MERBABU.COM Pendakian Gunung Merapi Merbabu Jawa Tengah
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI

Gunung Tangkuban Perahu salah satu Gunung yang sungguh menakjubkan. Gunung aktif ini memiliki puncak yang berbentuk mangkuk besar yang pada pagi hari terlihat jelas dan menjadi tempat yang cocok untuk dijadikan tempat tamasya baik bagi orang Bandung itu sendiri maupun bagi yang dari luar Kota Bandung.

Gunung Tangkuban Perahu selalu diliputi kabut tipis menjelang malam tiba. Kabut tipis yang selalu melayang tersebut membawa cerita-cerita mistis. Menurut beberapa orang pengunjung yang berkemah, pada malam-malam tertentu sering terdengar suara perempuan tertawa cekikikan. Namun bila suara tersebut diperhatikan akan hilang dengan sendirinya. Terdapat sebuah sumber air yang berupa sumur yang tidak pernah kering, terletak diantara Kawah Uwi dan Kawah Upas. Sumber air ini diyakini airnya bila diminum bisa membuat awet muda dan terhindar dari berbagai penyakit.

Pada hari-hari tertentu sering muncul seberkas sinar yang melesat ke langit di atas gunung. Menurut kepercayaan warga, sinar itu jelmaan ular dan ikan mas yang sering muncul dari kawah gunung, hal ini diyakini sebagai pertanda akan terjadi sesuatu hal di sekitar daerah ini. Konon pada hari-hari tertentu fragmen cerita legenda Sangkuriang sering terlihat dipentaskan di dasar kawah Uwi. Namun kejadian langka ini hanya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu yang bisa melihat secara gaib.

Asap yang mengepul dari puncak gunung yang berasal dari kawah-kawah dapat kita saksikan langsung. Asap yang mengepul itu terjadi setiap saat, ada satu lagi, yaitu bau belerang yang tidak begitu enak, jadi sebelum pergi kesana harus siap-siap dulu.

Kawah tangkuban Perahu itu sendiri menurut proses geologi terjadi oleh karena letusan Gunung Tangkupan Perahu, diman Gunung ini pernah meletus pada 1829, 1846, 1910, dan 1926 yang membentuk sepuluh kawah di antaranya adalah Kawah Ratu, Kawah Upas, Kawah Omas, dan Kawah Juring. Banyak pelancong remaja yang melakukan hiking untuk mencapai kawah tersebut.

Untuk mengunjungi Tangkuban Perahu, kendaraan hanya bisa mencapai kawah utama yaitu Kawah Ratu. Tangkuban Perahu terletak 28 km sebelah utara Bandung. Dengan lebar 2 km, gunung vulkanik yang tingginya 1.800 m dapat dicapai dalam waktu 30 menit dari Kota Bandung. Sepanjang perjalanan menuju Tangkuban Perahu kita dapat menikmati pemandangan dataran tinggi Bandung yang dikelilingi pegunungan.

Sampai di Tangkuban Perahu, pastinya di Kawah utama yaitu Kawah Ratu kita harus berjalan, memanjat ke Stasiun Geologi di bagian atasnya atau turun ke kawah aktif lainnya yakni Domas. Aktivitas perjalanan akan memberi Anda pengalaman alam menakjubkan. Dari Domas ada jalan setapak menuju hutan ke luar jalan sekitar 2 km dari tempat parkir dekat Kawah Ratu.

Jika Anda menggunakan kendaraan umum, dari terminal bus Abdul Muis naik kendaraan menuju Ledeng. Kemudian naik kendaraan menuju Lembang, lalu disambung lagi dengan kendaraan yang menuju Puncak Gunung tersebut.

Diperkirakan beberapa ribu tahun yang lalu sekitar 2000 hingga 6000 tahun, telah terjadi beberapa kali letusan gunung Tangkuban Perahu. Lahar, lumpur, abu, dan batu-batuan yang dihasilkan oleh letusan gunung tersebut telah membendung lembah Padalarang. Kolam besar Bandung yang pertama terbentuk dan berubah menjadi danau seluas 700 km2.

Danau tersebut dalam jangka lama mengering melalui aliran sungai Citarum, dan terbentuklah dataran Bandung yang sangat subur. Sekitar 150 tahun yang lalu danau tersebut masih tetap lebar dan banyak terdapat binatang liar seperti banteng, badak, dan harimau dalam jumlah yang sangat banyak. Hingga kini di wilayah bagian selatan sangat mudah sekali terkena banjir

Legenda Gunung Tangkuban Perahu

Pada jaman dahulu kala, di tatar Parahyangan, berdiri sebuah kerajaan yang gemah ripah lohjinawi kerta raharja. Tersebutlah sang prabu yang gemar olah raga berburu binatang, yang senantiasa ditemani anjingnya yang setia, yang bernama "Tumang".

Pada suatu ketika sang Prabu berburu rusa, namun telah seharian hasilnya kurang menggembirakan. Binatang buruan di hutan seakan lenyap ditelan bumi. Ditengah kekecewaan tidak mendapatkan binatang buruannya, sang Prabu dikagetkan dengan nyalakan anjing setianya "Tumang" yang menemukan seorang bayi perempuan tergeletak diantara rimbunan rerumputan. Alangkah gembiranya sang Prabu, ketika ditemukannya bayi perempuan yang berparas cantik tersebut, mengingat telah cukup lama sang Prabu mendambakan seorang putri, namun belum juga dikaruniai anak. Bayi perempuan itu diberi nama Putri Dayangsumbi.

Alkisah putri Dayngsumbi nan cantik rupawan setelah dewasa dipersunting seorang pria, yang kemudian dikarunia seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang yang juga kelak memiliki kegemaran berburu seperti juga sang Prabu. Namun sayang suami Dayangsumbi tidak berumur panjang.

Suatu saat, Sangkuriang yang masih sangat muda belia, mengadakan perburuan ditemani anjing kesayangan sang Prabu yang juga kesayangan ibunya, yaitu Tumang. Namun hari yang kurang baik menyebabkan perburuan tidak memperoleh hasil binatang buruan. Karena Sangkuriang telah berjanji untuk mempersembahkan hati rusa untuk ibunya, sedangkan rusa buruan tidak didapatkannya, maka Sangkuriang nekad membunuh si Tumang anjing kesayangan ibunya dan juga sang Prabu untuk diambil hatinya, yang kemudian dipersembahkan kepada ibunya.

Ketika Dayangsumbi akhirnya mengetahui bahwa hati rusa yang dipersembahkan putranya tiada lain adalah hati "si Tumang" anjing kesayangannya, maka murkalah Dayangsumbi. Terdorong amarah, tanpa sengaja, dipukulnya kepala putranya dengan centong nasi yang sedang dipegangnya, hingga menimbulkan luka yang berbekas. Sangkuriang merasa usaha untuk menggembirakan ibunya sia-sia, dan merasa perbuatannya tidak bersalah. Pikirnya tiada hati rusa, hati anjingpun jadilah, dengan tidak memikirkan kesetiaan si Tumang yang selama hidupnya telah setia mengabdi pada majikannya. Sangkuriangpun minggat meninggalkan kerajaan, lalu menghilang tanpa karana.

Setelah kejadian itu Dayangsumbi merasa sangat menyesal, setiap hari ia selalu berdoa dan memohon kepada Hyang Tunggal, agar ia dapat dipertemukan kembali dengan putranya. Kelak permohonan ini terkabulkan, dan kemurahan sang Hyang Tunggal jualah maka Dayangsumbi dikaruniai awet muda. Syahdan Sangkuriang yang terus mengembara, ia tumbuh penjadi pemuda yang gagah perkasa, sakti mandraguna apalgi setelah ia berhasil menaklukan bangsa siluman yang sakti pula, yaitu Guriang Tujuh.

Dalam suatu saat pengembaraannya, Sangkuriang tanpa disadarinya ia kembali ke kerajaan dimana ia berasal. Dan alur cerita hidup mempertemukan ia dengan seorang putri yang berparas jelita nan menawan, yang tiada lain ialah putri Dayangsumbi. Sangkuriang jatuh hati kepada putri tersebut, demikianpula Dayangsumbi terpesona akan kegagahan dan ketampanan Sangkuriang, maka hubungan asmara keduanya terjalinlah. Sangkuriang maupun Dayangsumbi saat itu tidak mengetahui bahwa sebenarnya keduanya adalah ibu dan anak. Sangkuriang akhirnya melamar Dayangsumbi untuk dipersunting menjadi istrinya.

Namun lagi lagi alur cerita hidup membuka tabir yang tertutup, Dayangsumbi mengetahui bahwa pemuda itu adalah Sangkuriang anaknya, sewaktu ia melihat bekas luka dikepala Sangkuriang, saat ia membetulkan ikat kepala calon suaminya itu.

Setelah merasa yakin bawa Sangkuriang anaknya, Dayangsumbi berusaha menggagalkan pernikahan dengan anaknya. Untuk mempersunting dirinya, Dayangsumbi mengajukan dua syarat yang harus dipenuhi Sangkuriang dengan batas waktu sebelum fajar menyingsing. Syarat pertama, Sangkuriang harus dapat membuat sebuah perahu yang besar. Syarat kedua, Sangkuriang harus dapat membuat danau untuk bisa dipakai berlayarnya perahu tersebut.

Sangkuriang menyanggupi syarat tersebut, ia bekerja lembur dibantu oleh wadiabalad siluman pimpinan Guriang Tujuh untuk mewujudkan permintaan tersebut. Kayu kayu besar untuk perahu dan membendung sungai Citarum, ia dapatkan dari hutan di sebuah gunung yang menurut legenda kelak diberi nama Gunung Bukit Tunggul. Adapun ranting dan daun dari pohon yang dipakai kayunya, ia kumpulkan disebuah bukit yang diberi nama gunung Burangrang.

Sementara itu Dayangsumbi-pun memohon sang Hyang Tunggal untuk menolongnya, menggagalkan maksud Sangkuriang untuk memperistri dirinya.

Sang Hyang Tunggal mengabulkan permohonan Dayangsumbi, sebelum pekerjaan Sangkuriang selesai, ayampun berkokok dan fajar menyingsing ……. Sangkuriang murka, mengetahui ia gagal memenuhi syarat tersebut, ia menendang perahu yang sedang dibuatnya. Perahu akhirnya jatuh menelungkup dan menurut legenda kelak jadilah Gunung Tangkubanparahu, sementara aliran Sungai Citarum yang dibendung sedikit demi sedikit membentuk danau Bandung.


Tangkuban Perahu, or Tangkuban Parahu in local Sundanese dialect, is an dormant volcano 30 km north of the city of Bandung, the provincial capital of West Java, Indonesia. It last erupted in 1959 It is a popular tourist attraction where tourists can hike or ride to the edge of the crater to view the hot water springs upclose, and buy eggs cooked on its hot surface. This stratovolcano is on the island of Java and last erupted in 1983. Together with Mount Burangrang and Bukit Tunggul, those are remnants of the ancient Mount Sunda after the plinian eruption caused the Caldera to collapse.

A study conducted in 2001 determined that Tangkuban Perahu has erupted at least 30 times in the previous 40,750 years. Studies of the tephra layers within 3 km of the crater revealed that twenty one were minor eruptions and the remaining nine were major eruptions. The eruptions that occurred prior to approximately 10,000 years ago were magmatic/phreatomagmatic. The eruptions that occurred after 10,000 years ago were phreatic.

The name translates roughly to "upturning of (a) boat" or "upturned boat" in Sundanese, referring to the local legend of its creation. The story tells of "Dayang Sumbi", a beauty who lived in West Java. She cast away her son "Sangkuriang" for disobedience, and in her sadness was granted the power of eternal youth by the gods. After many years in exile, Sangkuriang decided to return to his home, long after the two had forgotten and failed to recognize each other. Sangkuriang fell in love with Dayang Sumbi and planned to marry her, only for Dayang Sumbi to recognize his birthmark just as he was about to go hunting.

In order to prevent the marriage from taking place, Dayang Sumbi asked Sangkuriang to build a dam on the river Citarum and to build a large boat to cross the river, both before the sunrise. Sangkuriang meditated and summoned mythical ogre-like creatures -buta hejo or green giant(s)- to do his bidding. Dayang Sumbi saw that the tasks were almost completed and called on her workers to spread red silk cloths east of the city, to give the impression of impending sunrise. Sangkuriang was fooled, and upon believing that he had failed, kicked the dam and the unfinished boat, resulting in severe flooding and the creation of Tangkuban Perahu from the hull of the boat.

The Legend

According to local folklore, the formation of the Tangkuban Parahu volcano began with a young man SANGKURIANG who fell in love with his own mother, DAYANG SUMBI.

One day, when he was hunting, Sangkuriang accidentally killed his beautiful black dog (Si TUMANG). This dog is actually Sangkuriang's father who had been condemned to live the life of a dog by his GURU. However, Sangkuriang never knew it.

Sangkuriang had been separated by his mother since childhood. Yet, he was destined to meet his mother again. When on his way home, he stopped at a small village and met and fell in love with a beautiful girl. He didn't realised that the village was his homeland nor that the beautiful girl was his own sacred mother (remain young & pretty).

Their love grew naturally and one day, when they were discussing their wedding plans, Dayang Sumbi suddenly realised that the profile of Sangkuriang's head matched that of her only son's who had left twenty years earlier. How could shee marry her own son? But she did not wish to dissapoint him by cancelling the wedding. So, although she agreed to marry Sangkuriang, she would do so only on the condition that he provide her with a lake and a boat with which they could sail on the dawn of their wedding day.

Sangkuriang accepted this condition and built a lake by damming the Citarum river. Wiath a dawn just moment away and the boat almost complete, Dayang Sumbi realised that Sangkuriang would fulfill the condition she had set. With a wave of her supernatural shawl, she lit up the eastern horizon with flashes of light. Deceived by false dawn, the cock crowed and farmers rose for the new day.

With his work not yet complete, Sangkurinag realised that his endeavour were lost. With all his anger, he kicked the boat that he himself had built. The boat fell over and, in so doing become the mountain TANGKUBAN PARAHU (in Sundanese, TANGKUBAN means upturned or upside down, and PARAHU means boat). With the dam torn assunder, the water drained from the lake becoming a wide plain and nowaday became a city called BANDUNG (from the word BENDUNG, which means Dam).

 

Dari Bandung naik kendaraan menuju Ledeng. Kemudian naik kendaraan menuju Lembang, lalu disambung lagi dengan kendaraan yang menuju Tangkuban Perahu.

Pengunjung dapat melakukan trekking dari Tangkuban Perahu menuju Ciater atau Lembang, jaraknya sekitar 8 km melewati pedesaan, lembah, sungai.

Jika ingin mencoba trekking dari arah sebaliknya yaitu dari Lembang maka titik awalnya mulai dari dekat Pasar Buah Jayagiri, sedikit dari luar kota Lembang. Perjalanan mendaki melewati hutan hingga tiba di dekat Kawah Tangkuban Perahu. Dari Tangkuban Perahu trekking dapat dilanjutkan hingga ke Ciater dengan waktu tempuh dua jam.

  • Kawah Tangkuban Perahu
  • Ciater
  • Lembang

Gunung Tangkuban Perahu selalu diliputi kabut tipis menjelang malam tiba. Kabut tipis yang selalu melayang tersebut membawa cerita-cerita mistis.

Menurut beberapa orang pengunjung yang berkemah, pada malam-malam tertentu sering terdengar suara perempuan tertawa cekikikan. Namun bila suara tersebut diperhatikan akan hilang dengan sendirinya.

Terdapat sebuah sumber air yang berupa sumur yang tidak pernah kering, terletak diantara Kawah Uwi dan Kawah Upas. Sumber air ini diyakini airnya bila diminum bisa membuat awet muda dan terhindar dari berbagai penyakit.

Pada hari-hari tertentu sering muncul seberkas sinar yang melesat ke langit di atas gunung. Menurut kepercayaan warga, sinar itu jelmaan ular dan ikan mas yang sering muncul dari kawah gunung, hal ini diyakini sebagai pertanda akan terjadi sesuatu hal di sekitar daerah ini.

Konon pada hari-hari tertentu fragmen cerita legenda Sangkuriang sering terlihat dipentaskan di dasar kawah Uwi. Namun kejadian langka ini hanya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu yang bisa melihat secara gaib.

 

Bandung Tourism Northern Region, with its activity center in the crater of Mount Tangkubanperahu, Taman Hutan Raya Juanda (Dago Pakar), Maribaya Lembang, Curug Panganten Cisarua and Flower Garden Cihideung - Parongpong.

City District Lembang, has its own charm to attract the tourists. There are at Grand Hotel Lembang, one of the hotels built in the era of 1940 and until now still quite adequate for the interests of tourists. Grand Hotel Lembang, Princess of Mount Cottage and other hotels hotels scattered in many cities Lembang, ready with all the hospitality to entertain the tourists.

The tourist attraction located in the northern part of Bandung is the crater of Mount Tangkubanparahu, Maribaya (Curug Maribaya, Curug Omas), Curug Cimahi, Cihideung Flower Garden, Sand Yunghun, and also Ir H. Park Juanda (Dago Pakar, Japanese Cave).

There are many hotels in North Bandung, we suggest you should first compare both facilities, price and location before you decide to stay.

Tangkuban Perahu crater.

Mount Tangkuban Perahu has a height 2076 meters above sea level. This mountain when seen from a distance looks like an upturned boat, which is why this mountain is called Tangkuban Perahu. Legends attached to this mountain is Sangkuriang, the story of a boy who falls in love with his mother.

Temperatures here can reach 7 degrees Celsius, with humidity of 45 s / d 95%. From the city of Bandung is within a distance of 47 km to the north to Lembang or Subang.

Maribaya.

This tourism object is about 21 Km from the city of Bandung to the north, or about 5 Km from the city to the east Lembang. Recreation with beautiful scenery and cool air. In addition to the bathing pools of hot water containing high mineral good for health, there are also several waterfalls namely: Curug Cigulung, Curug Cikoleang, Curug Cikawiri and Curug Omas.

Curug Cimahi.

Waterfall tourist attraction located in the district Cisarua, Lembang. Is about 10 Km from the city Cimahi at Lembang. Or it can also be reached from the town of Lembang (before the grand hotel Lembang) turn left toward the west (road to Cihideung, all Abaut strawberry / The Peak Cafe).

Cihideung Flower Garden.

Located in the village Cihideung, Parongpong district. About a land with an area of 50 hectares, the village is a tourist interest Cihideung giant flower garden very interesting to visit. There is a sour-like collection of flowers, and of course you can vent their shopping desires (interest) you are here.

Ir H. Juanda Park.

Forest park is the highway that has a collection more than 2500 of tree species which included the 40 family of 180 species, including Sumatran pine, teak, wood ylang, Uganda mahogany, big leaf mahogany, sausage trees, pines or pines, pines southeast asia, philippines , mexico and kaliandra. There are also various fauna consists of various species of birds, ferrets, squirrels, monkeys, etc..

This place is also a heritage site of Japan (Japanese cave) and the Netherlands during the war, because the topography is suitable for hiding.

 

Banner Kanan
 
 
 
 
 

 
 
Banner Bawah

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU