MERBABU.COM Pendakian Gunung Merapi Merbabu Jawa Tengah
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI
 
Kompleks Astana Giribangun yang megah dan luas berada di lereng barat Gunung Lawu. Tepatnya terletak di Desa Karang Bangun, Matesih, Karanganyar, sekitar 40 kilometer arah timur kota Solo. Makam itu dibangun di atas sebuah bukit, tepat di bawah Astana Mangadeg, komplek pemakaman para penguasa Istana Mangkunegaran, salah satu pecahan dinasti Mataram. Jika Astana Mangadeg berada di ketinggian 750 meter dpl, Giribangun pada 666 meter dpl.

Pemilihan posisi berada di bawah Mangadeg itu bukan tanpa alasan; untuk tetap menghormat para penguasa Mangkunegaran, mengingat Ibu Tien Soeharto mengaku keturunan Mangkunegoro III. Bahkan Giribangun disebut sebagai makam yang dikhususkan untuk keluarga Mangkunegaran yang keduabelas atau yang paling akhir. Kompleks makam ini mulai dibangun pada tahun 1974 dan diresmikan penggunaannya para tahun 1976. Peresmian itu ditandai dengan pemindahan abu jenazah Soemaharjomo (ayahanda Tien Soharto) dan Siti Hartini Oudang (kakak tertua Ibu Tien), yang keduanya sebelumnya dimakamkan di Makam Utoroloyo, salah satu makam keluarga besar keturunan Mangkunegaran yang berada di Kota Solo.

Astana Giribangun ialah salah satu objek wisata religi yang terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Obyek wisata ini merupakan kompleks makam keluarga mantan Presiden Soeharto. Sebelum Astana Giribangun dibangun, sudah ada kompleks pemakaman keluarga Putra Mangkunegaran, yaitu Astana Mangadeg. Salah satu yang dimakamkan di sini adalah Kanjeng Pangeran Adi Pati arya Sri Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyowo. Letak Astana Giribangun yang berada di bawah Astana Mangadeg menunjukkan arti bahwa masih terdapat garis keturunan antara Sri Hartinah (Bu Tien) dengan keluarga Mangkunegaran III. Astana Giribangun dibangun tahun 1974, dan diresmikan pada hari Jumat Wage, tanggal 23 Juli 1976.

Astana Giribangun berada di atas bukit yang memiliki pemandangan alam yang indah, taman-taman yang menghijau, dan suasana yang rindang. Dari komplek pemakaman ini, pengunjung juga dapat melihat hamparan sawah yang menghijau. Untuk menuju Astana Giribangun, pengunjung harus melewati jalan berundak-undak yang berkelok-kelok dan menanjak. Namun, jangan pernah berpikir untuk capek selama berjalan menyusuri tangga tersebut, karena rasa capek itu akan terobati saat melihat keindahan pemandangan alam bukit ngaglik dari arah tangga ini. Jika dilihat dari gaya arsitekturnya, Astana Giribangun dibangun dengan mengadopsi model bangunan rumah khas jawa, yaitu joglo.

 

Astana yang memiliki luas sekitar 200 m2 ini, terbagi ke dalam tiga cungkup yang masing-masing bernama Cungkup Argotuwuh, Cungkup Argokembang, dan Cungkup Argosari yang merupakan cungkup tertinggi. Empat tiang utama di dalam Cungkup Argosari ini terbuat dari beton yang dihiasi dengan lapisan kayu ukiran asal Jepara. Selain itu, pada dasar tiang tersebut juga dihiasi dengan cincin-cincin yang terbuat dari logam kuningan yang kilaunya mirip dengan emas. Sedangkan lantainya terbuat dari marmer buatan Tulungagung.

Makam yang luas itu terdiri dari beberapa bagian. Di antaranya adalah bagian utama yang disebut Cungkup Argosari yang berada di dalam ruangan tengah seluas 81 meter persegi dengan dilindungi cungkup berupa rumah bentuk joglo gaya Surakarta beratap sirap. Dinding rumah terbuat dari kayu berukir gaya Surakarta, dan Di ruangan ini hanya direncanakan untuk lima makam. Saat ini paling barat adalah makam Siti Hartini, di tengah terdapat makam pasangan Soemarharjomo (ayah dan ibu Tien) dan paling timur adalah makam Ibu Tien Soeharto. Tepat di sebelah barat makam Ibu Tien terdapat makam Soeharto, Masih di bagian Argosari, tepatnya di emperan cungkup seluas 243 meter persegi, astana-giribangun-1terdapat tempat yang direncanakan untuk makam 12 badan.

Bagian yang berada di luar lokasi utama adalah Cungkup Argokembang seluas 567 meter persegi. Tempat ini tersedia tempat bagi 116 badan. Yang dapat dimakamkan di lokasi itu adalah para pengurus pleno dan seksi Yayasan Mangadeg ataupun keluarga besar Mangkunegaran lainnya yang dianggap berjasa kepada yayasan yang mengajukan permohonan untuk dimakamkan di astana tersebut.

Paling luar adalah Cungkup Argotuwuh seluas 729 meter persegi. Tempat ini tersedia tempat bagi 156 badan. Seperti halnya Cungkup Argo Kembang, yang berhak dimakamkan di lokasi itu adalah para pengurus Yayasan Mangadeg ataupun keluarga besar Mangkunegaran lainnya yang mengajukan permohonan. Pintu utama Astana Giribangun terletak di sisi utara. Sisi selatan berbatasan langsung di jurang yang di bawahnya mengalir Kali Samin yang berkelok-kelok indah dipandang dari areal makam. Terdapat pula pintu di bagian timur kompleks makam yang langsung mengakses ke Astana Mangadeg.

Selain bangunan untuk pemakaman, terdapat sembilan bangunan pendukung lainnya. Di antaranya adalah masjid, rumah tempat peristirahatan bagi keluarga Soeharto jika berziarah, kamar mandi bagi peziarah utama, tandon air, gapura utama, dua tempat tunggu atau tempat istirahat bagi para wisatawan, rumah jaga dan tempat parkir khusus bagi mobil keluarga. Di bagian bawah, terdapat ruang parkir yang sangat luas. Di masa Soeharto berkuasa, di areal ini terdapat puluhan kios pedagang yang berjualan suvenir maupun makanan untuk melayani peziarah dan wisatawan. Namun kini di tempat itu tidak diizinkan lagi menjadi tempat berjualan dengan alasan keamanan dan ketenangan.

Dalam penggunaan bahasa Jawa ada hierarki dalam bahasa. Dari paling halus atau tinggi adalah bahasa Kedaton, Krama Inggil, Krama Madya, Krama Deso, Krama Gunung dan Ngoko (bahasa paling kasar). Tingkatan bahasa untuk kuburan adalah: Astana (bahasa kedaton untuk keluarga keraton), pasareyan (krama inggil untuk priyayi), makam an (krama Madya/bahasa halusnya rakyat kota), jaratan (Krama Deso), kramatan (Krama Gunung), kuburan (Ngoko/paling kasar).

Giribangun Grave was a mausoleum for the family the former of the second Indonesian President, Suharto. It’s location was on the east of the Surakarta City, Indonesia, to be precise in the Girilayu Village, Matesih Sub District, Karanganyar District, around 35 km from Surakarta, Java Island, Indonesia.

This grave was built on a hill, exact under the Mangadeg Palace, the funeral complex of the rulers Mangkunegaran, one of the fragments of the Mataram Sultanate. The Mangadeg Palace was in the height 750 meters on sea level, whereas Giribangun in 666 meters on sea level.

In the Mangadeg Palace was buried by Mangkunegara I alias Prince Sambernyawa, Mangku-negara II, and Mangkunegara III. The choosing of the position was under Mangadeg not without the reason; to continue respecting the rulers Mangkunegara, remembered Ms Tien Soeharto was the descendants Mangkunegoro III. Complex of the grave had three stages “cungkup” (the grave building): cungkup Argo Sari in the middle of and highest, beneath it, was gotten cungkup Argo Kembang, and lowest was cungkup Argo Tuwuh. The main door to the Giribangun palace located in the north. The south side shared directly a border in the chasm that beneath it flowed the Samin River that was winding beautiful was gazed at from the area of the grave.

Gotten also the door at the east of the grave complex that immediately accessed to the Mangadeg Palace. Apart from the building for the funeral, was gotten nine other supporting buildings. Including being the mosque, the holiday accommodation house for the Soeharto family, the bathroom for the main pilgrim, the water reservoir, the main gateway, two places were waiting or the place of the rest for the tourists, the guardhouse and the special parking lot for the family's car. Underneath, was gotten space parked that was very wide.

Astana Giribangun magnificent complex and vast western slopes of Mount Lawu. And it is located in the village of Karang Bangun, Matesih, Karanganyar, about 40 km east of Surakarta City.

Tomb was built on a hill, just below Mangadeg Astana, the rulers burial Mangkunegaran Palace complex, a fraction of the Mataram dynasty. If Astana Mangadeg located at an altitude of 750 m, Giribangun to 666 meters.

Elections are Mangadeg position is not without reason; Mangkunegaran be accepted by the rulers as Mrs. Tien Soeharto (wife of the President of the Republic of Indonesia II) claimed descent Mangkunegoro III. Giribangun also called the cemetery reserved for families Mangkunegaran the twelfth or last.

The tomb complex was built in 1974 and opened for use in 1976. The inauguration was marked by the removal of ash Soemaharjomo (father Soharto Tien) and Siti Hartini Oudang (the older sister of mrs. Tien), both of which have already been buried in the tomb Utoroloyo, a large decline of the family tomb Mangkunegaran residing in the city of Solo.

The large tomb consists of several parts. These include most of the call Cungkup Argosari was in the living room of 81 square meters with a protected form of the dome house style tile Joglo Surakarta. The wall is of carved wood and style of Surakarta.

In this room is only available in five graves. At present, the west is the tomb of Siti Hartini in the center is the tomb of the couple (father and mother Tien) and easternmost Soemarharjomo is the grave of Mrs. Tien. Directly west of the tomb there is a Ibu Tien's tomb is the tomb of Mr. Soeharto (President of the Republic of Indonesia II).

Also in the Argosari, specifically at the top of the dome area of 243 square meters, there is a place that provide for the grave of 12 bodies. The plan at this point and the right of Soeharto’s sons buried. But when there is now a son of Soeharto, who opt to live alone after the failure of a family, less clear who should respond to the region of the 12 agencies.

In the cupola hall covering an area of 405 square meters there are areas for 48 agencies. A right to be buried in that place is advisory, and daily management Mangadeg Foundation board member who manages the cemetery. Including the right to be buried in that place is a businessman and his wife Sukamdani Sahid Gitosardjono.

The party is outside the main location is Argokembang vault area of 567 square meters. This place is a body of 116. They are entitled to be buried in locations that are responsible for the plenary and section Mangadeg Foundation or any other family Mangkunegaran is credited to the foundation, presented the request to be buried in the cemetery.

Most outside the area of 729 square meters Cungkup Argotuwuh. This place is a place of 156 organizations. Cungkup Argokembang as the right to be buried there, the family management Mangadeg great Foundation or any other use Mangkunegaran.

Astana Giribangun main door is located on the north side. Bordered on the south side of the ravine beneath the river Samin beautiful winding viewed from the tomb area. There is also a door in the east of the tomb complex of direct access to the Astana Mangadeg.

In addition to the construction of the cemetery is supported by nine other buildings. These include mosques, houses a resting place where the Soeharto family is a pilgrimage, a pilgrim of the main bathroom, water tank, the main gate, two seats in the waiting or resting place for tourists, the guard and Special parking for one car family.

 

Banner Kanan
 
 
 
 
 

 
 
Banner Bawah

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU