NATURE WATER MOUNTAIN VOLCANO CAMP HIKE COMPUTER
Website in English Website in Nederlands Website Bahasa Indonesia Nature Lovers and Climbers List Photo gallery the Albums of Nature blog merbabu Mailling List Yahoo groups Merbabu Community groups in Facebook Guestbook of Nature Lovers
MENU KIRI

 

Kawasan Wisata Situgunung berjarak sekitar 70 km/1,5 jam dari Bogor dan berada di bagian Selatan taman nasional gunung gede Pangrango, dekat Sukabumi (diusahakan oleh Perum Perhutani). Assesibilitas cukup baik dan pada musim libur kawasan wisata ini cukup ramai dikunjungi.

Di Situgunung telah tersedia beberapa sarana penginapan dan telah direncanakan pembangunan fasilitas baru. Jadi para pengunjung bisa bermalam di sana. Situgunung (bahasa Sunda) berarti danau di pegunungan. Hamparan air yang tergenang tenang seluas 10 ha ini tersaji bagi anda yang berkunjung ke tempat sunyi ini. Danau dan tempat-tempat di seldtamya memiliki makna religi. Pembentukan tempat ini dilatarbelakangi oleh sejumlah kisah.

Di sini terdapat dua air terjun, yaitu Curug Cimanaracun yang letaknya sangat dekat dengan danau dan Curug Sawer yang merupakan air terjun terbesar di Taman Nasional. Curug Sawer dapat dikunjungi dengan berjalan sejauh 2 km. Kompleks danau terpisah dari kawasan utama Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan jalan setapak menuju Curug Sawer melewati hutan tanaman. Areal Situgunung sangat baik untuk pengamatan burung, juga baik sebagai tempat untuk mengamati bajing, tupai, surili dan owa.

Kadang-kadang kehidupan nyata menyatu dengan legenda, seperti halnya cerita seorang pemimpin terkenal seorang anak dari raja Mataram yaitu Mbah Jalun. Beliau telah memimpin perlawanan menghadapi Belanda dengan sengit dan cukup lama pada awal pertengahan abad XIX.

Setelah mengalami hidup berpindah pindah, beliau membangun sebuah persembunyian di daerah Cianjur. Menurut cerita, beliau sering menyusuri hutan di Gunung Gede Pangrango untuk menghindari penyergapan. Pada beberapa peristiwa beliau pemah tertangkap dan nyaris tewas, tetapi secara ajaib dapat meloloskan diri dengan ilmu mistik yang kuat yang dimilikinya. Sewaktu-waktu beliau terlihat duduk dengan khidmat di lereng Selatan pegunungan. Tempat tersebut kemudian dinamakan Gunung Masigit yang merupakan puncak terendah di taman nasional. Nama gunung ini diberikan sesuai dengan kepercayaan bahwa Mbah Jalun pemah membangun sebuah mesjid di sana.

Menurut cerita tradisional, kelahiran anak laki-lakinya mendorong beliau untuk bermukim di sebuah tempat yang tetap bagi generasi penerusnya, maka pada tahun 1817 beliau membangun sebuah danau yaitu Situgunung yang berada di lereng Selatan taman nasional yang kini populer sebagai tempat rekreasi. Pada usianya yang lanjut, Mbah Jalun pemah tertangkap oleh Belanda namun beliau memberi perlawanan sehingga berhasil meloloskan diri dan berlari ke arah Barat. Kehidupan yang keras telah merenggut jiwanya, beliau meninggal dunia beberapa bulan kemudian pada usia 71 tahun dan dikebumikan di Kampung Baru dekat Bogor sekitar tahun 1840.

 

Offering really fresh air, Situgunung in West Java is a favorite place for many activities, from camping with five-star facilities to far greater challenges!

Situgunung lies hidden in a valley between hills at 1023 meters above sea level, within the precincts of Gunung Gede Pangrango National Park and near two inactive volcanoes whose watershed provides the main water supply for Jakarta and Bogor.

The word situ means "lake", referring to the lake created by the eruption of Mount Pangrango, while gunung means "mountain". So, based on its geographical location, it's called Situgunung – a lake between mountains.

Situgunung can be reached by road in only three hours (under normal conditions) from Jakarta, via Ciawi and the main road toward Sukabumi. But you need to plan your travel time carefully, as you pass through several congested spots on the road to Sukabumi and in Cisaat.

Situgunung is the oldest tourism destination in West Java and a perfect location for camping. Much of the area is full of large trees, providing the natural cool that visitors crave.

Part of the area is commercially managed as a tourism site by the state-owned forestry company, Perum Perhutani. Visitors can choose camping sites from among those provided by Perhutani and others outside this area.

Mount Gede Pangrango National Park is a national park in West Java, Indonesia. The park is centred on two volcanoes—Mount Gede and Mount Pangrango— and is 150 km˛ in area.

It evolved from already existing conservation areas, such as Cibodas Nature Reserve, Cimungkat Nature Reseve, Situgunung Recreational Park and Mount Gede Pangrango Nature Reserve, and has been the site of important biological and conservation research over the last century In 1977 UNESCO declared it part of the World Network of Biosphere Reserves.

Visitors usually enter the park by one of the four gates of the park: the Cibodas, Gunung Putri, and Selabintana gates, all give access to the peaks; the Situ Gunung gate gives entrance to a lake area set aside mainly for family-style recreation. Cibodas gate is the most popular entrance gate and is the site of the park's headquarters. From Jakarta, the area is two hours drive, usually via Cibodas Botanical Gardens.

Gunung Gede-Pangrango is inhabited by 251 of the 450 bird species found in Java. Among these are endangered species like the Javan Hawk-eagle and the Javan Scops Owl.

Among the endangered mammal species in the Park there are several primates such as the Silvery Gibbon, Javan Surili and Javan Lutung. Other mammals include Leopard, Leopard Cat, Indian Muntjac, Java Mouse-deer, Dhole, Malayan Porcupine, Sunda Stink Badger, and Yellow-throated Marten

Mount Gede (2,958 m) and Pangrango (3,019 m) are twin volcanoes. The two summits are connected by a high saddle known as Kandang Badak (2,400 m). The mountain slopes are very steep and are cut into rapidly flowing stream, which carve deep valleys and long ridges.

Lower and upper montane and subalpine forests are within the park and have been well studied. To the north of Mount Gede is a field of Javanese Edelweiss (Anaphalis javanica). The park contains a large number of species known to occur only within its boundaries, however, this may be a result of the disproportionate amount of research over many years.

Gunung Gede-Pangrango National Park, designated in 1980, is one of the first five national parks in Indonesia. However, its unique characteristics have made it a natural laboratory for researchers since long before this time.

In 1819, C.G.C Reinwardt was recorded as the first person to climb Gunung (Mount) Gede, followed by F.W Junghuhn (1839-1861), J.E Teysman (1839), A.R Wallace (1861), S.H Koorders (1890), M. Treub (1891), W.M van Leeuen (1911), and C.G.G.J. van Steenis in 1920 and 1952. They made a collection of plants which formed the basis for a book entitled "The Mountain Flora of Java", published in 1972.

UNESCO declared Gunung Gede-Pangrango National Park a Biosphere Reserve in 1977, and it is a Sister Park to Taman Negara Malaysia, under a cooperation signed in 1995 between Indonesia and Malaysia.

This Park is surrounded by ancient superstitions and beliefs. Legend has it that the spirits of Eyang Suryakencana and Prabu Siliwangi guard Mt. Gede to keep it from erupting. Even now, at certain times of the year, people flock to the caves around Mt. Gede to meditate or hold ritual ceremonies.

Dari Bogor bisa naik bis jurusan Sukabumi sampai Cisaat. Dari Bandung atau Cibodas, melalui Cianjur ke Sukabumi. Dari terminal Sukabumi naik angkutan kota sampai Cisaat. Di Cisaat ganti kendaraan dengan angkutan kota menuju Situgunung (10 km).

Curug sawer yang berada dekat dengan Situgunung, berasal dari kata curug dalam bahasa sunda yang artinya air terjun, dan sawer merupakan upacara tradisional melempar beras dan uang pada pengantin baru. Konon jika Anda mandi di air terjun ini, anda akan segera menikah dan awet muda.

New Page 1
 
 
 
 
Lazada Indonesia

 
Toko Buku Online
 
 Secret Lighting
 
 Rekam Jejak Pendakian ke-44 Gunung di Nusantara
 
New Page 1

HOME  -  ARTIKEL  JAWA BARAT  -  JAWA TENGAH  -  JAWA TIMUR  -  LUAR JAWA -  DAFTAR PUSTAKA  EMAIL MERBABUCOM  -  BUKU TAMU