are able to produce handicrafts for souvenirs, such as woven bamboo, leather crafts, and special food products such as chips melinjo and plate (from rice crackers).

Sarangan lake also has a boat rental service and rickshaws water. There were 51 boats and 13 motor rickshaw water that can be used to explore the lake.

Sarangan lake has several important annual event calendar, which is moored on Friday offerings Ruwah Pon months, school holidays in mid-year, Ledug Sura 1 Muharram, and the fireworks on New Yearís Eve.

Local district government was making the pass that connects the project Telaga Sarangan with sights Tawangmangu in Karanganyar District. Widening project and stagnant steep road that connects the two regions are expected to be completed in 2007.

This tourist attraction can be reached from the City Magetan; and its location just off the Waterfall Grojogan Sewu, Tawangmangu (Karanganyar district, Central Java).

Pemkab Magetan also want to develop Poncol Reservoir (about 10 miles south of Lake Sarangan) as an alternative tourism.

The climate around is quite cool and comfortable, is around 20 degrees Centrigrade, but at nights it lowers to 15 degrees Centrigrade, hence appropriate for recreations.

The facilities that are managed by the local government of Magetan, are among others; hotels; logements, restaurants, fruit and vegetables markets, and souvenir shops. Besides that, there are other facilities, like a parking space, musholla (small mosque) and guard station.

Magetan is a regency of East Java, Indonesia.

Within Magetan there is a subdivision also called Magetan. Magetan has a famous lake called Sarangan Lake which is located in the Sarangan District. The chairman of "Jawa Pos Group", a famous newspaper in Indonesia, Dahlan Iskan, was born here. Also Prof. Dr. Samaun Samadikun (ex-Chief LIPI), and Charis Suhud (ex-Vice Chief MPR).

Culinary specialities from Magetan are:

  • Tepo tahu
  • Getuk pisang, made from banana (from Kauman District)
  • Kurmelo, made from orange skin with dates addition
  • Lempeng, snack made from dried rice

Famous Locations

  • Mount Lawu
  • Cetho Temple Sarangan Lake, famous lake in East Java
  • Tirtosari Waterfall, near Sarangan
  • Lake Ngancar Waterfall, in Ngerong District Taman
  • Toga (Herbal Medicine Park), in Plaosan District
  • Leather Product's Center, at Sawo Street, famous Leather Production in East Java beside Tanggulangin (Sidoarjo)
  • Military Airport: Lanud Iswahyudi
 

 

New Page 1
 
 
 
 
Lazada Indonesia

 
Toko Buku Online
 
 Secret Lighting
 
 Rekam Jejak Pendakian ke-44 Gunung di Nusantara
New Page 1

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU