Walaupun disebut sebagai Kraton namun bangunan dari Kraton Kacirebonan memiliki bentuk seperti rumah biasa yang menjadi tempat tinggal anggota keluarga kerajaan yang ada saat ini yang merupakan keturunan dari Raja Kanomin yang memisahkan diri dari Kesultanan Kasepuhan abad ke 18. jangan ragu-ragu datang kesini, ketuk pintunya dan seseorang akan membukakan pintunya dan dengan senang hati mengantarkan anda berkeliling, namun jangan lupa untuk memberi sumbangan. Rumah yang dibangun pada tahun 1839 ini memiliki arsitektur kolonial yang bagus serta sejumlah koleksi antara lain pedang, dokumen dan benda-benda peninggalan kerajaan lainnya.
Kedudukan Cirebon yang berada
pada bayang-bayang pengaruh Mataram. ketika
Amangkurat I berkuasa dari tahun
1646 hingga 1677. Masa pemerin
tahan yang ditandai dengan banyaknya pergolakan agaknya menjadi
faktor penting mengapa Cirebon semakin menjadi lemah. Pada zaman
Amangkurat I, penguasa Cirebon
Panembahan Ratu II, cucu Panembahan Ratu, atas permintaan Mataram berpindah ke Girilaya. Kepergiannya dari Keraton' Cirebon ke daerah dekat ibukota Mataram ini disertai oleh kedua puteranya, yakni
Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kertawijaya. Sebagai penggan
ti kedudukannya selaku Sultan Cirebon, ditunjuk puteranya yang paling bungsu, yaitu Pangeran Wangsakarta.
Panembahan Ratu wafat pada tahun 1662 Masehi. Sebelum meninggal beliau membagi kerajaannya
menjadi dua yang diwariskan kepada
kedua puteranya itu. Pangeran Martawijaya diangkat sebagai Panembahan Sepuh yang berkuasa atas
Kasepuhan. Sedangkan Kertawijaya
ditunjuk sebagai Panembahan Anom
yang berkuasa atas Kanoman.
Sementara itu, Raja Amangkurat
I yang kurang bijaksana menimbulkan kebencian di kalangan istana
dan penguasa-penguasa daerah yang
lain. Dengan didukung oleh seorang
pangeran dari Madura bernama Tarunajaya, sang putera mahkota
mengadakan pemberontakan. Sayangnya, usaha mereka menentang
Amangkurat I tidak berhasil karena
perpecahan antara keduanya.
Raja
Amangkurat I kemudian meninggal
di Tegalwangi setelah melarikan diri
dari ibukota Mataram. Dalam pertempuran tersebut, kedua pangeran
dari Cirebon itu memihak pada pihak pemberontak.
Kira-kira tahun 1678 Masehi, kedua bangsawan pcwaris tahta Cirebon kembali ke tanah kelahirannya. Dengan demikian kini di Cirebon bherkuasa tiga sultan, masing-masing Sultan Sepuh, Sultan Anom dan
Sultan Cerbon.
Sementara itu di Mataram sebagai akibat dari pemberontakan Tarunajaya, bertumpuklah hutang
yang harus dibayarkan kepada pihak VOC-Belanda yang membantu
Amangkurat I. Pihak Mataram
membayar hutangnya itu dengan
cara melepaskan pelabuhan-pelabuhan potensial beserta penghasilan
yang amat menguntungkan itu kepada VOC.
Akibatnya lebih lanjut
adalah penghapusan gelar Sultan
dari penguasa Cirebon pada tahun
1681 Masehi. Sebagai gantinya, raja-raja Cirebon kembali pada gelar Panembahan yang sesungguhnya lebih rendah dari Sultan.
Pengganti Sultan Anom adalah putera bungsu. Sedangkan di Kasepuhan terjadi pembagian kekuasaan anatara Sultan Sepuh dan Sultan Cirebon. Ketika Pangeran Cirebon dibuang karena melawan Belanda, daerah kekuasaan nya diberikan kembali kepada Sultan Sepuh. Kemunduran Kesultanan Cirebon semakin meningkat sejak tahun 1773 Masehi. Setelah Panembahan terakhir wafat tanpa mewarisi keturunan, daerahnya kemudian menjadi terbagi-bagi dan dikuasai oleh para pangeran.