NATURE WATER MOUNTAIN VOLCANO CAMP HIKE COMPUTER
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI

Sebuah candi yang dibangun pada sekitar abad XV terletak di lereng gunung Lawu di Wilayah Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah . Dari permukaan air laut, ketinggiannya sekitar 910 M. Berhawa sejuk dengan panorama yang indah. Kompleks Situs purbakala Candi Sukuh mudah dicapai dengan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat, dengan jarak 27 Km dari kota Karanganyar.

Situs purbakala Candhi Sukuh ini ditemukan oleh Residen Surakarta "Yohson" ketika masa penjajahan Inggris. Mulai saat itu banyak kalangan sarjana mengadakan penelitian Candhi Sukuh antara lain Dr. Van der Vlis tahun 1842, Hoepermen diteruskan Verbeek tahun 1889, Knebel tahun 1910, dan sarjana Belanda Dr. WF. Stutterheim. Untuk mencegah kerusakan yang semakin memprihatinkan, Dinas Purbakala setempat pernah merehabilitasi Candi Sukuh pada tahun 1917, sehingga keberadaan Candi Sukuh seperti kondisi yang kita lihat sekarang.

Candi Sukuh terdiri tiga tiga trap. Setiap trap terdapat tangga dengan suatu gapura. Gapura-gapura itu amat berbeda bila dibandingkan dengan gapura umumnya candi di Jawa Tengah, apa lagi gapura pada trap pertama. Bentuk bangunannya mirip candi Hindu dipadu dengan unsur budaya asli Indonesia yang nampak begitu kentara, yakni kebudayaan Megaliticum. Trap I Candi Sukuh menghadap ke barat. Seperti yang sudah diutarakan, trap pertama candi ini terdapat tangga. Bentuk gapuranya amat unik yakni tidak tegak lurus melainkan dibuat miring seperti trapesium, layaknya pylon di Mesir (Pylon : gapura pintu masuk ke tempat suci).

Pada sisi gapura sebelah utara terdapat relief "manusia ditelan raksasa" yakni sebuah "sengkalan rumit" yang bisa dibaca "Gapura buta mangan wong "(gapura raksasa memakan mansuia). Gapura dengan karakter 9, buta karakternya 5, mangan karakter 3, dan wong mempunyai karakter 1. Jadi candra sengkala tersebut dapat dibaca 1359 Saka atau tahun 1437 M, menandai selesainya pembangunan gapura pertama ini. Pada sisi selatan gapura terdapat relief raksasa yang berlari sambil menggigit ekor ular. Menurut KC Vrucq, relief ini juga sebuah sangkalan rumit yang bisa dibaca : "Gapura buta anahut buntut "(gapura raksasa menggigit ekor ular), yang bisa di baca tahun 1359 Seperti tahun pada sisi utara gapura.

Menaiki anak tangga dalam lorong gapura terdapat relief yang cukup vulgar. terpahat pada lantai. Relief ini menggambarkan phallus yang berhadapan dengan vagina. Sepintas memang nampak porno, tetapi tidak demikian maksud si pembuat. Sebab tidakmungkin di tempat suci yang merupakan tempat peribadahan terdapat lambang-lambang yang porno. Relief ini mengandung makna yang mendalam. Relief ini mirip lingga-yoni dalam agama Hindu yang melambangkan Dewa Syiwa dengan istrinya (Parwati).

Lingga-yoni merupakan lambang kesuburan. Relief tersebut sengaja di pahat di lantai pintu masuk dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena "suwuk". Boleh dikata relief tersebut berfungsi sebagai "suwuk" untuk "ngruwat", yakni membersihkan segala kotoran yang melekat di hati setiap manusia. Dalam bukunya Candi Sukuh Dan Kidung Sudamala Ki Padmasuminto menerangkan bahwa relief tersebut merupakan sengkalan yang cukup rumit yaitu : "Wiwara Wiyasa Anahut Jalu". Wiwara artinya gapura yang suci dengan karakter 9, Wiyasa diartikan daerah yang terkena "suwuk" dengan karakter 5, Anahut (mencaplok) dengan karakter 3, Jalu (laki-laki) berkarakter 1. Jadi bisa di temui angka tahun 1359 Saka. Tahun ini sama dengan tahun yang berada di sisi-sisi gapura masuk candhi.

Trap Kedua Trap kedua lebih tinggi daripada trap pertama dengan pelataran yang lebih luas. Gapura kedua ini sudah rusak, dijaga sepasang arca dengan wajah komis. Garapannya kasar dan kaku, mirip arca jaman pra sejarah di Pasemah. Di latar pojok belakang dapat dijumpai seperti jejeran tiga tembok dengan pahatan-pahatan relief, yang disebut relief Pande Besi. Relief sebelah selatan menggambarkan seorang wanita berdiri di depan tungku pemanas besi, kedua tangannya memegang tangkai "ububan"( peralatan mngisi udara pada pande besi). Barangkali maksudnya agar api tungku tetap menyala. Ini menggambarkan berbagai peristiwa sosial yang menonjol pada saat pembangunan candhi sukuh ini.

Pada bagian tengah terdapat relief yang menggambarkan Ganesya dengan tangan yang memegang ekor. Inipun salah satu sengkalan yang rumit pula yang dapat dibaca : Gajah Wiku Anahut Buntut, dapat ditemui dari sengkalan ini tahun tahun 1378 Saka atau tahun 1496 M. Relief pada sebelah utara menggambarkan seorang laki-laki sedang duduk dengan kaki selonjor. Di depannya tergolek senjata-senjata tajam seperti keris, tumbak dan pisau.

Trap Ketiga Trap ketiga ini trap tertinggi yang merupakan trap paling suci. Candhi Sukuh memang dibuat bertrap-trap semakin ke belakang semakin tinggi. Berbeda dengan umumnya candhi-candhi di di Jawa Tengah, Candi Sukuh dikatakan menyalahi pola dari buku arsitektur Hindu Wastu Widya. Di dalam buku itu diterangkan bahwa bentuk candhi harus bujur sangkar dengan pusat persis di tengah-tengahnya, dan yang ditengah itulah tempat yang paling suci. Sedangkan ikwal Candi Sukuh ternyata menyimpang dari aturan-aturan itu, hal tersebut bukanlah suatu yang mengherankan, sebab ketika Candi Sukuh dibuat, era kejayaan Hindu sudah memudar, dan mengalami pasang surut, sehingga kebudayaan asli Indonesia terangkat ke permukaan lagi yaitu kebudayaan prahistori jaman Megalithic, sehingga mau tak mau budaya-budaya asli bangsa Indonesia tersebut ikut mewarnai dan memberi ciri pada candhi Sukuh ini.

Karena trap ketiga ini trap paling suci, maka maklumlah bila ada banyak petilasan. Seperti halnya trap pertama dan kedua, pelataran trap ketiga ini juga dibagi dua oleh jalan setapa yang terbuat dari batu. Jalan batu di tengah pelataran candi ini langka ditemui di candi-candi pada umumnya. Model jalan seperti itu hanya ada di "bangunan suci" prasejarah jaman Megalithic.

Di sebelah selatan jalan batu, di pada pelataran terdapat fragmen batu yang melukiskan cerita Sudamala. Sudamala adalah salah satu 5 ksatria Pandawa atau yang dikenal dengan Sadewa. Disebut Sudamala, sebab Sadewa telah berhasil "ngruwat" Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru karena perselingkuhannya. Sadewa berhasil "ngruwat" Bethari Durga yang semula adalah raksasa betina bernama Durga atau sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya yang semula yakni seorang bidadari.di kayangan dengan nama bethari Uma Sudamala maknanya ialah yang telah berhasil membebaskan kutukan atau yang telah berhasil "ngruwat".

Adapun Cerita Sudamala diambil dari buku Kidung Sudamala. Sejumlah lima adegan yaitu : 1. Relief pertama menggambarkan ketika Dewi Kunti meminta kepada Sadewa agar mau "ngruwat" Bethari Durga namun Sadewa menolak. 2. Relief kedua menggambarkan ketika Bima mengangkat raksasa dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menancapkan kuku "Pancanaka" ke perut raksasa. 3. Relief ketiga menggambarkan ketika Sadewa diikat kedua tangannya diatas pohoh randu alas karena menolak keinginan "ngruwat" sang Bethari Durga. Dan sang Durga mengancam Sadewa dengan sebuah pedang besar di tangnnya untuk memaksa sadewa.. 4. Relief keempat menggambarkan Sadewa berhasil "ngruwat" sang Durga. Sadewa kemudian diperintahkan pergi kepertapaan Prangalas. Disitu Sadewa menikah dengan Dewi Pradapa 5. Relief kelima menggambarkan ketika Dewi Uma (Durga setelah diruwat Sadewa) berdiri di atas Padmasana. Sadewa beserta panakawan menghaturkan sembah pada sang Dewi Uma.

Pada pelataran itu juga dapat ditemui soubasement dengan tinggi 85 cm, luasnya sekitar 96 M². Ada juga obelisk yang menyiratkan cerita Garudeya. Cerita ikwal Garudeya merupakan cerita "ruwatan" pula. Ceritanya sebagai berikut : Garuda mempunyai ibu bernama Winata yang menjadi budak salah seorang madunya yang bernama dewi Kadru. Dewi Winata menjadi budak Kadru karena kalah bertaruh tentang warna ekor kuda uchaiswara. Dewi Kadru menang dalam bertaruh sebab dengan curang dia menyuruh anak-anaknya yang berujud ular naga yang berjumlah seribu menyemburkan bisa-bisanya di ekor kuda uchaiswara sehingga warna ekor kuda berubah hitam Dewi Winata dapat diruwat sang Garuda dengan cara memohon "tirta amerta" (air kehidupan) kepada para dewa. Demikianlah keterangan menurut kisah adhiparwa..

Pada sebelah selatan jalan batu ada terdapat candi kecil, yang di dalamnya terdapat arca dengan ukuran yang kecil pula. Menurut mitologi setempat, candi kecil itu merupakan kediaman Kyai Sukuh penguasa ghaib kompleks candi tersebut . Di dekat candi kecil terdapat arca kura-kura yang cukup besar sejumlah tiga ekor sebagai lambang dari dunia bawah yakni dasar gunung Mahameru, juga berkaitan dengan kisah suci agama Hindhu yakni "samudra samtana" yaitu ketika dewa Wisnu menjelma sebagai kura-kura raksasa untuk membantu para dewa-dewa lain mencari air kehidupan (tirta prewita sari). Ada juga arca garuda dua buah berdiri dengan sayap membentang. Salah satu arca garuda itu ada prasasti menandai tahun saka 1363. Juga terdapat prasasti yang menyiratkan bahwa Candi Sukuh dalam candi untuk pengruwatan, yakni prasasti yang diukir di punggung relief sapi. Sapi tersebut digambarkan sedang menggigit ekornya sendiri dengan kandungan sengkalan rumit : Goh wiku anahut buntut maknanya tahun 1379 Saka. Sengkalan ini makna tahunnya persis sama dengan makna prasasti yang ada di punggung sapi yang artinya kurang lebih demikian : untuk diingat-ingat ketika hendak bersujud di kayangan (puncak gunung), terlebih dahulu agar datang di pemandian suci. Saat itu adalah tahun saka Goh Wiku anahut buntut 1379. Kata yang sama dengan ruwatan di sini yaitu kata : "pawitra" yang artinya pemandian suci.

Karena kompleks Candi Sukuh tidak terdapat pemandian atau kolam pemandian maka pawitra dapat diartikan air suci untuk "ngruwat" seperti halnya kata "tirta sunya". Tempat suci untuk Pengruwatan , seperti yang sudah diutarakan, dengan bukti-bukti relief cerita Sudamala, Garudeya serta prasasti-prasasti, maka dapat di pastikan Candi Sukuh pada jamannya adalah tempat suci untuk melangsungkan upacara-upacara besar (ritus) ruwatan. Tetapi dengan melihat adanya relief lingga-yoni di gapura terdepan dan pada bagian atas candhi induk, tentulah candhi Sukuh juga sebagai lambang ucapan sukur masyarakat setempat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesuburan.yang mereka peroleh Sedangkan dilihat dari bentuk candi yang mirip dengan "punden berundak" tentulah candi ini merupakan tempat pemujaan roh-roh leluhur.

Bukti-bukti bahwa Candi Sukuh merupakan tempat untuk upacara pengruwatan yakni :


a. Relief lingga-yoni di gapura pertama selain berfungsi sebagai "suwuk" juga berfungsi untuk "ngruwat" siapa saja yang memasuki candi.
b. Relief Sudamala yang menceritakan Sadewa "ngruwat" sang Durga.
c. Relief Garudeya yang menggambarkan Garuda "ngruwat" ibunya yang bernama dewi Winata.
d. Prasasti tahun 1363 Saka dalam kalimat "babajang maramati setra hanang bango".
e. Prasasti tahun 1379 Saka di punggung lembu yakni kata "pawitra" yang berarti air suci (air untuk pengruwatan).

 

Sukuh Temple is located on the west side of Mount Lawu in Sukuh Hamlet of Berjo Village, Ngargoyoso Subdistrict, Karanganyar Regency in Central Java Province. The temple in constructed on an elevation of + 910 meters above sea level. This temple was discovered in damaged condition in 1815 by Johnson, then Resident of Surakarta during Raffles administration. Sukuh Temple was further investigated by Van der Vlis in 1842, the results of which were reported in Van der Vlis’ book entitled Prove Eener Beschrijten op Soekoeh en Tjeto. Further researching works were conducted by Hoepermans between 1864 and 1867, and were reported in a book entitled Hindoe Oudheiden van Java. In 1889, Verbeek performed inventory works on this temple, which was continued by Knebel and WF. Stutterheim through a research in 1910.

Sukuh is a Hindu temple, and was probably built in the end of the 15th century AD. Unlike that of typical Hindu temples in Central Java, the architecture of Sukuh Temple is considered to be departing from requirements stated in Wastu Widya, a guide book for constructing Hindu shrines. The book requires that a temple should be laid out on a square plan with the most sacred place located at the center. The deviation seems to be resulting from the fact that this temple was built when the influence of Hinduism was waning. The waning influence of Hinduism had given rise to the revival of local cultural practices of Megalithic era. The influence of this pre-historic era is seen in the shape of Sukuh temple structure, which is a terraced-mound. Such shape is similar to stepped-mound that is characteristic of pre-Hinduism shrines. Another characteristic of pre-Hinduism shrines is that the most sacred place is located on the highest and rearmost part.

Scholars argue that Sukuh Temple was built for purification rituals to repel or release evil power that affects the life of an individual for having particular special characteristics. The argument is founded on stories of purification rituals such as Sudamala and Garudheya depicted in the temple’s sculptures and on statues of turtle and garuda found in the temple.

Sukuh Temple compound is laid out on an area of 5,500 m2, comprising three terraces. Platform on each terrace is surrounded by stone wall 2 m high. At a glance, this temple looks like shrines belonging to the Maya in Mexico. The main and additional entrances that lead to each terrace and the main building face westward, which is different from typical Central Java temples that face eastward. The three terraces are split into two right in the middle by an arrangement of stone blocks that form a stairway to the next terrace’s entrance.

The gate to the first terrace is a paduraksa, a roofed-gate. The gate’s frame is embellished with long-bearded kala relief decoration. The wall on the north side of the gate is adorned with sculptures depicting a man running while biting a snake. According to K.C. Cruq, the sculptures symbolize Javanese year that reads gapura buta anahut buntut (giant gate biting a snake’s tail), representing the Javanese year of 1359 or 1437 AD, which is believed to be the year the temple’s construction was completed. Above the figure, there are sculptures of a flying human-like creature and a reptile.

The south side of the gate is adorned with sculptures of a figure swallowed by a giant. The sculptures also symbolize Javanese year that read gapura buta mangan wong or giant gate that eats a man. The symbol is interpreted as the Javanese year of 1359 or 1437 AD, the same as that on the north side of the gate. The outer wall of the gate is also embellished with sculptures of a pair of birds nestling on a tree, overlooking a dog and a garuda spreading its wings with a snake clasped in its claws. On the front court outside the gate, there is a pile of stones in various shapes; some have holes like pedestal, and some others like water jug.

The floor inside the entrance gate is embellished with sculptures of phallus and vagina that nearly touch each other. The sculptures represent the unity between lingga (female genital organ) and yoni (male genital organ), a symbol of fertility. Today railings are placed around the sculptures, making it difficult to pass through the gate. To access the first terrace, visitors use a stairway next to the gate. It is believed that the sculptures serve as a suwuk (magic spell or medication) to purify (to heal and release) any dirt that reside in the heart. That is why the sculptures are engraved on the floor in the entrance gate. People will pass through them, and, therefore, any dirt sticking on their body will be cleansed.

Above the gate frame and facing the first terrace platform, there is Kalamakara ornament which is already badly damaged. The north and south walls have sculptures of men holding a weapon in squatting position.

Platform on the first terrace, which is not wide, is split by stone blocks that form a walkway to the second terrace. To the north, there are stone panels that are placed in a row. The first panel carries sculptures of a man on a horseback escorted by spearmen. Next to the horse is a man walking and carrying an umbrella. The second panel is engraved with sculptures of a pair of cows, while the third panel carries sculptures of a man riding an elephant. To the south of the platform, there are piles of stone blocks in various shapes and a number of linggas.

To the northeast or the rear part of platform on the second terrace, there is a 'bentar' gate (gate without roof) flanking a stairway that leads to the third terrace. No sculptures or ornaments are found on the walls of this gate. This relatively small platform has neither statues nor relief. To the east or the rear section, there is another 'bentar' gate flanking a stairway to the third terrace. This gate is in heavily damaged condition. Pair of Dwarapala statues, which are already worn-out, are placed in front of the gate. These two gate-guarding statues are roughly carved, with awkward and barely fearsome look, and they even look comical.

The third and highest terrace is the most sacred place.

Its platform is split into two sections, north and south, by a stone walkway that leads to a shrine on the back of the terrace. This platform has many statues and sculptured stone panels. To the north, or the front section of the platform, there are 3 statues of winged man with the head of a garuda in standing position, wings spread. Only one of the three is still intact. The other two are headless. Inscriptions are found on one of the garuda statues dated in the Javanese year of 1363 or 1441 AD and 1364 or 1442 AD. To the north, there is a row of stone panels, each with ornaments of elephant and cow sculptures.

In front of the main building, slightly to the south, there is a stone post carrying a passage of Garudheya myth. The upper part of the left corner contains inscriptions written in Kawi that read “Padamel rikang buku tirta sunya” symbolizing the Javanese year of 1361. Garudheya is the name of a Garuda, an adopted child of Dewi Winata. The goddess has a sister Dewi Kadru who is also her husband’s other wife. Dewi Kadru rears several adopted children, who are snakes. Dewi Winata loses in a bet against

Dewi Kadru, so she becomes a slave to Dewi Kadru and her children. Garudheya finds Tirta Amerta (the water of life) that is required in the purification to set her mother free from the slavery. Relief telling Garudheya story can also be found on Kidal Temple in East Java, which was built by Anusapati to purify his mother Ken Dedes.

These stone panels hold relief of stories adapted from Kidung Sudamala. Sudamala tells about Sadhewa, one of the five brothers of Pandawa, who manages to free Dewi Uma, the wife of Bathara Guru, from a curse. Dewi Uma was cursed by her husband because she cannot restrain her anger after her husband asks her for sexual intercourse at a time she considers to be inappropriate. For her furious anger, the goddess is cursed to be a giant called Bathari Durga. Bathari Durga, pretending to be Dewi Kunthi, the mother of Pandawa, sees Sadewa and asks the knight to purify her. The story is narrated in five relief panels.

The first panel depicts Dewi Kunti approaching her son, Sadewa, to ask him to 'purify' (remove curse) Bathari Durga. The second panel shows Bima, the elder brother of Sadewa, engaging in a fight against a giant. Bima’s left hand lifts the giant, while right one piercing the opponent’s belly using his Pancanaka nail (Bima’s powerful weapon).

The third panel describes Sadewa, who refuses to 'purify Bathari Durga, is tied in a tree. Bathari Durga stands in front of him, threatening with a sword.

The fourth panel tells the marriage between Sadewa and Dewi Pradhapa, who is gifted to him for 'purifying' Bathari Durga. The fifth panel shows Sadewa and his accompaniment appears before Dewi Uma, who he has already purified.

A small shrine with small statue inside is placed on the porch to the south of the stone. According to local mythology, the shrine represents the residency of Kyai Sukuh, who is the mana of Temple Sukuh.

In front of the main building there are three big-sized tortoise statues. The statues, Tortoise, which can also be found in Cetha temple, symbolize the under world, i.e. the foot of mount Mahameru.

The main building is trapezium, laid out on a 15 m2 wide plan and standing 6 m high. On the west side of the building, right in the center, there is a narrow and steep stair

leading to the roof. It seems that the remaining building is the temple’s platform, while the temple itself was made of wood. The assumption is founded on the presence of some stone pedestals on that platform. In the middle of platform there is a lingga, of which the pair (the linga) is kept in National Museum, Jakarta.

Preservation efforts of Sukuh temple have been conducted since the Dutch era. The first restoration works were carried out by the Archaeological Agency in 1917. The

second were organized in the 1970s by the Department of Education and Culture.

1. Bus Jur.  Solo - Tawangmangu turun di Karangpandan.
2. Bus Kecil
3. Ojek

Ikwal upacara "ngruwat" yang dipaparkan di sini sudah barang tentu berbeda dengan upacara ruwatan pada jaman sekarang yang biasanya dilakukan oleh seorang dalang sejati. Yang sering di sebut dalam masyarakat jawa dalang Kandha Buwana. Dan ada anak yang diruwat pun mempunyai "sukerta" karena posisinya dalam keluarga misalnya: anak ontang-anting, uger-uger lawang, kembang sepasang,kedhana kedhini, sendhang kapit pancuran. Pancuran kapit sendang dan sebagainya; juga karena kebiasaan sehari-hari yang tidak kita sadari misalnya: menjatuhkan "dandang" (tanakan nasi), membuang sampah dari jendela,berjalan seorang diri diwaktu siang hari bolong, atau karena bawaan sejak lahir misalnya gondang-kasih, bungkus, kalung usus; atau karena waktu kelahirannya misalnya julung serap, julung wangi dan sebagainya. Anak-anak yang mempunyai sukerta ini diruwat oleh dalang sejati agar terbebas dari incaran Bethara Kala.

Yang dimaksud ruwat di candi Sukuh jelaskah berbeda dengan ruwatan anak-anak sukerta. tersebut diatas, tetapi ruwatan yang melingkupi sebuah masyarakat dan berbagai permasalahan yang melilit kehidupan mereka. Namun di sini perlu kita cermati keberadaan candhi Sukuh ini yang merupakan tempat peribadahan yang suci yang menjadi saksi atas ketaatan sebuah generasi dan keutuhan sebuah masa yang begitu mengagungkan nilai-nilai kebudayaan dan peribadahan menjadi satu dalam wujud karya yang tiada ternilai harganya, maka picik bagi kita sebagai generasi pewaris bila tak ada niatan dalam hati kita untuk turut berbagi dalam upaya pelestarian nilai-nilai dan kandungan yang tersimpan di dalamnya.


New Page 1
 
 
 
 
 

 
Toko Buku Online
 
 
 
New Page 1

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU