MERBABU.COM Pendakian Gunung Merapi Merbabu Jawa Tengah
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI

 

Embun adalah nama yang diberikan untuk bintik-bintik air mengkilat yang sering dijumpai menempel pada daun-daunan, dan rumput. Embun terbentuk ketika udara yang berada di dekat permukaan tanah menjadi dingin mendekati titik dimana udara tidak dapat lagi menahan semua uap air. Kelebihan uap air itu kemudian berubah menjadi embun di atas benda-benda di dekat tanah.

Sepanjang hari benda-benda menyerap panas dari matahari. Sedangkan di malam hari benda-benda kehilangan panas tersebut melalui suatu proses yang disebut radiasi termal. Ketika benda-benda di dekat tanah menjadi dingin, suhu udara disekitarnya juga menjadi berkurang. Udara yang lebih dingin tidak dapat menahan uap air sebanyak udara yang lebih hangat. Jika suhu udara bertambah semakin dingin, maka akhirnya akan mencapai titik embun. Titik embun adalah suhu dimana udara masih sanggup menahan uap air sebanyak mungkin. Bila suhu udara semakin bertambah dingin, sebagian uap air akan mengembun di atas permukaan benda yang terdekat

Embun terbentuk dengan baik pada malam hari yang cerah dan tenang. Ketika angin bertiup, udara tidak cukup waktu untuk bersentuhan dengan benda-benda dingin, sehingga membutuhkan lebih banyak waktu untuk menjadi dingin mendekati titik embun. Ketika langit berawan benda-benda menjadi dingin lebih lama karena awan memancarkan kembali panas ke bumi. Embun juga terbentuk dengan baik ketika kelembaban tinggi.

Embun menguap ketika matahari bersinar. Matahari memanaskan tanah dan kembali menghangatkan udara. Udara yang lebih hangat dapat menahan uap air lebih banyak, dan embun menguap ke dalam udara ini. Biasanya embun terbentuk pada titik embun dan kemudian membeku, disebut embun beku atau embun putih.  Embun beku terbentuk ketika titik embun berada dibawah titik beku, sehingga mengakibatkan uap air yang lebih langsung membeku di atas benda-benda di dekat tanah.

Embun beku adalah sebuah pola dari kristal-kristal es yang terbentuk dari uap air di atas rumput, daun, dan benda-benda lainnya yang berada di dekat tanah. Embun beku terbentuk terutama pada malam yang dingin dan tak berawan ketika suhu udara turun di bawah 0º C yakni suhu titik beku air.

Embun beku dan embun terbentuk dengan cara yang tidak jauh berbeda. Sepanjang hari permukaan bumi menyerap panas dari matahari, ketika matahari terbenam bumi mulai menjadi dingin. Turunnya suhu jauh lebih besar pada malam yang cerah dibandingkan dengan malam yang berawan, karena tidak ada awan yang memantulkan kembali panas yang dilepas oleh permukaan bumi. Ketika proses pendinginan berlanjut, uap air di udara mengembun membentuk titik-titik embun pada benda-benda.

Butiran-butiran es yang menyerupai salju di alun alun Suryakencana Puncak Gunung Gede

Sebagian titik-titik embun ini membeku ketika suhu turun di bawah 0º C. Titik-titik embun yang membeku semakin bertambah ukurannya, menjadi kristal beku ketika titik-titik embun di sekelilingnya menguap dan mengumpulkan uap air di atas kristal. Pada saat suhu berada di bawah titik beku uap air kadangkala langsung berubah menjadi kristal es, tanpa harus berubah menjadi titik embun.

Kristal-kristal beku muncul dalam dua macam bentuk, menyerupai piring dan pilar. Kristal yang menyerupai piring berbentuk rata dan menyerupai kristal salju. Kristal-kristal pilar berupa tiang es kosong berbentuk segi enam.  

Kata beku juga bermakna suhu di bawah titik beku yang membahayakan tanaman. Pada suhu ini cairan yang berada di dalam sel-sel tanaman membeku dan mengembang, mengakibatkan pecahnya dinding-dinding sel.

 

Dew is water in the form of droplets that appears on thin, exposed objects in the morning or evening. As the exposed surface cools by radiating its heat, atmospheric moisture condenses at a rate greater than that at which it can evaporate, resulting in the formation of water droplets.

When temperatures are low enough, dew takes the form of ice; this form is called frost.

Because dew is related to the temperature of surfaces, in late summer it is formed most easily on surfaces which are not warmed by conducted heat from deep ground, such as grass, leaves, railings, car roofs, and bridges.

Dew should not be confused with guttation, which is the process by which plants release excess water from the tips of their leaves.

Water vapor will condense into droplets depending on the temperature. The temperature at which droplets can form is called the Dew Point. When surface temperature drops, eventually reaching the dew point, atmospheric water vapor condenses to form small droplets on the surface. This process distinguishes dew from those hydrometeors (meteorological occurrences of water) which are formed directly in air cooling to its dew point (typically around condensation nuclei) such as fog or clouds. The thermodynamic principles of formation, however, are virtually the same.

Sufficient cooling of the surface typically takes place when it loses more energy by infrared radiation than it receives as solar radiation from the sun, which is especially the case on clear nights. As another important point, poor thermal conductivity restricts the replacement of such losses from deeper ground layers which are typically warmer at night. Preferred objects of dew formation are thus poor conducting or well isolated from the ground, and non-metallic or coated as shiny metal surfaces are poor infrared radiators. Preferred weather conditions include the absence of clouds and little water vapor in the higher atmosphere to minimize greenhouse effects and sufficient humidity of the air near the ground. Typical dew nights are classically considered to be calm because the wind transports (nocturnally) warmer air from higher levels to the cold surface.

But, if the atmosphere is the major source of moisture (this type is called dewfall), a certain amount of ventilation is needed to replace the vapor that is already condensed. The highest optimum wind speeds could be found on arid islands. If the wet soil beneath is the major source of vapour, however (this type of dew formation is called distillation), wind always seems to be adverse.

The processes of dew formation do not restrict its occurrence to the night and the outdoors. They are also working when eyeglasses get steamy in a warm, wet room or in industrial processes. However, the term condensation is preferred in these cases.

A classical device for dew measurement is the drosometer. A small, artificial condenser surface is suspended from an arm attached to a pointer or a pen that records the weight changes of the condenser on a drum. Besides being very wind sensitive, however, this, like all artificial surface devices, only provides a measure of the meteorological potential for dew formation. The actual amount of dew in a specific place is strongly dependent on surface properties. For its measurement, plants, leaves, or whole soil columns are placed on a balance with their surface at the same height and in the same surroundings as would occur naturally, thus providing a small lysimeter. Further methods include estimation by means of comparing the droplets to standardized photographs, or volumetric measurement of the amount of water wiped from the surface. It has to be kept in mind that some of these methods include guttation, while others only measure dewfall and/or distillation.

Banner Kanan
 
 
 
 
 

 
Banner Bawah

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU