MERBABU.COM Pendakian Gunung Merapi Merbabu Jawa Tengah
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI
 

Sejarah mencatat Borobudur adalah candi terbesar yang pernah dibangun untuk penghormatan terhadap sang Buddha. Bayangkan luas bangunannya saja sampai 14.000m persegi dengan ketinggian hingga 35,29 m.

Sebuah prasasti Cri Kahulunan yang berasal dari abad IX (824 Masehi) yang di teliti oleh Prof Dr J.G. Casparis, mengungkap silsilah tiga Wangsa Syailendra yang berturut-turut berkuasa pada masa itu, yakni Raja Indra, putranya Samaratungga. Kemuadian, putrinya yang bernama Samaratungga Pramodawardhani. Dalam prasasti ini ditemukan sepenggal kalimat yang berbunyi : Kamulan I Bhumisambharabudhara.

Pada waktu Raja Samaratungga berkuasa mulailah dibangun candi yang bernama : Bhumisam-Bharabudhara. Kata kamulan berasal dari kata sansekerta mula yang berarti akar, asal, tempat suci atau dapat juga diartikan sebabgai kuil nenek moyang. Sedang kata Bhumisambharabudhara diduga berarti timbunan tanah, bukit atau tingkat-tingkat bangunan yang di identikan dengan sebutan vihara kamulan I Bhumisambharabudhara, yang mempunyai arti sebuah vihara nenek moyang dair dinasti Syailendra di daerah perbukitan.

Letak candi ini memang diatas perbukitan yang terletak di Desa Borobudur, Mungkid, Magelang atau 42 km sebelah laut kota Yogyakarta. Dikelilingi bukit manoreh yang membujur dari arah timur kebarat. Sementara disebelah timur terdapat Gunung Merapi dan Merbabu, serta di sebelah barat ada Gunung Sindoro dan Sumbing.

Dibutuhkan tak kurang dari 2 juta balok batu andesit atau setara dengan 50.000 meter persegi untuk membangun candi Borobudur ini. Berat keseluruhan candi ini sekitar 3,5 juta ton.
Seperti umumnya bangunan candi, Borobudur memiliki 3 bagian bangunan, yaitu kaki, badan dan tas. Bangunan kaki disebut kamadhatu, yang menceritakan tentang kesadaran yang dipenuhi dengan hawa nafsu dan sifat-sifat kebinatangan. Pada bagian teras kamadhatu terdapat relief karmawibhangga yang berjumlah 160 panel yang semuanya ditutup oleh batur kaki candi yang sekarang. Kecuali pada bagian sudut tenggara, masih ditampakkan beberapa panel sebagai bukti adanya relief karmawibhangga. yang merupakan teks Buddhis yang menggambarkan berlakunya hukum sebab akibat (karma) serta perbuatan baik dan buruk.

Kemudian Rupadhatu, yang bermakna sebuah tingkatan kesadaran manusia yang masih terikat hawa nafsu, materi dan bentuk. Sedangkan Aruphadatu yang tidak lagi terikat dengan hawa nafsu, materi dan bentuk digambarkan dalam bentuk stupa induk yang kosong. Hal ini hanya dapat dicapai dengan keinginan dan kekosongan.

In Indonesian, ancient temples are known as candi; thus "Borobudur Temple" is locally known as Candi Borobudur. The term candi is also used more loosely to describe any ancient structure, for example gates and bathing structures. The origins of the name Borobudur however are unclear, although the original names of most ancient Indonesian temples are no longer known. The name Borobudur was first written in Sir Thomas Raffles' book on Javan history. Raffles wrote about a monument called borobudur, but there are no older documents suggesting the same name.The only old Javanese manuscript that hints at the monument as a holy Buddhist sanctuary is Nagarakretagama, written by Mpu Prapanca in 1365.

The name Bore-Budur, and thus BoroBudur, is thought to have been written by Raffles in English grammar to mean the nearby village of Bore; most candi are named after a nearby village. If it followed Javanese language, the monument should have been named 'BudurBoro'. Raffles also suggested that 'Budur' might correspond to the modern Javanese word Buda ("ancient") – i.e., "ancient Boro". However, another archaeologist suggests the second component of the name (Budur) comes from Javanese term bhudhara (mountain).

The references about the construction and inauguration of a sacred buddhist building — possibly refer to Borobudur — was mentioned in two inscriptions, both discovered in Kedu, Temanggung Regency. The Karangtengah inscription dated 824 mentioned vaguely about a sacred building named Jinalaya (the realm of those who have conquer worldly desire and reach enlightenment) inaugurated by Pramodha wardhani daughter of Samara tungga. The Tri Tepusan inscription dated 842 mentioned about the sima (tax-free) lands awarded by Įrī Kahulunnan (Pramodhawardhani) to ensure the funding and maintenance of a Kamūlān called Bhūmi sambhāra. Kamūlān itself from the word mula which means 'the place of origin', a sacred building to honor the ancestors, probably the ancestors of the Sailendras. Casparis suggested that Bhūmi Sambhāra Bhudhāra which in Sanskrit means "The mountain of combined virtues of the ten stages of Boddhisattvahood", was the original name of Borobudur

 

1. Bus Jur.  Yogyakarta - Semarang turun di terminal kota Muntilan. Dari Muntilan naik bus jurusan Borobudur.

 

Banner Kanan
 
 
 
 
 

 
 
Banner Bawah

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU