NATURE WATER MOUNTAIN VOLCANO CAMP HIKE COMPUTER
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI

Dusun Cuntel

Posted by Admin on 2013-06-09 14:34:14 UTC

Dusun Cuntel atau Cunthel adalah salah Satu pintu masuk jalur pendakian gunung Merbabu. Kata "Cunthel" berasal dari bahasa jawa yang dalam bahasa indonesia artinya tamat atau "The End" dalam bahasa Inggris. Bisa diterjemahkan menjadi sebuah dusun yang paling akhir, dusun paling ujung, atau dusun paling mentok lokasinya mepet dengan Gunung Merbabu. Dusun ini berada di ketinggian 1720 mdpl.

Karena Dusun Cuntel adalah sebuah dusun yang lokasinya paling dekat dengan gunung Merbabu. Maka pendaki harus bersiap-siap berhadapan dengan jalur yang langsung mulai menanjak terjal begitu meninggalkan desa Cuntel.

Pada zaman perang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, Cuntel juga digunakan sebagai tempat persembunyian dan pelatihan perang bagi para pejuang. Tempat pelatihan yang paling terkenal ada dua, yakni:
 
Jurang Cuntel dahulu digunakan sebagai tempat halang rintang dan penempaan fisik. Jurang ini sangat dalam dan sekarang digunakan sebagai batas wilayah antara dusun Cuntel dengan dusun Burunan (Kabupaten Magelang)
 
Ndaru Klop adalah area yan berisi banyak batu-batuan berwarna putih (jika dilihat dari kejauhan). Konon pada zaman penjajah tempat ini sangat ditakuti Belanda, karena di tempat ini banyak dibangun lokasi-lokasi persembunyian para pejuang Indonesia. Ndaru Klop sendiri menurut pemuka setempat dapat berarti area putih atau wilayah yang berwarna putih.
 
 
Secara administratif, Cuntel berbatasan langsung dengan dusun Tayeman, dan dusun Kopeng, serta dusun Deles  dan Burunan (Kabupaten Magelang). Cuntel terdiri dari satu RW yang membawahi lima RT.  Penduduk Cuntel berjumlah sekitar 500 KK. Mayoritas beragama Kristen Protestan, selebihnya memeluk agama katolik dan islam. Terdapat satu masjid dan tiga buah gereja di dusun Cuntel, yaitu: GPDI (Gereja Pantekosta Indonesia), GKJTU (Gereja Kristen Jateng Utara), dan GBIS (Gereja Bettle Injil Indonesia).
 
Mata pencaharian penduduk Cuntel adalah petani sayur dan  porter serta guide bagi para wisatawan pendaki gunung Merbabu. Sayuran sangat tumbuh subur di sana, namun apel juga menjadi tanaman andalan dusun ini. Kesenian jatilan menjadi kesenian warga Cuntel, namun masih belum terorganisir dengan baik.  Kegiatan-kegiatan kemasyarakatan di dusun Cuntel antara lain kegiatan simpan pinjam RT, PKK setiap Selasa Pahing, dan lain sebagainya. Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Jawa Ngoko.

 

 

New Page 1

* Borobudur the world's largest Buddhist monument
* Dieng Plateau a volcanic area in the highlands with the oldest standing temples in Indonesia, pre-dating Borobudur by some 100 years
* Karimunjawa a marine park of 27 islands, well off the beaten track
* Mount Merapi a perenially active and spectacular volcano
* Parangtritis a beach to the south of Yogyakarta and easily reached from there
* Prambanan a collection of awe-inspiring Hindu temples
* Salatiga two mighty mountains and the Mata Air festival

* Semarang the administrative capital and an ancient seaport
* Baturetno
* Cilacap a quiet off the beaten track town on the south coast with great potential for tourism development
* Jepara the furniture manufacturing capital of Indonesia; hundreds of workshops working mostly in teak
* Kudus strongly Islamic town and the birthplace of kretek (Indonesian clove cigarette)
* Magelang the nearest large town to Borobudur with a splendid history from the Mataram period
* Purwokerto gateway to mighty Mt Slamet and the adjacent highlands
* Solo (Surakarta) bustling city that has retained a very authentic traditional Javanese nature
* Tegal north coast town with a strong colonial past
* Wonosobo sleepy small city and regency nestled between Mt Sindoro and Mt Sumbing
* Yogyakarta the heritage city of all Java and a semi-autonomous sultanate

Stasiun Balapan The main railway station with colonial style building located around 2 km from the center of the town. Solo is in the main railway roads connecting Jakarta, Yogyakarta and Surabaya. It has also connection with Bandung. There are frequent day and night trains of different classes.

The grave of Ki Ageng Enis He was the great grand son of King Brawijaya V, the grand father of Panembahan Senopati (the First king of Mataram Kingdom II), many pilgrims visit his grave in Laweyan.

The Bengawan or River Solo This longest river in Java flows along the eastern edge of the town from its source in the lime stones hill of the south, near East Java border to its mouth nearby Surabaya, on the Java sea. Regretfully, the river is now shallow, it is not navigable anymore. But in the past It was an important link between Solo and the north cost of East Java. There is a well-known song 'Bengawan Solo' composed by Mr. Gesang.



Banner Kanan
 
 
 
 
 

 
 
 
Banner Bawah

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU