NATURE WATER MOUNTAIN VOLCANO CAMP HIKE COMPUTER
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI

Banyak ilmuwan yang percaya bahwa Bumi terbentuk bersamaan dengan terbentuknya Tata Surya. Umur Bumi diperkirakan sekitar 4,5 Milyar tahun, batu tertua yang pernah ditemukan berusia 4,3 milyard tahun.

Sistim Tata surya kita berasal dari spiral awan nebula (awan gas dan debu batuan dan metalik) yang sangat besar. Matahari terbentuk dari bagian tengah awan nebula. Pada saat awan ini berputar mengelilingi Matahari, awan ini secara perlahan  menjadi rata. Beberapa bagian dari awan ini berputar seperti pusaran arus.

Gas dan debu yang berada di sekitar pusaran ini ikut bergabung. Kumpulan dari gas dan debu ini semakin tumbuh besar dengan menarik berbagai partikel-partikel yang berada di dekatnya. Secara lambat laun kumpulan berbagai partikel yang berputar ini membentuk planet-planet yang mengelilingi Matahari.

Salah satu teori menyebutkan bahwa Bumi pada awalnya berupa gas kemudian berubah menjadi cairan dan akhirnya menjadi lebih dingin sehingga kerak Bumi ( kulit luar ) menjadi padat mengeras. Banyak ilmuwan yang mendukung teori bahwa awan Nebula yang membentuk Tata Surya kita berasal dari ledakan sebuah bintang.

Bumi yang terbentuk berupa materi padat tanpa air dan dikelilingi awan gas. Radiasi berbagai material dan meningkatnya tekanan di dalam Bumi secara bertahap menghasilkan panas yang sanggup mencairkan bagian dalam Bumi. Berbagai material berat seperti besi menjadi tenggelam, sedangkan material ringan seperti Silika ( batuan yang terdiri dari silikon dan oksigen ) muncul ke permukaan Bumi dan membentuk lapisan keras kulit Bumi yang pertama.

Panasnya perut Bumi juga menyebabkan zat-zat kimia di dalam Bumi muncul ke permukaan. Beberapa zat kimia membentuk air, dan ada juga yang menjadi gas-gas yang membentuk atmosfere. Selama lebih dari jutaan tahun secara perlahan-lahan air terkumpul di tempat-tempat yang rendah dan membentuk lautan. Daratan berkembang di Bumi, air hujan dan sungai melarutkan garam dan berbagai subtansi dalam batuan dan membawanya ke lautan, sehingga membuat lautan menjadi asin.

Atmosfere awal Bumi mungkin terdiri dari hidrogen, helium, metan, dan amonia sama seperti atmosfere Jupiter saat ini. Barangkali sebagian besar terdiri dari karbon dioksida seperti atmosfer Venus saat ini. 

Selama sekitar satu milyar tahun yang pertama Bumi tak mengandung kehidupan. Kemudian gabungan kimia yang terjadi secara kebetulan di atmosfer dan memperoleh energinya dari sumber-sumber seperti petir, menghasilkan asam amino dan asam nukleat, yakni bahan pembangun molekul semua mahluk hidup.

Bumi pada awalnya mengandung sedikit sekali oksigen. Oksigen di Bumi terutama berasal dari tanaman-tanaman yang menggunakan karbon dioksida untuk berfotosintesis dan menghasilkan oksigen. Dengan semakin banyaknya tanaman yang terbentuk di Bumi  maka jumlah oksigen menjadi semakin banyak.

Pada awalnya hanya terbentuk satu benua besar yang disebut Pangaea dan dikelilingi satu samudera Panthalassa. Sekitar 200 juta tahun yang lalu benua ini terbelah menjadi dua yakni Gondwanaland dan Laurasia. Gondwanaland kemudian terbelah membentuk benua afrika,  antartika, australia, Amerika Selatan, dan sub benua India. Sedangkan Laurasia terbelah menjadi Eurasia dan Amerika Utara. Pada saat benua ini terbelah-belah beberapa samudera baru muncul di sela-selanya. Diperlukan waktu berjuta-juta tahun untuk membentuk posisi daratan yang seperti sekarang ini.

Bumi terdiri dari beberapa lapisan, lapisan luar Bumi disebut Lithosphere dan terdiri dari 30 lapisan. Masing-masing lapisan terdiri dari bagian yang keras dan mantel bagian atas, lapisan keras ini bergerak di atas sebuah lapisan batu yang sangat panas di dalam lapisan mantel yang disebut asthenosphere. Pada saat lapisan-lapisan ini bergerak mereka juga membawa benua-benua dan lantai dasar samudera bergerak bersamanya.

Lapisan-lapisan Bumi ini bergerak dengan tiga cara; pertama saling menjauh, kedua saling mendekat dan ketiga saling melewati. Jika lapisan Bumi bergerak saling menjauh di suatu tempat, maka mereka pasti bergerak saling mendekat di tempat yang lain.

Bila dua buah Lapisan saling bertubrukan maka salah satu lapisan akan terangkat dan membentuk pegunungan. Pegunungan Himalaya dengan puncak Gunung Everestnya mulai terbentuk 60 juta tahun yang lalu, ketika lapisan Bumi yang mengangkut India bertabrakan dengan lapisan Bumi yang  mengangkut Eurasia. 

Ketika bertabrakan salah satu lapisan mungkin tertekan ke bawah ke dalam mantel di bawah lapisan yang lain, membentuk sebuah jurang yang sangat dalam di dasar samudera. Panas di dalam perut Bumi mencairkan material-material dan mencari jalan keluar ke permukaan Bumi membentuk Gunung Berapi.

Kira-kira 250 juta tahun yang lalu sebagian besar kerak benua di Bumi merupakan satu massa daratan yang dikenal sebagai Pangea. Kemudian, kira-kira dua ratus juta tahun yang lalu selama Periode Trias, Pangea terpecah menjadi dua benua besar yaitu Laurasia, yang sekarang terdiri dari Amerika Utara, Eropa, sebagian Asia Tengah dan Asia Timur; dan Gondwana yang terdiri dari Amenka Selatan, Afrika India, Australia dan bagian Asia lainnya. Bagian-bagian dan dua benua besar ini kemudian terpecah-pecah, hanyut dan bertubrukan dengan bagian lain.

Interpretasi yang terbaru didasar kan pada distribusi berbagai pecahan yang disebut "terranes", yang memiliki sejarah geologi yang berlainan. Untuk menentukan letak Jawa dan Bali dengan tepat pada peta Pangea hampir mustahil. Pertama, karena penanggalan terhadap batuan sangat sedikit. Kedua karena mungkin bentuk jawa tidak ada sebelum Kala Miosen, dan Bali barangkali baru muncul di atas permukaan laut kira-kira tiga juta tahun yang lalu.

Kira-kira 250 km ke arah selatan jawa dan Bali adalah Palung jawa yang sangat dalam. Di bagian selatan palung ini merupakan bagian dan suatu dangkalan yang dikenal sebagai Dangkalan Indo-Australia, yang terbentuk di bagian dalam samudera di sebelah selatan India dan Australia, dan membentuk pecahan antara Antartika dan Australia.

Pergerakan dangkalan ini ke arah utara terus berlangsung sampai sekarang dengan laju 6 cm/tahun. Pergerakan ini mendesak Dangkalan Sunda dimana Asia Tenggara berada, dan selama berjuta-juta tahun daya yang dihasilkan oleh gerakan ini melipat lapisan-lapisan sedimen tua membentuk deretan pegunungan.

Dangkalan Indo-Australia masuk ke bawah Dangkalan Sunda di sepanjang Palung Jawa, dan selip mendadak yang kadang-kadang terjadi akibat gesekan antara dua dangkalan ini menimbulkan gempa bumi, sedangkan panas yang dihasilkan dari gesekan dua dangkalan ini membentuk kantung-kantung batuan yang mencair di bawah tekanan tinggi. Kantung-kantung ini dapat bocor ke permukaan dan membentuk gunung berapi.

Walaupun batuan vulkanik cukup dominan, daerah sedimentasi juga cukup luas. Luas utama bagian utara dan selatan sedimen moderen yang berasal dari erosi gunung-gunung baru mengendap di atas sedimen tua yang terangkat ke atas karena gerakan yang dahsyat di bawah batuan yang meleleh.

Namun tidak semua batuan sedimen merupakan hasil erosi, karena terdapat daerah batu kapur yang berasal dari suatu masa ketika organisme pembentuk terumbu karang tumbuh subur yang kemudian terangkat ke atas. Misalnya daerah perbukitan kapur di Padalarang Bandung.

Seluruh dataran aluvial di bagian utara Jawa sudah terbentuk dalam waktu 8.000 tahun terakhir, yaitu ketika permukaan laut turun 5-6 m. Dataran ini terbentuk, sebagian karena kipas-kipas aluvial dari limpahan gunung berapi dan sebagian karena dataran pasca-Pliosen yang terangkat ke atas. Proses-proses ini terus berlang- sung sampai sekarang.

 

 

Earth is estimated to have formed 4.54 billion years ago from the solar nebula, along with the Sun and other planets. The moon formed roughly 20 million years later. Initially molten, the outer layer of the planet cooled, resulting in the solid crust. Outgassing and volcanic activity produced the primordial atmosphere. Condensing water vapor, most or all of which came from ice delivered by comets, produced the oceans and other water sources. The highly energetic chemistry is believed to have produced a self-replicating molecule around 4 billion years ago.

Continents formed, then broke up and reformed as the surface of Earth reshaped over hundreds of millions of years, occasionally combining to make a supercontinent. Roughly 750 million years ago, the earliest known supercontinent Rodinia, began to break apart. The continents later recombined to form Pannotia which broke apart about 540 million years ago, then finally Pangaea, which broke apart about 180 million years ago.

There is significant evidence that a severe glacial action during the Neoproterozoic era covered much of the planet in a sheet of ice. This hypothesis has been termed the "Snowball Earth", and it is of particular interest as it precedes the Cambrian explosion in which multicellular life forms began to proliferate about 530540 million years ago.

Since the Cambrian explosion there have been five distinctly identifiable mass extinctions.The last mass extinction occurred some 65 million years ago, when a meteorite collision probably triggered the extinction of the non-avian dinosaurs and other large reptiles, but spared small animals such as mammals, which then resembled shrews. Over the past 65 million years, mammalian life diversified.

Several million years ago, a species of small African ape gained the ability to stand upright. The subsequent advent of human life, and the development of agriculture and further civilization allowed humans to affect the Earth more rapidly than any previous life form, affecting both the nature and quantity of other organisms as well as global climate. By comparison, the Great Oxygenation Event, produced by the proliferation of algae during the Siderian period, required about 300 million years to culminate.

The present era is classified as part of a mass extinction event, the Holocene extinction event, the fastest ever to have occurred. Some, such as E. O. Wilson of Harvard University, predict that human destruction of the biosphere could cause the extinction of one-half of all species in the next 100 years. The extent of the current extinction event is still being researched, debated and calculated by biologists.

The breaking up and formation of supercontinents appear to be cyclical through Earth's 4.6 billion year history. There may have been several others before Pangaea. The next-to-last one, Pannotia, formed about 600 million years ago (Ma) during the Proterozoic eon, and lasted until 540 Ma. Before Pannotia, there was Rodinia, which lasted from about 1.1 billion years ago (Ga) until about 750 million years ago. Rodinia formed by the accretion and assembly of fragments produced by breakup of an older supercontinent, called Columbia or Nuna that was assembled in the period 2.0-1.8 Ga. The exact configuration and geodynamic history of Rodinia are not nearly as well understood as Pannotia and Pangaea.

When Rodinia broke up, it split into three pieces: the supercontinent of Proto-Laurasia and the supercontinent of Proto-Gondwana, and the smaller Congo craton. Proto-Laurasia and Proto-Gondwanaland were separated by the Proto-Tethys Ocean. Soon thereafter Proto-Laurasia itself split apart to form the continents of Laurentia, Siberia and Baltica. The rifting also spawned two new oceans, the Iapetus Ocean and Paleoasian Ocean. Baltica was situated east of Laurentia, and Siberia northeast of Laurentia.

Around 600 Ma, most of these masses came back together to form the relatively short-lived supercontinent of Pannotia, which included large amounts of land near the poles and only a relatively small strip near the equator connecting the polar masses.

Only 60 million years after its formation, about 540 Ma, near the beginning of the Cambrian epoch, Pannotia in turn broke up, giving rise to the continents of Laurentia, Baltica, and the southern supercontinent of Gondwana.

In the Cambrian period, the independent continent of Laurentia, which would become North America, sat on the equator, with three bordering oceans: the Panthalassic Ocean to the north and west, the Iapetus Ocean to the south and the Khanty Ocean to the east. In the Earliest Ordovician, around 480 Ma, the microcontinent of Avalonia, a landmass that would become the northeastern United States, Nova Scotia and England, broke free from Gondwana and began its journey to Laurentia. Euramerica's formation Appalachian orogeny

Baltica, Laurentia, and Avalonia all came together by the end of the Ordovician to form a minor supercontinent called Euramerica or Laurussia, closing the Iapetus Ocean. The collision also resulted in the formation of the northern Appalachians. Siberia sat near Euramerica, with the Khanty Ocean between the two continents. While all this was happening, Gondwana drifted slowly towards the South Pole. This was the first step of the formation of Pangaea.

The second step in the formation of Pangaea was the collision of Gondwana with Euramerica. By Silurian time, 440 Ma, Baltica had already collided with Laurentia to form Euramerica. Avalonia had not collided with Laurentia yet, and a seaway between them, a remnant of the Iapetus Ocean, was still shrinking as Avalonia slowly inched towards Laurentia.

Meanwhile, southern Europe fragmented from Gondwana and started to head towards Euramerica across the newly formed Rheic Ocean and collided with southern Baltica in the Devonian, though this microcontinent was an underwater plate. The Iapetus Ocean's sister ocean, the Khanty Ocean, was also shrinking as an island arc from Siberia collided with eastern Baltica (now part of Euramerica). Behind this island arc was a new ocean, the Ural Ocean.

By late Silurian time, North and South China rifted away from Gondwana and started to head northward across the shrinking Proto-Tethys Ocean, and on its southern end the new Paleo-Tethys Ocean was opening. In the Devonian Period, Gondwana itself headed towards Euramerica, which caused the Rheic Ocean to shrink.

In the Early Carboniferous, northwest Africa had touched the southeastern coast of Euramerica, creating the southern portion of the Appalachian Mountains, and the Meseta Mountains. South America moved northward to southern Euramerica, while the eastern portion of Gondwana (India, Antarctica and Australia) headed towards the South Pole from the equator.

North China and South China were on independent continents. The Kazakhstania microcontinent had collided with Siberia (Siberia had been a separate continent for millions of years since the deformation of the supercontinent Pannotia) in the Middle Carboniferous.

Western Kazakhstania collided with Baltica in the Late Carboniferous, closing the Ural Ocean between them, and the western Proto-Tethys in them (Uralian orogeny), causing the formation of the Ural Mountains, and the formation of the supercontinent of Laurasia. This was the last step of the formation of Pangaea.

Meanwhile, South America had collided with southern Laurentia, closing the Rheic Ocean, and forming the southernmost part of the Appalachians and Ouachita Mountains. By this time, Gondwana was positioned near the South Pole, and glaciers were forming in Antarctica, India, Australia, southern Africa and South America. The North China block collided with Siberia by Late Carboniferous time, completely closing the Proto-Tethys Ocean.

By Early Permian time, the Cimmerian plate rifted away from Gondwana and headed towards Laurasia, with a new ocean forming in its southern end, the Tethys Ocean, and the closure of the Paleo-Tethys Ocean. Most of the landmasses were all in one. By the Triassic Period, Pangaea rotated a little, in a southwest direction. The Cimmerian plate was still travelling across the shrinking Paleo-Tethys, until the Middle Jurassic time. The Paleo-Tethys had closed from west to east, creating the Cimmerian Orogeny. Pangaea looked like a C, with an ocean inside the C, the new Tethys Ocean. Pangaea had rifted by the Middle Jurassic, and its deformation is explained below.

 

- World Book Multimedia Encyclo pedia penerbit IBM
- Ekologi Jawa dan Bali terbitan Pre nhallindo.
- Hemel en aarde terbitan Time Lfe
- Ilmu Gunung Api terbitan Nova
- Panduan Wisata Geologi Bandung utara terbitan ITB
New Page 1
 
 
 
 
 

 
Toko Buku Online
 
 
 
New Page 1

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU