MERBABU.COM Pendakian Gunung Merapi Merbabu Jawa Tengah
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI
Di kaki gunung salak, Kabupaten Bogor, ada Pura Parahyangan Agung Jagatkarta Tamansari Gunung salak. Orang menamakannya sebagai kuil Prabu Siliwangi . Mengapa begitu sebab orang hindu dari bali sengaja membangun kuil itu sebagai penghormatan kepada Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran yang dianggap telah berjasa mengembangkan agama hindu.
 
Inilah pura terbesar di luar Bali, setelah Pura Besakih di Pulau Bali. Dibangun diatas tanah sekitar 15 ha letaknya dikawasan lereng Gunung Salak, tepatnya di kec. Taman Sari, Kab. Bogor, daerah Ciapus. PURA terbesar secara fisik dan konsep berada di bumi suci, Parahyangan (Para Hyangan), Bogor. Di sinilah tempat petilasan Prabu Siliwangi raja paling masyhur dan paling dipuja.
 
 
Terlepas dari perbedaan anggapan, apakah benar Prabu Siliwangi beragama hindu atau bukan, yang jelas, begitulah yang dikatakan I nyoman Radeg, pendeta hindu yang bertanggung jawab sehari-hari di kuil itu.

Penyebab kuil itu dibangun di kaki gunung Salak, tepatnya di kampung warunglobok, Bogor adalah karena di tempat itu dianggap punya kekuatan magis. Nyoman radeg ,mengatakan, bahwa secara gaib, tergambarkan di tempat itu dulu berdiri sebuah bangunan kuil. Bentuknya seperti yang kini berdiri di kaki bukit itu. "Bentuk kuil itu kerap terbawa mimpi. Maka kami bikin kuil disini dengan arsitektur persis sperti di dalam mimpi," demikian tutur nyoman radeg.

Sebagai seorang yang percaya pada keberadaan kekuatan mistis, Nyoman radeg bila di tengah sepinya malam dengan bintang-gemintang menerangi jagat raya suka duduk sendiri menyepi, di pelataran kuil. Mengapa kerap duduk menyepi di sana? Sebab pada waktu-waktu tertentu, dia kerap di datangi arwah Prabu Siliwangi. Suatu saat Nyoman didatangi seorang pemuda usia 16 atau 17 tahunan dengan penampilan seperti ksatria tempo dulu. Siapakah anda anak muda yang datang secara misterius itu? Sang pemuda asing menyebut dirinya dengan nama Pamanahrasa. Namun suatu waktu Nyoman pun didatangi seorang berpenampilan gagah dan memakai ornamen laiknya seorang raja. Usianya berkisar antara 50 atau 55 tahunan. "Siapakah anda yang berpenampilan seperti raja ini?" tanya Nyoman radeg kepada tamu asingnya itu. "Sayalah Sri Baduga Maharaja!" tutur lelaki berpenampilan gagah dengan alistebal hidung mancung itu.

Nyoman radeg tidak hapal, siapa Pamanahrasa dan siapa pula Baduga Maharaja. Namun manakala dia bertanya kesana-kemari di Bogor dan sekitarnya, Nyoman sungguh terkejut. Pamanahrasa itu menurut ahli di Bogor, ternyata adalah Sri Baduga Maharaja Siliwangi manakala masih muda. "Sementara Sri Baduga Maharaja adalah raja pertama kerajaan Pajajaran. Dan dialah yang dikenal sebagai Prabu Siliwangi." Tutur Nyoman radeg. Maka untuk hari-hari selanjutnya, Nyoman kerap duduk menyepi sendirian di pelataran kuil Prabu Siliwamgi.

Tidak setiap saat memang mangalami hal-hal gaib. Ada kalanya tidak terjadi hal-hal aneh. Adakalanya hanya terbersit cahaya putih dari langit dan jatuh di altar kuil. "Namun adakalanya menyaksikan tontonan yang spektakuler,"tutur Nyoman radeg yang membuat misteri penasaran. Apakah itu? Nyoman berkata bahwa suatu saat di altar kuil terlihat ksatria Pamanahrasa sedang duduk di sana dikelilingi oleh para puteri ayu. Namun suatu saat adegan itu terulang kembali. Hanya saja yang sikelilingi putri ayu adalah Prabu Siliwangi yang duduk di singgasana. Denikian Nyoman radeg.

Kata Nyoman ada amanat dari Prabu Siliwangi yang dia tidak boleh lupa. Apakah itu ? "Beliau memberikan amanat pada saya, bahwa seluruh keturunannya jangan dilarang bila ingin datang ke kuil ini, apapun agama dan keyakinannya," kata Nyoman radeg. Apakah itu karena himbauan Prabu Siliwangi atau bukan, yang jelas setiap hari minggu ke bukit itu banyak orang datang terdiri dari berbagai agama dan keyakinan. "Tidak semua bermaksud ingin menghormati Prabu Siliwangi, Bahkan yang hanya datang karena berwisata pun kami tak larang." Ulas Nyoman radeg.


The Sunda Kingdom was a Hindu kingdom located on the western part of Java from 669 to around 1579, covering areas of present-day Banten, Jakarta, West Java, and the western part of Central Java. According to primary historical records, the Bujangga Manik manuscript the eastern border of the Sunda Kingdom is Pamali River (Ci Pamali, present day Brebes River) and Serayu River (Ci Sarayu) in Central Java. Most of the accounts of Sunda Kingdom came from the primary historical records dated from the 16th century.

The culture of the people in Sunda kingdom was a mixture of Sunda Wiwitan; a native shamanism belief, Hinduism, and Buddhism. Several intact prehistoric megalithic sites such as Cipari site in Kuningan and Pangguyangan menhir and stepped pyramid in Cisolok, Sukabumi, suggests that native shamanic animism and dynamism beliefs still alive and well next to Hinduism and Buddhism influences. The native belief of Sunda Wiwitan still persist to become the way of life for Baduy or Kanekes people that resist islamization and foreign influences. Hindu influence was absorbed since the dawn of Tarumanagara. The Cangkuang Hindu temple in Leles, Garut, dated from the 8th century was dedicated for Shiva and built during the Galuh kingdom. Buddhist influence probably made their way to West Java through the Srivijaya conquest, the empire dominated West Java until 11th century. The brick stupas in Batujaya is the evidence of Buddhist influence in West Java, while nearby Cibuaya sites show Hinduim influence.

The culture of Sunda kingdom was heavily centered on agricultural activity, especially rice cultivation. Naturally Nyi Sri Pohaci or Sanghyang Asri, the goddess of rice, is considered and revered as the main deity or the highest goddess within Sundanese pantheon. The priest was concerning about the religious ceremonies and the king with his subjects participated in annual ceremonies and festivals such as the blessing of the rice seeds ceremonies and harvest festival. The annual Seren Taun rice harvest festival still can be found today in traditional Sundanese communities.

According to Bujangga Manik manuscript, the courtly culture of Sunda kraton and its noble's etiquette in Pakuan Pajajaran was quite sophisticated and refined. However no traces and remains of palace or buildings survived in the former capital, probably because most were constructed from organic wooden materials and had decayed eversince.

There is continuous knowledge about the kingdom among Sundanese people that has been kept alive through Sundanese Pantun oral tradition, the chant of poetic verses mostly tells the story of the golden era of Sunda Pajajaran and the legend of King Siliwangi, the popular king of Sunda.

Most of the account and records of Sunda kingdom came from ancient manuscripts dated from later period, such as Wangsakerta, Carita Parahyangan, Kidung Sunda, Bujangga Manik, and Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara. Several stone inscriptions also mentioned the kingdom, such as Jayabupati, Kawali, and Batutulis.

Konon Prabu Siliwangi sering hadir di pura ini. Kehadirannya kadang dalam perwujudan seorang pemuda usia 16 atau 17 tahunan dengan penampilan seperti ksatria tempo dulu. Kadang beliau hadir dengan penampilan sebagai Raja yang berusia berkisar antara 50 atau 55 tahunan.

Ketika Prabu Siliwangi sedang hadir sering terjadi kejadian-kejadian aneh. Salah satunya yakni seorang pejiarah pernah kesurupan menjadi harimau. Dia meraung-raung dan mencakar-cakar seperti layaknya seekor harimau.

Banner Kanan
 
 
 
 
 

 
Banner Bawah

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU