MERBABU.COM Pendakian Gunung Merapi Merbabu Jawa Tengah
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI

 

PEMANASAN GLOBAL
Pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi. Sejak akhir abad 18 suhu rata-rata global bumi telah meningkat sekitar 0,4 – 0,8°C. Para ilmuwan memperhitungkan bahwa suhu rata-rata bumi akan meningkat menjadi 1,4 – 5,8°C pada tahun 2100. Nilai peningkatannya menjadi lebih besar dibandingkan dengan nilai-nilai peningkatan yang pernah terjadi sebelumnya.

Para ahli mengkawatirkan bahwa kehidupan manusia dan ekosistem alam tidak akan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim yang sangat cepat. Suatu ekosistem adalah terdiri dari lingkungan biotik dan abiotik di wilayah tertentu. Pemanasan global dapat menyebabkan banyak kerusakan.

Penyebab pemanasan global

Para ilmuwan mulai menyelidiki pemanasan global yang terjadi sejak akhir abad 18. Sebagian besar ahli berkesimpulan bahwa kegiatan manusialah yang menjadi penyebab utama meningkatnya pemanasan global yang seringkali dikenal dengan efek rumahkaca. Efek rumah kaca memanaskan bumi melalui suatu proses yang kompleks yang berhubungan dengan sinar matahari, gas, dan partikel-partikel yang ada di atmosfer. Gas-gas yang menahan panas di atmosfer disebut gas rumah kaca.

Kegiatan manusia yang menimbulkan pemanasan global adalah pembakaran minyak bumi, batu bara, dan gas alam dan pembukaan lahan. Sebagian besar pembakaran berasal dari asap mobil, pabrik, dan pembangkit tenaga listrik. Pembakaran minyak fosil ini menghasilkan carbon dioxide (CO2), yakni gas rumah kaca yang menghambat radiasi panas ke angkasa ruang. Pohon-pohon dan berbagai tanaman menyerap CO2 cari udara selama proses fotosintesis untuk menghasilkan makanan. Pembukaan lahan dengan menebangi pohon-pohon ikut meningkatkan jumlah CO2 karena menurunkan penyerapan CO2, dan dekomposisi dari tumbuhan yang telah mati juga meningkatkan jumlah CO2.

Pengaruh pemanasan global

Pemanasan global yang terus menerus dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan. Tanaman dan binatang yang hidup di dalam laut menjadi terganggu. Binatang dan tumbuhan di daratan terdorong untuk berpindah ke habitat yang baru. Pola cuaca menjadi berubah menyebabkan tibulnya banjir besar, kekeringan, angin kencang, dan badai yang besar. Mencairnya es di kutub mengakibatkan peningkatan tinggi permukaan air laut. Penyakit-penyakit menyerang manusia secara meluas dan terjadi penurunan hasil panen di beberapa wilayah.

Gangguan kehidupan laut.

Dengan adanya pemanasan global suhu permukaan air laut menjadi lebih hangat, sehingga meningkatkan tekanan bagi ekosistem laut seperti batu karang yang menjadi putih. Pada proses ini karang-karang melepaskas ganggang yang memberikan warna dan makanan pada karang, sehingga karang menjadi putih dan mati. Peningkatan suhu air juga membantu menyebarkan penyakit-penyakit yang sangat mempengaruhi kehidupan mahkluk-mahkluk di dalam laut.

Perubahan habitat

Pergeseran secara luas terjadi pada habitat-habitat tanaman dan binatang. Beberapa spesies sangat sulit untuk dapat bertahan di habitatnya sekarang. Beberapa tanaman bunga tidak dapat berbunga tanpa mengalami musim dingin yang benar-benar dingin. Dan kegiatan manusia telah mempersulit tumbuhan dan binatang untuk mencapai habitat barunya bahkan tidak memungkinkan bagi tumbuhan dan binatang untuk mencari habitat baru.

Gangguan Cuaca

Kondisi cuaca yang ekstrim bisa sering terjadi sehingga lebih menambah daya rusak. Perubahan pola hujan dapat meningkatkan banjir dan kekeringan di beberapa daerah. Angin ribut dan badai tropis bisa muncul dengan kekuatan yang lebih besar.

Meningkatnya permukaan air laut

Peningkatan suhu global selama berabad-abad telah mencairkan sejumlah besar es yang melapisi sebagian besar antartika. Akibatnya tinggi permukaan air laut menjadi naik di seluruh dunia. Banyak wilayah pantai yang kebanjiran, erosi, hilangnya daratan dan masuknya air laut ke wilayah air tawar. Peningkatan permukaan air laut yang tinggi dapat menenggelamkan kota-kota pantai, negara kepulauan kecil, dan wilayah-wilayah yang tidak dihuni lainnya.

Mengancam kesehatan manusia.

Penyakit-penyakit tropis seperti malaria dan demam dapat menyebar kewilayah yang lebih luas. Penderita kanker kulit juga meningkat. Gelombang panas yang terus menerus dapat menyebabkan penyakit dan kematian. Banjir dan kekeringan meningkatkan kelaparan dan kekurang gizi.

Perubahan hasil panen.

Kanada dan sebagian rusia bisa jadi lebih diuntungkan dengan meningkatnya hasil panen, tetapi peningkatan yang terjadi tidak sebanding dengan kerugian yang disebabkan oleh kekeringan dan kenaikan suhu terutama apabila melebihi beberapa derajad celsius. Panen di wilayah tropis menurun drastis karena suhu sedemikian tingginya sehingga tidak dapat ditolerir oleh tanaman.

Membatasi pemanasan global

Para ilmuwan mempelajari cara-cara untuk membatasi pemanasan global. Kunci utamanya adalah:

1.membatasi emisi CO2 dan
2.menyembunyikan karbon yang juga membantu mencegah karbon dioksida memasuki atmosfer atau mengambil CO2 yang ada.

Membatasi emisi CO2

Tehnik yang efektif untuk membatasi emisi karbon ada dua yakni mengganti energi minyak dengan sumber energi lainnya yang tidak mengemisikan karbon dan yang kedua penggunaan energi minyak sehemat mungkin.

Energi alternatif yang dapat digunakan diantaranya angin, sinar matahari, energi nuklir, dan panas bumi. Kincir angin dapt merubah energi angin menjadi energi listrik. Sinar matahari juga dapat dirubah menjadi energi listrik atau sumber panas yang bisa dimanfaatkan seperti pemanas air, kompor matahari, dll. Energi panas bumi bisa dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik. Sumber energi alternatif memang lebih mahal dibanding energi minyak namun penelitian lebih lanjut akan membantu untuk lebih menekan biaya.

Penggunaan minyak bumi secara efisien

Emisi CO2 dapat dikurangi jika mobil-mobil bisa lebih hemat bahan bakar. Para ilmuwan dan insinyur telah bekerja untuk menciptakan mesin yang hemat bahan bakar. Penemuan-penemuan telah mengembangkan alat untuk menggantikan mesin pembakaran atau menggunakan mesin yang lebih kecil. Sebuah mobil dengan tenaga batery listrik telah memasuki pasar, tetapi masih dilengkapi dengan mesin kecil berbahan bakar minyak. Bahan bakar sel yakni sebuah alat yang mampu merubah energi kimia menjadi energi listrik bisa dikembangkan untuk mobil-mobil di masa depan.

Menyembunyikan karbon dapat dilakukan dengan dua cara:
1. Di bawah tanah atau penyimpanan air tanah
2. Penyimpanan di dalam tumbuhan hidup.

Bawah tanah atau air bawah tanah bisa digunakan untuk menyuntikkan emisi CO2 ke dalam lapisan bumi atau ke dalam lautan. Lapisan bumi yang dapat digunakan adalah penyimpanan alami minyak dan gas bumi di tambang-tambang minyak. Dengan memompakan Co2 kedalam tempat-tempat penyimpanan minyak di perut bumi akan membantu mempermudah pengambilan minyak atau gas yang masih tersisa. Hal ini bisa menutupi biaya penyembunyian karbon. Lapisan garam dan batubara yang dalam juga bisa menyembunyikan karbon dioksida.

Lautan juga dapat menyimpan banyak karbon dioksida, tetapi para ilmuwan belum dapat menetapkan pengaruhnya terhapad lingkungan hidup di dalam laut.

Penyimpanan di dalam tanaman hidup

Tumbuhan hijau menyerap Co2 dari udara untuk tumbuh. Kombinasi karbon dari CO2 dengan hidrogen diperlukan untuk membentuk gula sederhana yang disimpan di dalam jaringan. Setelah tanaman mati maka tubuhnya akan terurai dan melepaskan CO2. Ekosistem dengan tumbuh-tumbuhan yang berlimpah seperti hutan atau perkebunan dapat menahan lebih banyak karbon, tetapi generasi manusia yang akan datang harus tetap menjaga ekosistem agar tetap utuh, jika tidak maka karbon yang disimpan dalam tanaman akan lepas kembali ke atmosfer.

Pemanasan Global atau global warming yakni kenaikan suhu rata-rata bumi yang dapat mempengaruhi:
1. Gangguan kehidupan laut.
2. Perubahan habitat
3. Gangguan Cuaca
4. Naiknya permukaan air laut
5. Mengancam kesehatan
6. Perubahan hasil panen

Kita dapat membantu untuk mengurangi efek pemanasan Global dengan melakukan:
1. Menggunakan kendaraan umum dibanding pribadi
2. Memilih kendaraan yang hemat bbm
3. Energi alternatif selain fosil
4. Menggunkan peralatan yang hemat listrik
5. Mengurangi pemakaian kertas
6. Mengurangi penggunaan minyak goreng
7. Menanam pohon untuk penghijauan

Vulnerability of human societies to climate change mainly lies in the effects of extreme weather events rather than gradual climate change. Impacts of climate change so far include adverse effects on small islands, adverse effects on indigenous populations in high-latitude areas,[96] and small but discernable effects on human health. Over the 21st century, climate change is likely to adversely affect hundreds of millions of people through increased coastal flooding, reductions in water supplies, increased malnutrition and increased health impacts.

Future warming of around 3 °C (by 2100, relative to 1990-2000) could result in increased crop yields in mid- and high-latitude areas, but in low-latitude areas, yields could decline, increasing the risk of malnutrition.[95] A similar regional pattern of net benefits and costs could occur for economic (market-sector) effects. Warming above 3 °C could result in crop yields falling in temperate regions, leading to a reduction in global food production.[99] Most economic studies suggest losses of world gross domestic product (GDP) for this magnitude of warming.

 

Greenhouse effect is a warming of the lower atmosphere and surface of a planet by a complex process involving sunlight, gases, and particles in the atmosphere. On the earth, the greenhouse effect began long before human beings existed. However, recent human activity may have added to the effect. The amounts of heat-trapping atmospheric gases, called greenhouse gases, have greatly increased since the mid-1800’s, when modern industry became widespread. Since the late 1800’s, the temperature of the earth’s surface has also risen. The greenhouse effect is so named because the atmosphere acts much like the glass roof and walls of a greenhouse, trapping heat from the sun.

The atmosphere reflects toward space about 30 percent of the energy in incoming sunlight. The atmosphere absorbs about another 30 percent, and the remaining 40 percent or so reaches the earth’s surface.

The earth’s surface reflects about 15 percent of the solar energy that reaches it back toward space. The remaining energy heats the lands and seas. The warmed lands and seas then send most of the heat back into the atmosphere, chiefly as infrared rays and in evaporated water. Infrared rays are much like light waves but are invisible to the human eye.

When the rays from the lands and seas strike certain substances in the atmosphere, such as greenhouse gases and particles, those substances absorb the rays. As a result, the gases and particles are heated. They then are cooled by sending out infrared rays of their own. Some of the rays go into space. The remainder radiate back toward the earth’s surface, adding to the warming of the surface layer of air. Without the natural greenhouse effect, the average temperature of the earth’s surface would be about 59 degrees Fahrenheit (33 degrees Celsius) colder than it is now.

The chief greenhouse gases are made up of atoms of carbon (C), hydrogen (H), and oxygen (O). These gases are water vapor, carbon dioxide, methane, and ozone. The greenhouse particles include cloud droplets, soot, and dust.

Since the early to mid-1800’s, the amount of carbon dioxide in the atmosphere has increased by about 25 percent and the methane concentration has risen by about 150 percent. Most of the increase has been due to human activities-chiefly the burning of fossil fuels (coal, oil, and natural gas) and the clearing of land. Fossil fuels contain carbon, and burning them creates carbon dioxide. Trees and other plants absorb the gas through the process of photosynthesis. As land is cleared and forests are cut down, carbon dioxide levels rise.

The average temperature of the earth’s surface has increased by about 0.9 to 1.6 degrees Fahrenheit (0.5 to 0.9 degree Celsius) since the late 1800’s. Scientists have not yet proved that an increase in atmospheric carbon dioxide has raised the surface temperature. But in the likely event that this relationship does exist, the eventual results could be severe. Many scientists estimate that by about 2050, the amount of carbon dioxide in the atmosphere will have doubled from the preindustrial level. If this increase were to add to the natural greenhouse effect, the earth’s surface temperature might rise 2.5 to 10.4 degrees Fahrenheit (1.4 to 5.8 degrees Celsius) by 2100.

The increase in surface temperature, which is called global warming, could alter the ecology of many parts of the earth. For example, global warming could change rainfall patterns, melt enough polar ice to raise the sea level, increase the severity of tropical storms, and lead to shifts in plant and animal populations. Ocean currents and wind patterns could change, making some areas cooler than they are now. One remote possibility is that a warming of northern regions will result in more winter snowfall, causing some ice sheets to advance.

Researchers use high-speed computers to study how carbon dioxide concentration may affect surface temperature. The computers manipulate mathematical models, sets of equations that describe relationships between changeable factors. Scientists do not have enough data to prove that variations in carbon dioxide and other human-caused changes to atmospheric composition cause shifts in surface temperature. They may need until the 2010’s to gather enough data. But certain models suggest that the 2010’s may be too late to avoid some damage from global warming.

Scientists have also examined evidence from the distant past to determine whether changes in carbon dioxide concentration cause temperature changes. Cores of ice drilled from great depths in Greenland and Antarctica provide a record for the past 160,000 years. During those years, the climate warmed and cooled several times. Researchers analyzed the gases and other substances that were trapped in the ice when it formed. During the cooler periods, the atmosphere contained about 30 percent less carbon dioxide and 50 percent less methane than during the warmer periods.

Climatologists are studying ways to limit global warming. Two key methods would be (1) limiting CO2 emissions and (2) carbon sequestration-either preventing carbon dioxide from entering the atmosphere or removing CO2 already there. Two effective techniques for limiting CO2 emissions would be (1) to replace fossil fuels with energy sources that do not emit CO2, and (2) to use fossil fuels more efficiently.

Alternative energy sources that do not emit CO2 include the wind, sunlight, nuclear energy, and underground steam. Devices known as wind turbines can convert wind energy to electric energy. Solar cells can convert sunlight to electric energy, and various devices can convert solar energy to useful heat. Geothermal power plants convert energy in underground steam to electric energy. Alternative sources of energy are more expensive to use than fossil fuels. However, increased research into their use would almost certainly reduce their cost.

CO2 emissions could be greatly reduced if automobiles and trucks utilized fuel more efficiently. Some scientists and engineers are working on engines with improved fuel efficiency. Other inventors are developing devices to replace fuel-burning engines or to use with smaller engines. Cars known as hybrids have already entered the market. A hybrid has all the components of a battery-driven electric car plus another power source, usually a small gasoline engine. Fuel cells, devices that convert chemical energy to electric energy, may be used in future automobiles.

Global warming is the increase in the average temperature of Earth's near-surface air and oceans since the mid-20th century and its projected continuation. According to the 2007 Fourth Assessment Report by the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), global surface temperature increased by 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) during the 20th century. Most of the observed temperature increase since the middle of the 20th century has been caused by increasing concentrations of greenhouse gases, which result from human activities such as the burning of fossil fuel and deforestation. Global dimming, a reduction of sunlight reaching the surface as a result of increasing atmospheric concentrations of human-made particulates, has partially countered the effects of warming induced by greenhouse gases.

Climate model projections summarized in the 2007 IPCC report indicate that the global surface temperature is likely to rise a further 1.1 to 6.4 °C (2.0 to 11.5 °F) during the 21st century. The uncertainty in this estimate arises from the use of models with differing sensitivity to greenhouse gas concentrations and the use of differing estimates of future greenhouse gas emissions. An increase in global temperature will cause sea levels to rise and will change the amount and pattern of precipitation, probably including expansion of subtropical deserts. Warming is expected to be strongest in the Arctic and would be associated with continuing retreat of glaciers, permafrost and sea ice. Other likely effects of the warming include more frequent occurrence of extreme weather events including heatwaves, droughts and heavy rainfall events, species extinctions due to shifting temperature regimes, and changes in agricultural yields. Warming and related changes will vary from region to region around the globe, though the nature of these regional changes is uncertain.

The scientific consensus is that global warming is occurring and is mostly the result of human activity. This finding is recognized by the national science academies of all the major industrialized countries and is not rejected by any scientific body of national or international standing. According to a recent Gallup poll, people in most countries are more likely to attribute global warming to human activities than to natural causes. The major exception is the U.S., where nearly half of the population (the largest percentage of any country) attributes global warming to natural causes.

The Kyoto Protocol is aimed at stabilizing greenhouse gas concentration to prevent a "dangerous anthropogenic interference". As of November 2009, 187 states had signed and ratified the protocol. Proposed responses to global warming include mitigation to reduce emissions, adaptation to the effects of global warming, and geoengineering to remove greenhouse gases from the atmosphere.

 

Banner Kanan
 
 
 
 
 

 
 
Banner Bawah

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU